Adinda Samihah Salma
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Deiksis Waktu dan Tempat dalam Percakapan di Channel YouTube Najwa Shihab pada Segmen “Poin Penting Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Media” Adinda Samihah Salma; Cici Juvian; Annisa Nur Baety; Dase Erwin Juansah; Dodi Firmansyah
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2584

Abstract

Penelitian ini menganalisis penggunaan deiksis waktu dan tempat dalam dialog antara Presiden Prabowo Subianto dan para pemimpin media yang ditayangkan pada kanal YouTube Najwa Shihab. Bahasa dalam komunikasi publik sangat dipengaruhi oleh konteks, dan deiksis berperan penting dalam mengaitkan ujaran dengan acuan situasional. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, peneliti mengumpulkan data melalui teknik observasi dan pencatatan, dengan fokus pada identifikasi bentuk-bentuk deiksis berdasarkan teori pragmatik. Hasil analisis menemukan 28 kemunculan deiksis, terdiri atas 9 deiksis waktu dan 19 deiksis tempat. Deiksis tempat muncul lebih dominan, menunjukkan bahwa penutur sangat bergantung pada ekspresi lokasi dan posisi-baik secara literal maupun metaforis-untuk membingkai pesan politik, menegaskan otoritas, dan mengarahkan interpretasi pendengar terhadap suatu peristiwa. Deiksis waktu berfungsi untuk menempatkan peristiwa dalam kerangka waktu, menyoroti urgensi, dan menjaga koherensi naratif.Temuan ini menunjukkan bahwa deiksis digunakan secara strategis dalam komunikasi politik untuk memperkuat tujuan retorika, membentuk persepsi publik, dan memperjelas makna kontekstual. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap kajian pragmatik dengan menghadirkan wawasan mengenai bagaimana deiksis bekerja dalam wacana publik berintensitas tinggi yang disebarluaskan melalui media digital. Namun, penelitian ini terbatas pada satu video YouTube dan hanya menelaah dua jenis deiksis, sehingga temuan belum dapat digeneralisasi pada seluruh konteks komunikasi politik. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi jenis deiksis lainnya atau membandingkan penggunaan deiksis pada berbagai penutur, platform, atau format media guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif.