Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Implementasi Konsep Khalifah Fil-Ard Sebagai Landasan Pengembangan Green Skill Siswa Sekolah Dasar Nina Amelia; B. Siti Mardliyah; Sinta Bella; Opik Taupik Kurahman
IQRO: Journal of Islamic Education Vol. 8 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam FTIK IAIN Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/iqro.v8i3.8334

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi konsep Khalifah fil Ardh sebagai landasan pengembangan green skill pada siswa sekolah dasar dalam perspektif pendidikan Islam. Nilai Khalifah fil-Ard dipahami sebagai landasan teologis yang menegaskan tanggung jawab manusia untuk menjaga, mengelola, dan memelihara bumi sebagai amanah dari Allah SWT. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif serta jenis penelitian kepustakaan (library research), melalui kajian terhadap buku, jurnal, dan artikel ilmiah yang relevan. Analisis dilakukan dengan metode content analysis untuk menemukan keterkaitan antara nilai khalifah sebagai dasar moral-spiritual dengan pembentukan keterampilan ekologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Khalifah fil-Ard memiliki hubungan erat dengan penguatan karakter peduli lingkungan yang diwujudkan melalui green behaviour, ecoliteracy, dan green education untuk terciptanya green skill pada pribadi siswa yang ditera. Nilai tersebut dapat diimplementasikan dalam pendidikan dasar melalui  perilaku ramah lingkungan, seperti pembiasaan kebersihan, pemilahan sampah, konsumsi bijak, dan pengolahan limbah.Integrasi nilai spiritual Islam dengan pembelajaran lingkungan mampu membentuk karakter ekologis siswa serta mengembangkan keterampilan hijau yang berorientasi pada keberlanjutan hidup. Dengan demikian, pendidikan berbasis nilai Khalifah fil Ardh menjadi strategi efektif dalam mencetak generasi muslim yang beriman, berakhlak mulia, dan memiliki kompetensi ekologis sesuai tuntunan Islam.
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW, TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT), DAN KONVENSIONAL TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP AL-KAUTSAR CIMAHI Sinta Bella; Nafisatusa’adah Nafisatusa’adah; Sabrina Izzatul Jannah; Rahayu Kariadinata; Elis Wulan
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.12043

Abstract

The effectiveness of the Jigsaw, Teams Games Tournament (TGT), and conventional learning models on students’ learning outcomes in Islamic Religious Education at SMP Al-Kautsar Cimahi is the focus of this study. The selection of an appropriate learning model is an important factor in improving the quality of the learning process and students’ academic achievement. Jigsaw and TGT, as cooperative learning models, encourage active student participation through collaboration and group interaction, while the conventional model tends to be teacher-centered. The data analyzed consisted of students’ learning outcome scores obtained from classes implementing the three learning models. Data analysis was conducted through normality testing, homogeneity testing, and the Kruskal–Wallis test. The results of the normality test indicated that not all data groups were normally distributed, while the homogeneity test showed that the variances among the groups were homogeneous. Therefore, hypothesis testing was carried out using the Kruskal–Wallis test. The analysis revealed a significance value of 0.425 (> 0.05), indicating that there was no statistically significant difference in students’ learning outcomes among the Jigsaw, TGT, and conventional learning models. However, the mean rank values showed that the Jigsaw model achieved the highest average rank compared to the TGT and conventional models, indicating a tendency to produce better learning outcomes. These findings suggest that all three learning models can be effectively implemented in Islamic Religious Education classes according to the characteristics of the learning materials and students’ needs, with the Jigsaw model demonstrating relatively greater potential for improving learning outcomes.   ABSTRAK Efektivitas model pembelajaran Jigsaw, Teams Games Tournament (TGT), dan konvensional terhadap hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Al-Kautsar Cimahi menjadi fokus kajian dalam artikel ini. Pemilihan model pembelajaran yang tepat merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar peserta didik. Model Jigsaw dan TGT sebagai bagian dari pembelajaran kooperatif menawarkan keterlibatan aktif peserta didik melalui kerja sama kelompok, sedangkan model konvensional cenderung berpusat pada guru. Data yang dianalisis berupa hasil belajar peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan ketiga model tersebut. Analisis data dilakukan melalui uji normalitas, uji homogenitas, dan uji Kruskal-Wallis. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa tidak seluruh kelompok data berdistribusi normal, sedangkan hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa variansi data bersifat homogen. Oleh karena itu, pengujian hipotesis dilakukan menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,425 (>0,05), yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar peserta didik antara penggunaan model pembelajaran Jigsaw, TGT, dan konvensional. Meskipun demikian, nilai mean rank menunjukkan bahwa model Jigsaw memiliki peringkat rata-rata tertinggi dibandingkan model TGT dan konvensional, sehingga memiliki kecenderungan menghasilkan hasil belajar yang lebih baik. Temuan ini menunjukkan bahwa ketiga model pembelajaran dapat digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam sesuai dengan karakteristik materi dan kebutuhan peserta didik, dengan model Jigsaw sebagai alternatif yang relatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar.
IMPLIKASI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MORAL KOHLBERG TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS SISWA B. Siti Mardliyah; Sinta Bella; Sabrina Izzatul Jannah; Nafisatussa'adah Nafisatussa'adah; Tarsono Tarsono
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8080

