Sugiono
Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surkarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MANFAAT ULTRASOUND THERAPY DAN MOBILISASI SARAF TEKNIK ULTT 1 PADA KASUS CARPAL TUNNEL SYNDROME : STUDI KASUS: MANFAAT ULTRASOUND THERAPY DAN MOBILISASI SARAF TEKNIK ULTT 1 PADA KASUS CARPAL TUNNEL SYNDROME : STUDI KASUS Sri Fitri Purnawati; Sugiono; Aditya Johan Romadhon
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 2 No. 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v2i3.57

Abstract

Background: Carpal Tunnel Syndrome (CTS) is a common problem in the upper extremities caused by compression of the median nerve that passes through the carpal tunnel at the wrist. If the median nerve is compressed or pinched, it will cause tingling, numbness, and sometimes pain in the part affected by the nerve. To overcome this problem, physiotherapy procedures were carried out in the form of ultrasound and ULTT 1 nerve mobilization. Objective: to determine the benefits of ultrasound and ULTT 1 nerve mobilization in CTS cases. Method: This research is a case study, patients diagnosed with CTS were given therapy using modalities in the form of ultrasound and ULTT 1 nerve mobilization with 5 repetitions for 2 sessions totaling 3 times. Results: The results obtained from measuring the functional ability of the hand were from 20% (minimum disability) to 16% (minimum disability). Conclusion: after physiotherapy was carried out on Mrs. K, 53 years old, diagnosed with carpal tunnel syndrome using ultrasound modality and ULTT 1 nerve mobilization, found an increase in hand functional ability using WHDI from 20% (minimum disability) to 16% (minimum disability).
KORELASI DURASI DUDUK TERHADAP TERJADINYA NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Ikhsan Mahara -; Sugiono; Herdianty Kusuma
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v3i1.61

Abstract

Latar belakang: Pelajar menghabiskan waktu atau melakukan kegiatan dalam posisi duduk yang lama. Duduk di kursi selama 8 jam atau lebih dapat meningkatkan ketegangan pada otot punggung. Ketegangan otot menjadi salah satu penyebab risiko terhadap timbulnya penyakit salah satunya adalah nyeri punggung bawah. Nyeri punggung bawah merupakan masalah kesehatan yang umum dialami oleh pelajar karena pola duduk yang tidak ergonomis dan minimnya aktifitas fisik, oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya resiko nyeri punggung bawah terutama durasi duduk. Tujuan: Mengetahui korelasi durasi duduk                        terhadap terjadinya nyeri punggung bawah pada siswa sekolah menengah pertama, dengan memahami hubungan ini, diharapkan dapat mengambil langkah-langkah preventif untuk mengurangi risiko terjadinya nyeri punggung bawah pada pelajar, seperti dengan memperhatikan durasi duduk saat proses belajar mengajar di sekolah dan memberikan peregangan setiap satu atau dua jam sekali dalam posisi berdiri. Metode: Jenis penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, data dikumpulkan melalui kuisioner yang berisi durasi duduk dan gejala nyeri punggung bawah yang dialami siswa, data dianalisis dengan uji statistik untuk mengetahui hubungan antara durasi duduk terhadap nyeri punggung bawah pada siswa SMP. Hasil: Hasil nilai signifikansi atau nilai p <,000 yang berarti terdapat hubungan antara duduk lama terhadap terjadinya gejala nyeri punggung bawah pada siswa. Nilai koefisien korelasi didapatkan sebesar (r)=0,687 yang artinya kedua variabel memiliki hubungan kuat. Kesimpulan: Terdapat korelasi yang kuat antara durasi duduk terhadap terjadinya nyeri punggung bawah pada siswa sekolah menengah pertama.
MANFAAT MODALITAS FARADIC CURRENT DAN MASSAGE PADA KASUS BELL’S PALSY - STUDI KASUS: BENEFITS OF FARADIC CURRENT AND MASSAGE MODALITIES IN BELL’S PALSY CASES - CASE STUDY Tantri Widiana Putri -; Sugiono; Aditya Johan
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 3 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v3i2.72

Abstract

Latar Belakang: Bell’s Palsy merupakan kelumpuhan saraf fasialis perifer yang ditandai dengan kelemahan otot wajah secara mendadak pada satu sisi, menyebabkan asimetri wajah serta gangguan fungsi ekspresi dan aktivitas harian seperti makan, minum, dan berbicara. Penatalaksanaan fisioterapi berperan penting dalam proses rehabilitasi pasien bell’s palsy untuk mengurangi gejala, mempercepat pemulihan, serta mengembalikan fungsi otot wajah. Tujuan: untuk mengetahui manfaat modalitas faradic current dan massage pada kasus bell’s palsy. Metode: Metode yang digunakan adalah studi kasus pada salah satu pasien dengan diagnosa bell’s palsy dextra. Terapi diberikan sebanyak empat kali dengan kombinasi modalitas faradic current yang berfungsi menstimulasi kontraksi otot wajah, serta massage yang bertujuan mengurangi kekakuan dan meningkatkan relaksasi otot. Hasil: Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kekuatan otot wajah berdasarkan uji Manual Muscle Testing (MMT) pada seluruh otot yang diuji, seperti m. corrugator supercili dan m. orbicularis occuli yang meningkat dari nilai 1 menjadi 5, serta m. zygomaticus dan m. orbicularis oris dari nilai 0 menjadi 3. Peningkatan juga terjadi pada fungsional wajah berdasarkan Ugo Fisch Scale dari 18 poin menjadi 58 poin. Kesimpulan: Pemberian terapi faradic current dan massage sebanyak 4 kali memberikan hasil yang efektif dalam meningkatkan kekuatan otot wajah dan fungsi ekspresi wajah pada pasien bell’s palsy, ditunjukkan dengan peningkatan skor MMT pada seluruh otot wajah yang diuji dan peningkatan skor Ugo Fisch dari 18 poin menjadi 58 poin.
DAMPAK LATIHAN LOMPAT TALI TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN LONCAT VERTIKAL PEMAIN BOLA VOLI Tsabitah Putri Zubaidah; Dwi Kurniawati; Sugiono; Nurul Fithriati Haritsa
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 3 No. 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v3i3.83

Abstract

Latar belakang: Daya ledak merupakan kemampuan otot atau sekelompok otot untuk menghasilkan kekuatan kontraksi tinggi dalam waktu yang singkat atau secara eksplosif. Daya ledak otot merupakan komponen fisik yang menunjang aktivitas fisik terutama pada gerakan melompat. Terdiri dari dua komponen utama yaitu kecepatan dan kekuatan. Latihan lompat tali dapat digunakan sebagai salah satu metode latihan untuk meningkatkan nilai daya ledak otot tungkai. Tujuan: Mengetahui dampak latihan lompat tali terhadap peningkatan daya ledak otot tungkai. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian one group pre-test dan post-test yang dilaksanakan di bulan Februari-Maret 2025, 12 kali perlakuan selama 4 minggu, di Gor Soedriman Pandana Merdeka Semarang dengan jumlah subjek sebanyak 20 orang. Jumlah subjek disesuaikan dengan jumlah anggota yang hadir pada hari pengambilan data dan yang memenuhi kriteria yang sudah ditentukan. Alat ukur yang digunakan yaitu Vertical Jump Test. Hasil: Hasil uji beda pre-test dan post-test didapatkan p=0.001 (p<0.05). Kesimpulan: Latihan lompat tali memiliki dampak terhadap peningkatan daya ledak otot tungkai terhadap pemain voli.