Permasalahan lingkungan di Kota Padang semakin kompleks seiring meningkatnya volume sampah harian yang mencapai 750 ton, dengan 65% berupa sampah organik yang belum terkelola. Program Padang Bagoro bertema “Satu Rumah Satu Biopori” diinisiasi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sebagai solusi untuk mengurangi genangan air dan mengelola sampah organik melalui teknologi lubang biopori. Faktanya, banyak lubang biopori di Kota Padang tidak berfungsi karena rendahnya partisipasi masyarakat.Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor penyebab rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan biopori di Kota Padang serta mengkaji keterlibatan masyarakat berdasarkan empat tahapan partisipasi Cohen dan Uphoff (1977): pengambilan keputusan, pelaksanaan, pemanfaatan hasil, dan evaluasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus deskriptif. Informan dalam penelitian ini berjumlah 25 orang, yang dipilih secara purposive. Adapun kriteria yang telah ditentukan meliputi masyarakat partisipan dan non-partisipan, perangkat RT/Camat, serta pegawai DLH. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi non-partisipatif untuk menilai kondisi dan fungsi biopori pascapemasangan, wawancara mendalam untuk menggali kendala dalam partisipasi, serta studi dokumen terkait kebijakan dan implementasi program. Data dianalisis dengan model Miles dan Huberman yang mencakup pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat hanya terjadi pada tahap pelaksanaan dan tidak berlanjut pada tahap pemanfaatan maupun evaluasi. Faktor penyebab utamanya mencakup minimnya sosialisasi dan edukasi lingkungan, keterbatasan sarana biopori dan fasilitas pemilahan sampah, tiadanya pemilahan lanjutan sampah organik, serta tidak adanya evaluasi program. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa keberhasilan program lingkungan tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh pemberdayaan dan rasa memiliki masyarakat terhadap program.