Uswatun Hasanah
Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta, Jalan Rawamangun Muka, Jakarta Timur, 13220, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MODEL POLA ASUH REMAJA BERDASARKAN NILAI BUDAYA DAN KUALITAS PERKAWINAN ORANG TUA: Adolescents' Parenting Model Based on Cultural Values and the Quality of Parents' Marriage Uswatun Hasanah; Maya Oktaviani; Elmanora
Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Vol. 18 No. 2 (2025): JURNAL ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN 18.2
Publisher : Faculty of Social Science and Human Ecology, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24156/jikk.2025.18.2.177

Abstract

Orang tua mengalami kesulitan dalam mengasuh anak, terutama saat anak telah memasuki usia remaja. Pola asuh yang kurang optimal akan berdampak buruk pada kualitas tumbuh kembang anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh nilai budaya dan kualitas perkawinan terhadap pola asuh orang tua bagi remaja di wilayah Jabodetabek. Dengan melibatkan 505 remaja sebagai responden, penelitian ini menggunakan metode survei dengan instrumen self-report untuk mengumpulkan data tentang karakteristik keluarga, nilai budaya, kualitas perkawinan, dan pola asuh. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai budaya berpengaruh signifikan terhadap pola asuh, di mana semakin tinggi nilai budaya yang dijunjung tinggi maka semakin baik pula kualitas pola asuh yang diberikan. Selain itu, kualitas perkawinan juga terbukti berpengaruh signifikan terhadap pola asuh, dengan orang tua yang memiliki hubungan perkawinan yang harmonis cenderung menerapkan pola asuh yang lebih positif. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan nilai budaya dan kualitas perkawinan sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas pola asuh dan mendukung tumbuh kembang remaja yang optimal. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar program pemberdayaan keluarga difokuskan pada keterampilan mengasuh anak dan mencakup penguatan nilai-nilai budaya serta peningkatan kualitas hubungan suami-istri. Intervensi berbasis masyarakat dan kebijakan publik yang mendukung keharmonisan keluarga dapat menjadi strategi pencegahan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan remaja yang optimal.
PERILAKU ANAK KORBAN PERCERAIAN ORANG TUA Aulia Aristawaty; Nurlaila Abdullah Mashabi; Uswatun Hasanah
JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 10 No. 01 (2023): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JKKP.101.05

Abstract

Abstrak Kasus perceraian yang tinggi khususnya di daerah Jakarta Timur dikhawatirkan akan berdampak pada perilaku anak korban perceraian orang tua yang dapat menjadi bermasalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku anak korban perceraian orang tua. Penelitian dilakukan di Jakarta Timur pada bulan Oktober 2022 sampai dengan bulan Februari 2023. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah orang tua yang bercerai yang memiliki anak usia dini yang tergabung dalam komunitas orang tua tunggal sebanyak 100 responden. Data diperoleh menggunakan kuesioner. Instrumen yang digunakan untuk mengukur masalah perilaku adalah The Child Behavior Checklist and Related Forms for Assessing Behavioral/Emotional Problems and Competencies (CBCL). Kuesioner yang digunakan memiliki 58 pernyataan setelah diuji validasi dengan dimensi reaksi terhadap emosi, kecemasan/depresi, keluhan somatik, menarik diri, masalah tidur, kesulitan berkonsentrasi, dan perilaku agresif. Data diolah dan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan analisis korelasi (chi-square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah perilaku anak usia dini yang orang tuanya bercerai berada di tingkat sedang dengan nilai rata-rata 41,54. Hasil juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara karakteristik responden, yaitu jenis kelamin anak, usia anak, pekerjaan ayah, dan pekerjaan ibu dengan masalah perilaku anak, sedangkan, terdapat hubungan antara orang tua yang mengasuh dengan masalah perilaku anak. Hasil ini berarti anak usia dini yang orang tuanya bercerai memiliki sedikit masalah perilaku yang akan muncul jika terdapat suatu hal atau kejadian yang tidak disukai anak sehingga akan memicu masalah perilakunya.   Abstract The high number of divorce cases, especially in the East Jakarta area, is feared to have an impact on the behavior of children who are victims of parental divorce which can become problematic. This study aims to determine the behavior of children who are victims of parental divorce. The research was conducted in East Jakarta from October 2022 to February 2023. This research uses the descriptive quantitative method. Sampling using a purposive sampling technique. The sample in this research is divorced parents who have early childhood and are members of a single-parent community of 100 respondents. Data were obtained using a questionnaire. The instrument used to measure behavioral problems is The Child Behavior Checklist and Related Forms for Assessing Behavioral/Emotional Problems and Competencies (CBCL). The questionnaire used has 58 statements after being validated with the dimensions of emotionally reactive, anxiety/depression, somatic complaints, withdrawn, sleep problems, attention problems, and aggressive behavior. Data were processed and analyzed using descriptive statistic analysis techniques and correlation analysis (chi-square). The results showed that the behavioral problems of early childhood whose parents divorced were at a moderate level with an average value of 41.54. The results also show that there is no relationship between the characteristics of the respondents, such as the child's gender, the child's age, the father's occupation, and the mother's occupation, with the child's behavior problems, meanwhile, there is a relationship between the characteristics of the parent who nurtures the child and the child's behavior problems. This result means that early childhood whose parents are divorced have few behavioral problems that will arise if something or an event triggers it.
STRATEGI MINDFULL PARENTING PADA DUAL CAREERS FAMILY Ranita Sari; Uswatun Hasanah; Prastiti Laras Nugraheni
JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 10 No. 01 (2023): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JKKP.101.09

