Yulianto Wahyono
Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surkarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penatalaksanaan Terapi Latihan pada Kasus Hemiparese Post Stroke Non Hemoragik Management of Exercise Therapy in Cases of Non-Hemorrhagic Post Stroke Hemiparese Aganetha Naura Permata; Yulianto Wahyono
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v3i1.58

Abstract

Latar Belakang: Stroke non hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah otak yang menyebabkan infark serebral. Stroke non hemoragik dapat menimbulkan berbagai masalah, salah satunya berupa hemiparese. Hemiparese merupakan kelemahan otot yang mempengaruhi salah satu sisi tubuh setelah stroke. Hemiparese dapat menyebabkan kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari. Selain itu masalah yang dapat muncul yaitu adanya gangguan koordinasi, gangguan keseimbangan yang akan menurunkan kemampuan aktivitas fungsional individu sehari-hari. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dilakukan tindakan fisioterapi terapi latihan konvensional berupa latihan bridging, latihan keseimbangan, latihan koordinasi, dan latihan passive range of motion (PROM). Tujuan: untuk mengetahui manfaat terapi latihan konvensional pada kasus hemiparese post stroke non hemoragik. Metode: Penelitian ini merupakan studi kasus pada pasien post stroke non hemoragik, diberikan terapi menggunakan terapi latihan konvensional sebanyak 4 kali terapi. Hasil: didapatkan hasil pengukuran nilai kekuatan otot menggunakan MMT pada grup otot abductor-adduktor shoulder dari nilai 2 menjadi 3 dan fleksor-ekstensor hip dari nilai 3 menjadi 4, pengukuran spastisitas menggunakan asworth scale pada grup otot fleksor elbow dari 1+ menjadi 1, pengukuran keseimbangan menggunakan tes Pastor dari nilai 4 menjadi 3, pengukuran kemampuan koordinasi menggunakan indeks koordinasi non ekuilibrium pada koordinasi tangan dan kaki dari nilai 3 menjadi 4, pengukuran kemampuan fungsional menggunakan indeks barthel dari 60 menjadi 70. Kesimpulan: setelah dilakukan fisioterapi pada Ny. J berusia 62 tahun didapatkan peningkatan nilai kekuatan otot menggunakan MMT pada grup otot abductor-adduktor shoulder dari nilai 2 menjadi 3 dan fleksor-ekstensor hip dari nilai 3 menjadi 4, penurunan spastisitas menggunakan asworth scale pada grup otot fleksor elbow dari 1+ menjadi 1, peningkatan keseimbangan menggunakan tes Pastor dari nilai 4 menjadi 3, peningkatan kemampuan koordinasi menggunakan skala koordinasi non ekuilibrium pada koordinasi tangan dan kaki dari nilai 3 menjadi 4, peningkatan kemampuan fungsional menggunakan indeks barthel dari 60 menjadi 70. Kata kunci: Stroke non hemoragik, terapi latihan konvensional.
PERBEDAAN PENGARUH SEKETIKA TERAPI MANIPULASI DAN TERAPI MOBILISASI TERHADAP NYERI PINGGANG BAWAH: DIFFERENT IMMEDIATE EFFECTS OF MANIPULATION THERAPY AND MOBILIZATION THERAPY ON LOWER BACK PAIN Khoiri Rahmatiya Islahi pertiwi; Jasmine Kartiko Pertiwi; Setiawan; Yulianto Wahyono
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 3 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v3i2.69

Abstract

Latar belakang: Terapi manual dengan metode manipulasi maupun mobilisasi telah banyak digunakan dalam menangani nyeri pinggang bawah. Kedua jenis terapi tersebut memiliki cara pembebanan sendi yang berbeda dari segi kecepatan dan amplitudo. Perbedaan tersebut menimbulkan tanda tanya terhadap efek yang dihasilkan. Tujuan: Mengetahui perbedaan efek langsung dari terapi manipulasi dan mobilisasi terhadap nyeri dan lingkup gerak sendi lumbal pada nyeri pinggang bawah. Metode: Penelitian ini berjenis pre-eksperimental dengan desain two groups pre and post test. Subjek adalah pasien dengan keluhan nyeri pinggang bawah sejumlah 30 orang yang memenuhi kriteria, kemudian dibagi ke dalam 2 kelompok, kelompok I mendapat terapi manipulasi dan kelompok II mendapat terapi mobilisasi. Intervensi dilakukan satu kali dan pengukuran outcome dilakukan sebelum dan segera setelah intervensi. Hasil: Uji beda paired sample t-test digunakan untuk menghitung pre dan post test pada masing-masing kelompok. Pada kelompok I nilai nyeri adalah p=0,005 (p<0,05) dan lingkup gerak sendi adalah p=0,000 (p<0,05). Pada kelompok II nilai nyeri adalah p=0,000 (p<0,05) dan lingkup gerak sendi adalah p=0,000 (p<0,05). Uji beda antarkelompok menggunakan independent sample t-test didapatkan hasil akhir p=0,952 (p>0,05) untuk nilai nyeri dan p=0,121 (p>0,05) untuk lingkup gerak sendi. Kesimpulan: Pemberian terapi manipulasi maupun mobilisasi dapat memberikan efek berupa penurunan nyeri dan peningkatan lingkup gerak sendi pada penderita nyeri pinggang bawah, tetapi tidak ada perbedaan signifikan yang dari hasil antara kedua teknik tersebut.