Muhammad Rifa'ie
Universitas Halu Oleo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FAKTOR KESULITAN BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN KELAS IX Wa Ode Husniati; Sri Suryana Dinar; La Tike; Muhammad Rifa'ie
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 10 No. 4 (2025): JURNAL BASTRA EDISI OKTOBER 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v10i4.1280

Abstract

This study aims to analyze the factors of students' learning difficulties in learning to write short stories in class IX of SMP Negeri 1 Kusambi, West Muna Regency. The research method used is a qualitative method with data collection techniques in the form of questionnaires, interviews, and documentation. The subjects of the study were class IX who had difficulty in writing short stories. The instruments used to collect data were questionnaires and interviews. Based on the results of the study with reference to several internal factors, it shows that the cognitive aspect is the main obstacle, where around 74.7% of students have difficulty understanding the structure of short stories (for example, plot and setting) and 78.1% of students admit to having difficulty in mastering vocabulary. In addition, affective factors such as low learning motivation (68.9%) and lack of self-confidence (64.4%) also contribute to the difficulty of writing short stories. Meanwhile, the psychomotor aspect, which includes writing skills and motor skills in writing, also shows obstacles, although the percentage is relatively lower when compared to cognitive and effective factors. External factors from the external side, family environmental support, although still low (inadequate learning facilities at home around 59.8%) also influence the process of learning to write short stories. The social environment that does not support literacy activities in the surrounding area is also an obstacle. In the school environment, less interesting learning methods (71.2% of students) and unsupportive school facilities (65.5% of students) further worsen the condition. Furthermore, teachers who provide less writing practice (77.0% of students) indicate that opportunities for structured writing practice are still minimal.
Negosiasi Peran Domestik dan Publik Perempuan dalam Novel Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan Karya Ihsan Abdul Quddus: The Negotiation of Women’s Domestic and Public Roles in the Novel Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan by Ihsan Abdul Quddus Andi Muh. Ruum Sya'baan; Muhammad Rifa'ie; Wa Ode Apriliani
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.256

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk peran perempuan dalam ranah domestik dan sosial serta menafsirkan makna negosiasi peran perempuan yang direpresentasikan dalam novel tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra berperspektif gender. Sumber data penelitian adalah novel Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan, sedangkan data berupa kata, frasa, kalimat, dialog, dan narasi yang memuat peran tokoh perempuan. Data dikumpulkan melalui teknik baca dan catat, kemudian dianalisis melalui reduksi data, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran perempuan dalam novel terbagi ke dalam dua ranah utama, yaitu ranah domestik dan ranah sosial. Ranah domestik tampak melalui peran sebagai anak, istri, ibu, serta subjek yang menolak penyempitan makna pengabdian rumah tangga. Ranah sosial tampak melalui keterlibatan tokoh perempuan dalam kepemimpinan pelajar, aktivitas akademik, organisasi perempuan, partai politik, dan ruang publik. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa novel tidak sekadar menggambarkan perempuan sebagai pelengkap laki-laki, tetapi menghadirkan perempuan sebagai subjek yang terus menegosiasikan identitas, cinta, keluarga, pendidikan, dan ambisi sosialnya. Kontribusi penelitian ini terletak pada penguatan kajian sosiologi sastra yang membaca peran perempuan bukan secara biner, melainkan sebagai proses negosiasi antara struktur patriarki dan agensi perempuan.