Indah Ratikasari
Universitas Yatsi Madani

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Pemberian Asi Eksklusif Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24 – 59 Bulan Di Posyandu Melati 02 Inna Mukhaira; Setiarini Pujiningtyas; Selpi Nurmayanti; Indah Ratikasari
JUMAGI (Jurnal Madani Gizi Indonesia) Vol. 1 No. 1 (2024): JUMAGI (Jurnal Madani Gizi Indonesia)
Publisher : Universitas Yatsi Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Tahun 2021, Word Health Organization (WHO) melaporkan bahwa 22,9%, atau sekitar 154,8 juta anak balita, di dunia menderitas stunting. Di Asia, terdapat sebanyak 87 juta balita yang mengalami stunting, 59 juta di Afrika, 6 juta di Amerika Latin dan Karibia, 31,4% di Afrika Barat, 32,5% di Afrika Tengah, 36,7% di Afrika Timur, dan 34,1% di Asia Selatan. Tujuan penelitian ini untuk menentukan hubungan antara pemberian ASI eksklusif dan prevalensi stunting pada balita berusia 24–59 bulan di Posyandu Melati 02. Metode: Metode yang digunakan adalah studi cross-sectional. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan sebesar 17.6% antara pemberian ASI Eksklusif dan kasus stunting. Kesimpulan: Pemberian ASI Eksklusif memiliki dampak yang signifikan terhadap kejadian stunting. Kata kunci: Pemberian ASI eksklusif; Stunting; Balita
Hubungan Sindrom Pramenstruasi (Pms) Dengan Riwayat Keluarga, Pola Tidur, Dan Asupan Kalsium Pada Siswi Sma Di Jakarta Indah Ratikasari
JUMAGI (Jurnal Madani Gizi Indonesia) Vol. 1 No. 2 (2024): JUMAGI (Jurnal Madani Gizi Indonesia)
Publisher : Universitas Yatsi Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Sindrom pramenstruasi (PMS) merupakan fenomena yang dialami seorang wanita pada fase luteal siklus menstruasi yang mengakibatkan tekanan berat dan ketidakmampuan secara fungsional. PMS dapat terjadi antara 7–10 hari sebelum menstruasi. PMS merupakan gangguan umum, namun beberapa kasus memiliki gejala yang parah. Pada remaja, PMS dapat berdampak pada aktivitas sosial dan prestasi akademik di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan PMS pada siswi SMA 112 di Jakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 127 siswi yang dipilih secara acak. Hasil: Analisis menunjukkan bahwa siswa yang pernah mengalami gejala PMS sedang hingga berat sebanyak 32%. Berdasarkan analisis diketahui bahwa asupan kalsium (pvalue = 0,011), pola tidur (pvalue = 0,013), serta riwayat keluarga (pvalue = 0,001), berhubungan dengan PMS. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian, kami menyimpulkan bahwa PMS masih menjadi masalah pada remaja.
Systematic Literature Review: Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Osteoporosis Indah Ratikasari; Inna Mukhaira
JUMAGI (Jurnal Madani Gizi Indonesia) Vol. 2 No. 1 (2025): JUMAGI (Jurnal Madani Gizi Indonesia)
Publisher : Universitas Yatsi Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37048/jumagi.v2i1.688

Abstract

Osteoporosis merupakan suatu kondisi menurunnya massa serta kepadatan tulang yang menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah mengalami fraktur (patah tulang). Penyakit ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Dampak osteoporosis sangat signifikan, terutama pada kelompok lanjut usia, karena dapat menurunkan kualitas hidup dan meningkatkan risiko kecacatan. Oleh sebab itu, tinjauan literatur ilmiah diperlukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor utama yang berhubungan dengan kejadian osteoporosis sehingga strategi pencegahannya dapat dirancang secara lebih efektif. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) yang bersumber dari berbagai jurnal nasional terbitan tahun 2020 hingga 2025 mengenai faktor risiko osteoporosis. Berdasarkan hasil telaah, faktor dominan yang berkontribusi terhadap terjadinya osteoporosis adalah rendahnya aktivitas fisik dan kurangnya asupan kalsium. Dengan demikian, upaya pencegahan dan pengendalian osteoporosis perlu dilakukan secara komprehensif, berbasis bukti ilmiah, serta mencakup aspek biologis, perilaku, dan sosial secara terpadu.