Film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis yang diadaptasi dari lagu “Runtuh” mengisahkan tentang kondisi keterasingan yang dialami Tari. Konflik batin yang dialami Tari dianalisis menggunakan pendekatan psikologi sastra Erich Fromm karena teori tersebut membahas tentang keterasingan yang dialami individu sehingga relevan dengan konflik batin yang dialami tokoh Tari. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk keterasingan yang dialami Tari dalam film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis menggunakan pendekatan psikologi sastra Erich Fromm. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan menggunaka teknik simak dan catat untuk memahami alir cerita dari film dan mencatat dialog ataupun adegan yang berkaitan dengan konflik batin keterasingan yang dialami Tari. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan tiga langkah, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat tiga bentuk konflik batin keterasingan yang dialami Tari sesuai dengan kajian pendekatan psikologi sastra Erich Fromm, yaitu keterasingan dari diri sendiri karena Tari selalu berbohong dengan dirinya sendiri dan kesulitan mengungkapkan ekspresi emosionalnya, keterasingan dari orang lain karena Tari selalu kesulitan mengungkapkan pendapat karena sering tidak diberikan ruang dalam mengutarakan pendapatnya sehingga Tari merasa kurang dihargai, dan keterasingan dari masyarakat karena Tari merasa kurang dihargai di masyarakat khususnya di kantor karena penampilannya yang tidak mengikuti perkembangan zaman.