Abstract

Pada masa pandemi, orangtua memiliki peran ganda dalam melakukan aktifitas work from home, yaitu harus bekerja dan mengasuh anak. Namun hal tersebut tidaklah mudah, banyak kasus kekerasan pada anak terjadi karena pola asuh yang salah akibat beban psikis dan fisik orangtua melakukan peran ganda tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental dan mengoptimalisasi kualitas hubungan antara orang tua dan anak dual career family dengan menerapkan mindfull parenting atau keterampilan pengasuhan berbasis kesadaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi mindful parenting yang dilakukan oleh dual careers family. Metode penelitian ini yang digunakan yakni metode deskriptif kuantitatif. Instrumen Mindfulness in Parenting Questionnaire (MIPQ) yang dirancang oleh McCaffrey (2017) dan di adaptasi oleh Febriani et al. (2021), yaitu dengan dimensi mindful dicipline dan being in the moment with the child. Responden dalam penelitian ini merupakan dual careers family yang berjumlah 93 orang. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa Penerapan pola asuh mindful parenting orang tua lebih banyak mengunakan dimensi being in the moment with the child sebesar 57%, yang dapat meningkatkan rasa empati terhadap anak dan secara sadar orangtua memandang anak apa adanya sebagai manusia, sehingga orang tua senantiasa hadir pada setiap momen tumbuh kembang anak secara bijaksana dan responsif terhadap kebutuhannya. Sedangkan, Dual Careers Family yang dikategorikan tinggi dalam dimensi Mindful Dicipline sebesar 49%.   Abstract During a pandemic, parents have a dual role in carrying out work from home activities, namely having to work and take care of their children. However, this is not easy, many cases of violence against children occur because of wrong parenting as a result of the psychological and physical burden of parents who carry out this dual role. One of the efforts that can be made to maintain mental health and optimize the quality of the relationship between parents and children in dual career families is to apply mindful parenting or awareness-based parenting. This study aims to identify mindful parenting strategies carried out by dual career families. The research method used is a quantitative descriptive method. This study used the Mindfulness in Parenting Questionnaire (MIPQ) designed by McCaffrey (2017) and adapted by Febriani et al. (2021), namely with the dimension of mindful discipline and being in the moment with the child. Respondents in this study were dual career families, totaling 93 people. The research results obtained show that the application of mindful parenting uses more of the dimensions of being in the moment with the child by 57%, which can increase empathy for children and consciously parents see children as they are as human beings, so that parents are always present at every moment of child development wisely and responsive to their needs. Meanwhile, the Dual Careers Family which is categorized as high on the Mindful Discipline dimension is 49%.