Realita di lapangan menunjukkan bahwa rasa cinta tanah air di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya generasi milenial hingga generasi platinum, saat ini mengalami krisis identitas nasional. Tantangan ini semakin besar dihadapi oleh anak-anak pekerja migran Indonesia yang tinggal di luar negeri, seperti di Malaysia, yang memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan karakter berbasis nilai religius dan nasionalisme. Program Penguatan Karakter Religius dan Cinta Tanah Air bagi Anak Pekerja Migran Indonesia di Sanggar Bimbingan Ampang Selangor Malaysia dirancang untuk menjawab permasalahan tersebut. Program ini menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD), yang berfokus pada identifikasi, mobilisasi, dan pemanfaatan potensi serta aset komunitas. Pelaksanaan program dilakukan dalam lima tahap: identifikasi aset, pembentukan kemitraan, pendidikan dan pelatihan, penerapan, serta evaluasi. Evaluasi program dilakukan melalui pre-test, post-test, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam karakter religius anak, yang tercermin dari peningkatan stabilitas emosional, penguatan identitas budaya, pemahaman moral dan etika, serta dukungan sosial yang lebih baik. Sementara itu, karakter cinta tanah air anak juga meningkat, ditandai dengan pemahaman yang lebih kuat terhadap identitas nasional, kebanggaan dan loyalitas terhadap bangsa, integrasi sosial di lingkungan komunitas migran, serta motivasi untuk berkontribusi bagi bangsa Indonesia di masa depan. Partisipasi aktif orang tua, guru, pengelola sanggar, dan KBRI Malaysia menjadi faktor kunci keberhasilan program. Selain memberikan dampak jangka pendek, program ini juga berpotensi berkelanjutan melalui integrasi modul penguatan karakter dalam kurikulum sanggar dan terbentuknya forum orang tua. Model ini direkomendasikan untuk direplikasi di komunitas pekerja migran Indonesia di negara lain sebagai upaya strategis membangun karakter bangsa di era globalisasi.