Lilik Hendro Widaryanto
Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi Optimasi Pemanfaatan Waduk Wadaslintang Untuk Kebutuhan Air Irigasi, Air Baku, Dan Potensi PLTA Rindho Wahyu Santoso; Ahmad Mashadi; Lilik Hendro Widaryanto; Adi Sutarto
RENOVASI : Rekayasa Dan Inovasi Teknik Sipil Vol 7 No 1 (2022): Volume 7. No.1 Februari 2022
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineer, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Waduk Wadaslintang terletak di desa Sumberejo, kecamatan Wadaslintang, kabupaten Wonosobo, sekitar 17 km sebelah utara kota Prembun. Manfaat utama pembangunan Waduk Wadaslintang adalah penyediaan air irigasi untuk irigasi persawahan seluas 33.279 hektar yang terdiri dari 18 daerah irigasi di Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Purworejo. Sehubungan dengan permasalahan tersebut diatas, perlu adanya studi optimasi Waduk Wadaslintang untuk pemanfaatan irigasi, kebutuhan air baku, dan potensi PLTA. Dengan adanya studi optimasi dapat diketahui pengaturan cara pemberian air yang baik dan pengaturan pola tanam. Hal tersebut ditindaklanjuti dengan studi optimasi antara pola tanam dan kebutuhan air baku serta potensi PLTA sehingga fungsi dari Waduk Wadaslintang dapat digunakan secara optimal. Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan, didapatkan beberapa kesimpulan yaitu debit maksimal bangkitan inflow yang digunakan untuk menghitung besar kebutuhan air sebesar 2,47 m3/detik dan debit inflow minimum sebesar 0.41 m3/detik, kebutuhan air alternatif pola tanam yang paling besar adalah alternatif pola tanam 3 dengan masa awal tanam Nopember dengan besar kebutuhan air 4713,32 besar kebutuhan air untuk kebutuhan air baku pada tahun 2030 pada kondisi jam puncak adalah sebesar 135,05 liter/detik, dan besar energi yang dihasilkan dari perhitungan potensi PLTA didapatkan daya sebesar 3721423,2 kW dengan debit andalan 90% sebesar 0.94 m3/detik.
Analisis Komposisi Abu Cangkang Kelapa Sawit Dan Pasir Pantai Sumur Tujuh Sebagai Bahan Pengisi Campuran Batako Hana Dwitasari; Dewi Sulistyorini; Lilik Hendro Widaryanto; Angga Darmawan
RENOVASI : Rekayasa Dan Inovasi Teknik Sipil Vol 7 No 1 (2022): Volume 7. No.1 Februari 2022
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineer, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bata beton menjadi salah satu pilihan bahan bangunan yang banyak digunakan dalam konstruksi sebagai pasangan dinding. Bahan utama pembentuk batu bata yaitu tanah liat yang prosesnya dibakar sampai berwarna kemerahan. Beragam jenis batu bata antara lain yaitu batako. Material dinding pembentuk batako terbuat dari campuran pasir, air dan semen yang dicetak padat atau dipress. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasir kuarsa, pasir pantai umur tujuh, semen Portland, abu cangkang kelapa sawit, dan air. Ukuran sampel benda uji 15 cm x 15 cm x 15 cm dengan cetakan kubus. Campuran bahan pembuatan batako terdiri dari semen yang penggunaannya digantikan sebagian dengan 0% dan 10% abu cangkang kelapa sawit, dan penggunaan pasir pantai sumur tujuh 0%, 50%, dan 100% terhadap pasir kuarsa. Perbandingan takaran pembuatan batako adalah 1 Semen : 3,75 Pasir. Pengujian dilakukan mengetahui kuat tekan dan daya serap air. Penambahan abu cangkang kelapa sawit 0% dan 10% yang disubtitusikan terhadap semen, nilai kuat tekan yang dihasilkan mengalami penurunan. Pada penggunaan pasir pantai 0%, 50%, 100% sebagai subtitusi pasir kuarsa juga mengalami penurunan. Dari hasil daya serap air batako yang diperoleh dengan komposisi 0% dan 10% abu cangka ng kelapa sawit dan penggunaan pasir pantai 0%, 50%, 100% sebagai subtitusi pasir kuarsa pada umur batako 14 hari dengan hasil daya serap rata-rata secara urut sebesar 2,96%, 2,71%, 2,58%, 5,82%, 10,58%, dan 6,97%. Hasil daya serap air pada batako tidak melebihi dari persyaratan nilai penyerapan air maksimum yaitu sebesar 25 % yang menurut SNI. 03-0349- 1989 dan PUBI 1989.