Fenomena meningkatnya penggunaan gaya berbahasa tidak santun di kalangan mahasiswa cenderung menimbulkan kemerosotan nilai-nilai karakter dan buruknya interaksi mahasiswa di lingkungan akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memicu kecenderungan penggunaan gaya berbahasa tidak santun, menganalisis dampak buruk terhadap karakter mahasiswa dan merumuskan strategi pembentukan karakter melalui pembelajaran bahasa. Menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengkaji berbagai literatur yang membahas teori kesantunan, perilaku linguistik mahasiswa, dan pendidikan karakter dalam konteks pendidikan tinggi. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan gaya berbahasa seperti "anjir", "bullshit", "elu-gue", dan bentuk-bentuk ekspresi slang lainnya dipengaruhi oleh pengaruh budaya populer, media digital, serta kurangnya pembelajaran eksplisit tentang etika berbahasa. Ketidaksantunan dalam komunikasi terbukti melemahkan nilai-nilai moral seperti empati dan rasa hormat, serta menciptakan ketimpangan sosial di lingkungan kampus. Untuk mengatasi hal tersebut, artikel ini mengusulkan strategi pembentukan karakter melalui kesadaran linguistik yang terintegrasi dalam kurikulum pendidikan tinggi, termasuk pelatihan komunikasi berbasis konteks, integrasi nilai dalam literasi digital, dan pembelajaran teori kesantunan. Penelitian ini menawarkan kontribusi konseptual dengan mengintegrasikan pembelajaran bahasa dan karakter sebagai upaya transformatif dalam membentuk etika komunikasi mahasiswa di era modern.