Masda Surti Simatupang
Universitas Kristen Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Identifying and Categorizing The Different Types of References Used in All The World’s A Stage By William Shakespeare Ninda Prabawati; Masda Surti Simatupang
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 10 No. 1 (2023): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v10i1.5073

Abstract

Reference is an important aspect of the learning process, especially in analyzing discourse, both in the forms of scientific texts and literary works such as drama, prose, and poetry. Two concepts of reference are used: the kinds of referents and ways of referring. Kinds of referents include unique or non-unique, concrete or abstract, and countable or non-countable referents. Meanwhile, the ways of referring include a generic or non-generic, specific or non-specific, and definite or indefinite reference. These two concepts are used to identify and categorize referents in the poem “All the World’s a Stage” by William Shakespeare. Categorizing referents can help reveal some of the referents used by Shakespeare in the poem. Analyzing references in poetry can enrich understanding in analyzing literary works more deeply. Even so, the results of each researcher’s analysis may differ depending on how each individual interprets the poem.
BAHASA SEBAGAI ANUGERAH TUHAN DAN IDENTITAS BANGSA Ramot Peter; Masda Surti Simatupang
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 11 No. 1 (2024): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v11i1.6025

Abstract

Bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, baik sebagai alat berkomunikasi dengan Tuhan dan sesama maupun sebagai alat pemersatu bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami konsep bahasa sebagai anugerah Tuhan dan peran bahasa dalam membentuk identitas suatu bangsa serta pandangan kebangsaan tentang bahasa sebagai alat pemersatu di tengah keberagaman. Masyarakat Indonesia terkenal dengan keberagaman yang merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang tak dapat terelakan. Salah satu keberagaman yang menjadi identitas bangsa yaitu bahasa. Peran bahasa sering terabaikan karena dianggap tidak berpengaruh langsung pada pembangunan di era moderen. Permasalahan tersebut tidak boleh dibiarkan karena bahasa sebagai alat pemersatu dan kekayaan yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa bagi bangsa Indonesia. Pembahasan dalam artikel ini menggunakan metode kajian studi pustaka membahas fenomena yang terjadi berdasarkan kajian-kajian ilmiah yang telah ada dengan cara membaca, mencatat, dan mengolah bahan-bahan penelitian yang telah dipublikasi sebelumnya baik berupa buku, artikel jurnal, maupun teks lainnya. Artikel ini menjelaskan keberagaman bahasa (bahasa-bahasa daerah) sebagai kekayaan yang dianugerahkan Tuhan kepada bangsa Indonesia, serta menjelaskan bahasa nasional (bahasa Indonesia) sebagai identitas bangsa Indonesia dan alat pemersatu di tengah keberagaman masyarakat dalam aspek etnik, suku dan budaya yang berbeda.
PERAN MODERASI BERAGAMA DALAM MENJAGA HARMONI KEBERAGAMAN BAHASA Ramot Peter; Masda Surti Simatupang
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 11 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v11i2.6510

Abstract

Abstrak Keberagaman bahasa di Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang mencerminkan kekayaan budaya, namun juga menjadi tantangan dalam menjaga harmoni sosial. Artikel ini membahas bagaimana keberagaman bahasa dapat memicu konflik jika tidak dikelola dengan baik, seperti munculnya bias kelompok (in-group favoritism), kebijakan bahasa yang tidak sensitif terhadap minoritas, serta stereotip dan prasangka antar kelompok. Dampak buruk dari konflik ini meliputi segregasi sosial, ketegangan horizontal, dan ancaman terhadap pelestarian bahasa daerah. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan pendekatan yang holistik, meliputi pendidikan multikultural untuk menanamkan nilai toleransi sejak dini, kebijakan bahasa yang inklusif yang menghormati keberagaman, serta dialog lintas budaya untuk membangun pemahaman bersama. Artikel ini menyoroti peran moderasi beragama sebagai pendekatan strategis untuk menjaga keberagaman bahasa agar menjadi elemen pemersatu. Moderasi beragama dapat diterapkan melalui pendidikan berbasis multikultural, kebijakan pemerintah yang menghargai keberagaman, serta pemanfaatan media sosial untuk menyebarkan pesan-pesan toleransi. Dengan nilai-nilai moderasi seperti toleransi, keseimbangan, dan penghormatan terhadap perbedaan, keberagaman bahasa dapat menjadi kekuatan yang mempererat kohesi sosial dan membangun masyarakat yang inklusif, harmonis, dan toleran. Artikel ini memberikan kontribusi teoretis dan praktis terhadap pengelolaan keberagaman bahasa dalam perspektif moderasi beragama. Kata kunci: Keberagaman Bahasa, Konflik Sosial, Moderasi Beragama, Pendidikan Multikultural.
PEMBELAJARAN BAHASA SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER BERBAHASA SANTUN MAHASISWA Masda Surti Simatupang; Ramot Peter
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 12 No. 1 (2025): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v12i1.7055

Abstract

Fenomena meningkatnya penggunaan gaya berbahasa tidak santun di kalangan mahasiswa cenderung menimbulkan kemerosotan nilai-nilai karakter dan buruknya interaksi mahasiswa di lingkungan akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memicu kecenderungan penggunaan gaya berbahasa tidak santun, menganalisis dampak buruk terhadap karakter mahasiswa dan merumuskan strategi pembentukan karakter melalui pembelajaran bahasa. Menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengkaji berbagai literatur yang membahas teori kesantunan, perilaku linguistik mahasiswa, dan pendidikan karakter dalam konteks pendidikan tinggi. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan gaya berbahasa seperti "anjir", "bullshit", "elu-gue", dan bentuk-bentuk ekspresi slang lainnya dipengaruhi oleh pengaruh budaya populer, media digital, serta kurangnya pembelajaran eksplisit tentang etika berbahasa. Ketidaksantunan dalam komunikasi terbukti melemahkan nilai-nilai moral seperti empati dan rasa hormat, serta menciptakan ketimpangan sosial di lingkungan kampus. Untuk mengatasi hal tersebut, artikel ini mengusulkan strategi pembentukan karakter melalui kesadaran linguistik yang terintegrasi dalam kurikulum pendidikan tinggi, termasuk pelatihan komunikasi berbasis konteks, integrasi nilai dalam literasi digital, dan pembelajaran teori kesantunan. Penelitian ini menawarkan kontribusi konseptual dengan mengintegrasikan pembelajaran bahasa dan karakter sebagai upaya transformatif dalam membentuk etika komunikasi mahasiswa di era modern.