Sabrina Izzatul Jannah
UIN Sunan Gunung Djati bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW, TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT), DAN KONVENSIONAL TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP AL-KAUTSAR CIMAHI Sinta Bella; Nafisatusa’adah Nafisatusa’adah; Sabrina Izzatul Jannah; Rahayu Kariadinata; Elis Wulan
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.12043

Abstract

The effectiveness of the Jigsaw, Teams Games Tournament (TGT), and conventional learning models on students’ learning outcomes in Islamic Religious Education at SMP Al-Kautsar Cimahi is the focus of this study. The selection of an appropriate learning model is an important factor in improving the quality of the learning process and students’ academic achievement. Jigsaw and TGT, as cooperative learning models, encourage active student participation through collaboration and group interaction, while the conventional model tends to be teacher-centered. The data analyzed consisted of students’ learning outcome scores obtained from classes implementing the three learning models. Data analysis was conducted through normality testing, homogeneity testing, and the Kruskal–Wallis test. The results of the normality test indicated that not all data groups were normally distributed, while the homogeneity test showed that the variances among the groups were homogeneous. Therefore, hypothesis testing was carried out using the Kruskal–Wallis test. The analysis revealed a significance value of 0.425 (> 0.05), indicating that there was no statistically significant difference in students’ learning outcomes among the Jigsaw, TGT, and conventional learning models. However, the mean rank values showed that the Jigsaw model achieved the highest average rank compared to the TGT and conventional models, indicating a tendency to produce better learning outcomes. These findings suggest that all three learning models can be effectively implemented in Islamic Religious Education classes according to the characteristics of the learning materials and students’ needs, with the Jigsaw model demonstrating relatively greater potential for improving learning outcomes.   ABSTRAK Efektivitas model pembelajaran Jigsaw, Teams Games Tournament (TGT), dan konvensional terhadap hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Al-Kautsar Cimahi menjadi fokus kajian dalam artikel ini. Pemilihan model pembelajaran yang tepat merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar peserta didik. Model Jigsaw dan TGT sebagai bagian dari pembelajaran kooperatif menawarkan keterlibatan aktif peserta didik melalui kerja sama kelompok, sedangkan model konvensional cenderung berpusat pada guru. Data yang dianalisis berupa hasil belajar peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan ketiga model tersebut. Analisis data dilakukan melalui uji normalitas, uji homogenitas, dan uji Kruskal-Wallis. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa tidak seluruh kelompok data berdistribusi normal, sedangkan hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa variansi data bersifat homogen. Oleh karena itu, pengujian hipotesis dilakukan menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,425 (>0,05), yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar peserta didik antara penggunaan model pembelajaran Jigsaw, TGT, dan konvensional. Meskipun demikian, nilai mean rank menunjukkan bahwa model Jigsaw memiliki peringkat rata-rata tertinggi dibandingkan model TGT dan konvensional, sehingga memiliki kecenderungan menghasilkan hasil belajar yang lebih baik. Temuan ini menunjukkan bahwa ketiga model pembelajaran dapat digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam sesuai dengan karakteristik materi dan kebutuhan peserta didik, dengan model Jigsaw sebagai alternatif yang relatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar.
KONSEP LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PRESPEKTIF AL QUR’AN Fenia Marliana; Ghifar Ramadhan; Opik Taupik Kurahman; Sabrina Izzatul Jannah
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8399