Abstract

This research is motivated by the persistent challenge of shaping students' authentic religious character, where religious education often results only in ritualistic obedience without a deep internalization of values. This study focuses on analyzing the implications of Lawrence Kohlberg's moral development theory as a strategic foundation for revitalizing the practice of religious character education. Using qualitative methods with a descriptive-analytical literature study approach, this study synthesizes Kohlberg's key works and the psychology of religion literature to build a relevant pedagogical framework. Key findings indicate a significant structural relationship between the level of moral reasoning and the expression of religiosity: the Preconventional stage gives rise to instrumental spirituality based on rewards and punishments, the Conventional stage gives rise to normative obedience to social rules, while the Postconventional stage reflects the autonomous internalization of universal ethical principles. These findings imply the need for an adaptive educational approach, where teaching methods such as moral dilemma discussions are tailored to students' cognitive maturity to foster moral development. It is concluded that Kohlberg's framework serves as a crucial pedagogical roadmap for educators to transform external obedience into a strong and internalized moral-religious commitment, so that the success of character education is highly dependent on the alignment of educational interventions with the stages of students' moral development. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan persisten dalam membentuk karakter religius siswa yang autentik, di mana pendidikan agama sering kali hanya menghasilkan kepatuhan ritualistik tanpa internalisasi nilai yang mendalam. Studi ini berfokus pada analisis implikasi teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg sebagai landasan strategis untuk merevitalisasi praktik pendidikan karakter religius. Melalui metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur deskriptif-analitis, penelitian ini menyintesis karya-karya utama Kohlberg dan literatur psikologi agama untuk membangun kerangka pedagogis yang relevan. Temuan utama menunjukkan adanya hubungan struktural yang signifikan antara tingkat penalaran moral dengan ekspresi religiusitas: tahap Prakonvensional memunculkan spiritualitas instrumental berbasis imbalan dan hukuman, tahap Konvensional melahirkan kepatuhan normatif terhadap aturan sosial, sedangkan tahap Pascakonvensional mencerminkan internalisasi prinsip etika universal secara otonom. Temuan ini mengimplikasikan perlunya pendekatan pendidikan yang adaptif, di mana metode pengajaran seperti diskusi dilema moral disesuaikan dengan kematangan kognitif siswa untuk mendorong perkembangan moral. Disimpulkan bahwa kerangka kerja Kohlberg berfungsi sebagai peta jalan pedagogis krusial bagi pendidik untuk mentransformasi ketaatan yang bersifat eksternal menjadi komitmen moral-religius yang kokoh dan terinternalisasi, sehingga keberhasilan pendidikan karakter sangat bergantung pada keselarasan intervensi edukatif dengan tahapan perkembangan moral peserta didik.