Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pemanfaatan Media Pembelajaran Berbasis Film terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Sejarah di SMA Negeri 4 Probolinggo Yoga Wahyu Ferniawan; Faizah Ulumi Firdausi; Winin Maulidya Saffanah
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 7 No. 2 (2025): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v7i2.642

Abstract

Media Pembelajaran Movie memiliki Banyak keunggulan diantaranya; tidak menggunakan waktu yang terlalu lama, tidak memerlukan jarak, bisa diakses kapanpun dan dimanapun, dapat memberikan pengalaman belajar yang realistis, menyampaikan pesan dan emosi yang jauh lebih baik, dapat diulang kapan saja, serta dapat memotivasi siswa dalam belajar. Berdasarkan paparan di atas dapat dipahami bahwa media sangat berperan penting dalam kegiatan belajar mengajar.. Pemanfaatan media pembelajaran berbasis Movie di SMA Negeri 4 Probolinggo merupakan upaya sekolah dalam menginovasi pembelajaran agar lebih menarik minat siswa dan menjadikan salah satu ciri khas dari SMA N 4 Probolinggo. Penelitian ini bertujuan untuk :1) Mengetahui bagaimana pemanfaatan media pembelajaran berbasis movie  yang digunakan oleh guru Sejarah di kelas IX A SMA N 4 Probolinggo. 2) 2. Bagaimana Hasil Belajar Sejarah Indonesia siswa SMA N 4 Probolinggo dengan media pembelajaran berbasis Movie. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan deskriptif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasil penelitian menunjukan bahwa pemanfaatan media berbasis movie dalam penggunaannya diawali dengan proses perencanaan yang dilakukan oleh guru, seperti menyiapkan alat proyektor, dan proses penggunaan media movie yang melibatkan guru dan siswa, serta suasana belajar yang menyenangkan yang ditandai dengan minat belajar siswa yang meningkat. Pada hasil belajar siswa SMA N 4 Probolinggo diketahui mengalami peningkatan dengan menggunakan media berbasis movie dalam pembelajaran Sejarah.
Eksistensi Tradisi Selapan Bagi Bayi Baru Lahir di Desa Dukuhsari Sukorejo Pasuruan Miladia Mukrimmah; Winin Maulidya Saffanah; Faizah Ulumi Firdausi
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.643

Abstract

Tradisi selapan merupakan suatu tradisi atau adat atau dikenal dengan sebutan selamatan yang dilakukan Ketika bayi berumur 35-40 hari. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan agar si bayi dijauhkan dari mara bahaya, menjadi anak soleh dan solehah dan sebagai bentuk rasa syukur orang tua kepada Allah. Di Desa Dukuhsari tradisi atau selamatan ini masih terus dilakukan dan dijalankan oleh semua masyarakatnya. Tradisi selapan di Desa Dukuhsari dilakukan dengan berbagai macam tradisi upacara yaitu dengan pembacaan maulid diba’, upacara potong rambut dan kuku, upacara mandi kembang, upacara lingkah menyan, dan disertai dengan barbagai macam hidangan untuk para tamu undangan. Eksistenasi tradisi selapan di Desa Dukuhsari merupakan peneliatian kuantitatif berdasarkan pengamatan peneliti dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara terhadap Sebagian masyarakat dari berbagai upacara tradisi selapan yang ada di Desa Dukuhsari tidak semua masyarakat melakukannya, ada yang melakukan beberapa upacara saja dan ada juga yang melakukan semua upacara yang ada. Hal ini dikarenakan seiring perubahan zaman yang ada dari yang dulunya percaya akan kepercayaan dinamisme dan animisme dan sekarang semakin memudar
SOSIALISASI KEPEMIMPINAN UNTUK MEMBENTUK KARAKTER PEMIMPIN KEPADA OSIS SMA MAARIF LAWANG Moch. Amin Al Waqy; Novelia Subekti; Bella Safitri; Inez Amanda Aurellia; A. Rizki Kurniawan; Winin Maulidya Saffanah; Puspita Pebri Setiani; Septa Rahadian; Faizah Ulumi Firdausi; Dian Fitri Argarini
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. 2 No. 6 (2025): Agustus
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jpmi.v2i6.5446

Abstract

Sosialisasi kepemimpinan sebagai upaya membentuk karakter pemimpin pada anggota OSIS di SMA Ma'arif Lawang. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, kegiatan sosialisasi yang meliputi pelatihan kepemimpinan, diskusi interaktif, dan simulasi peran dievaluasi untuk mengetahui dampaknya terhadap pengembangan karakter seperti tanggung jawab, disiplin, dan integritas. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa sosialisasi kepemimpinan yang terstruktur mampu meningkatkan pemahaman siswa mengenai nilai-nilai kepemimpinan dan mendorong penerapan karakter positif dalam organisasi OSIS. Artikel ini menekankan pentingnya peran sekolah dalam memfasilitasi program-program pengembangan kepemimpinan guna mencetak generasi muda yang siap menjadi pemimpin berkarakter di masa depan.
TRADISI TIBA MEKA WERU SEBAGAI SOLIDARITAS MAHASISWA MANGGARAI DI KOTA MALANG Bonifasia Yesivina Inda; Winin Maulidya Saffanah
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 8, No 2 (2025)
Publisher : Sociology of Religion Study Program, Faculty of Social Sciences, North Sumatra State Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v8i2.25565

Abstract

The Tiba Meka Weru tradition is a traditional ceremony for welcoming guests carried out by the people of Manggarai, East Nusa Tenggara. This tradition aims to welcome important guests, such as government figures, community leaders and religious figures, with full respect and familiarity. The aim of the research on the Tiba Meka Weru tradition is to understand and describe in depth this unique tradition of welcoming guests in Manggarai society, as well as exploring the values contained in it. Data was collected through in-depth interviews with four key informants who come from Manggarai and live in Malang City. The research results show that overall, the Tiba Meka Weru tradition for the Manggarai student community in Malang is an effort to maintain and preserve Manggarai's cultural heritage amidst multicultural campus life. The tradition of "Tiba Meka" or welcoming guests in Manggarai (Flores) culture, which is also known as the tradition of welcoming guests, has a positive impact on increasing solidarity among the community. Through welcoming rites involving various stages and values such as openness, familiarity, and respect, this tradition effectively strengthens social relations and strengthens bonds between individuals in the community. Even though there are many challenges faced when implementing the tradition of arriving meka weru in Malang City, students from Manggarai still try to continue implementing this tradition in order to preserve their culture and introduce the traditions or culture in Manggarai to the wider community, especially the people in Malang City.
Fenomena Menggadaikan Barang Pada Mahasiswa Perantau Asal Manggarai di Malang dalam Perspektif Teori Habitus Pierre Bourdieu Nafrianus Sunggung; Winin Maulidya Saffanah
Jurnal Noken: Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 12 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/jn.v12i1.5626

Abstract

The phenomenon of pawning belongings among students living away from home is a survival strategy in the face of economic constraints. This study aims to understand the practice of pawning among students from Manggarai living in Malang City using Pierre Bourdieu’s theoretical perspective. This study employs a descriptive qualitative approach, utilizing data collection techniques through in-depth interviews with seven informants, supplemented by observation and documentation. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results indicate that pawnbroking is generally carried out by pledging items of high economic value. The main factors driving this practice are economic constraints and urgent needs to meet basic necessities. Pawnbroking is chosen because it is considered a quick solution, although it has the potential to lead to financial dependence. From Bourdieu’s perspective, this practice is the result of the interaction between habitus, economic capital, and social capital within the context of migrant life.