Abstract

Education plays a vital role in shaping human personality, but discourse on the educational environment is often trapped in merely sociological-institutional aspects without delving into the theological normative foundations derived from the Qur'an. This research focuses on examining and reconstructing the concept of the Islamic educational environment from the perspective of the Qur'an in order to find a comprehensive philosophical foundation. The method applied is qualitative through library research with a thematic interpretation approach (maudhu'i) of verses relevant to the educational ecosystem, which are then analyzed descriptively-analystically. The research findings show that the Qur'an places the environment as a determinant factor in character formation, which is integrated into three main domains: the family as the foundation for instilling monotheism and compassion, schools as a means of intellectual and moral development, and society as a vehicle for actualizing socio-religious values. These three environments must synergize within the framework of monotheism and exemplary behavior (uswah hasanah) as exemplified by the Prophet Muhammad. It is concluded that the success of Islamic education is highly dependent on the creation of a conducive environment based on divine values, so that it can produce perfect human beings who have spiritual, moral and intellectual balance. ABSTRAK Pendidikan memegang peranan vital dalam pembentukan kepribadian manusia, namun diskursus mengenai lingkungan pendidikan sering kali terjebak pada aspek sosiologis-institusional semata tanpa menggali landasan normatif teologis yang bersumber dari Al-Qur’an. Penelitian ini berfokus untuk mengkaji dan merekonstruksi konsep lingkungan pendidikan Islam dalam perspektif Al-Qur’an guna menemukan landasan filosofis yang komprehensif. Metode yang diterapkan adalah kualitatif melalui studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu’i) terhadap ayat-ayat yang relevan dengan ekosistem pendidikan, yang kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menempatkan lingkungan sebagai faktor determinan dalam pembentukan karakter, yang terintegrasi dalam tiga ranah utama: keluarga sebagai fondasi penanaman tauhid dan kasih sayang, sekolah sebagai sarana pengembangan intelektual dan akhlak, serta masyarakat sebagai wahana aktualisasi nilai sosial-religius. Ketiga lingkungan ini harus bersinergi dalam kerangka ketauhidan dan keteladanan (uswah hasanah) sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Disimpulkan bahwa keberhasilan pendidikan Islam sangat bergantung pada terciptanya lingkungan kondusif yang berlandaskan nilai-nilai Ilahiah, sehingga mampu mencetak insan kamil yang memiliki keseimbangan spiritual, moral, dan intelektual.  
IMPLIKASI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MORAL KOHLBERG TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS SISWA B. Siti Mardliyah; Sinta Bella; Sabrina Izzatul Jannah; Nafisatussa'adah Nafisatussa'adah; Tarsono Tarsono
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8080

Abstract

This research is motivated by the persistent challenge of shaping students' authentic religious character, where religious education often results only in ritualistic obedience without a deep internalization of values. This study focuses on analyzing the implications of Lawrence Kohlberg's moral development theory as a strategic foundation for revitalizing the practice of religious character education. Using qualitative methods with a descriptive-analytical literature study approach, this study synthesizes Kohlberg's key works and the psychology of religion literature to build a relevant pedagogical framework. Key findings indicate a significant structural relationship between the level of moral reasoning and the expression of religiosity: the Preconventional stage gives rise to instrumental spirituality based on rewards and punishments, the Conventional stage gives rise to normative obedience to social rules, while the Postconventional stage reflects the autonomous internalization of universal ethical principles. These findings imply the need for an adaptive educational approach, where teaching methods such as moral dilemma discussions are tailored to students' cognitive maturity to foster moral development. It is concluded that Kohlberg's framework serves as a crucial pedagogical roadmap for educators to transform external obedience into a strong and internalized moral-religious commitment, so that the success of character education is highly dependent on the alignment of educational interventions with the stages of students' moral development. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan persisten dalam membentuk karakter religius siswa yang autentik, di mana pendidikan agama sering kali hanya menghasilkan kepatuhan ritualistik tanpa internalisasi nilai yang mendalam. Studi ini berfokus pada analisis implikasi teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg sebagai landasan strategis untuk merevitalisasi praktik pendidikan karakter religius. Melalui metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur deskriptif-analitis, penelitian ini menyintesis karya-karya utama Kohlberg dan literatur psikologi agama untuk membangun kerangka pedagogis yang relevan. Temuan utama menunjukkan adanya hubungan struktural yang signifikan antara tingkat penalaran moral dengan ekspresi religiusitas: tahap Prakonvensional memunculkan spiritualitas instrumental berbasis imbalan dan hukuman, tahap Konvensional melahirkan kepatuhan normatif terhadap aturan sosial, sedangkan tahap Pascakonvensional mencerminkan internalisasi prinsip etika universal secara otonom. Temuan ini mengimplikasikan perlunya pendekatan pendidikan yang adaptif, di mana metode pengajaran seperti diskusi dilema moral disesuaikan dengan kematangan kognitif siswa untuk mendorong perkembangan moral. Disimpulkan bahwa kerangka kerja Kohlberg berfungsi sebagai peta jalan pedagogis krusial bagi pendidik untuk mentransformasi ketaatan yang bersifat eksternal menjadi komitmen moral-religius yang kokoh dan terinternalisasi, sehingga keberhasilan pendidikan karakter sangat bergantung pada keselarasan intervensi edukatif dengan tahapan perkembangan moral peserta didik.