This Author published in this journals
All Journal Jurnal Siartek
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

SPASIAL MESSO PERMUKIMAN KAMPUNG PETILASAN WURING KOTA MAUMERE Ambrosius Alfonso Korasony Sevili Gobang
SIARTEK - Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol 5 No 1 (2019): SIARTEK - Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Program Studi Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tepi laut atau pesisir pantai merupakan ruang yang relatif dominan bagi permukiman perairan di Indonesia. Satu diantaranya adalah kawasan permukiman Suku Bajo di kampung Wuring, Kelurahan Wolomarang Kecamatan Alok Barat Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur. Permukiman kampung di Wuring memiliki kekhasan yaitu dibangun di atas air yang menyatu dengan daratan. Penelitian ini menggunakan metode analisa deskriptif kualitatif yaitu menjelaskan dan menginterpretasi catatan budaya Suku Bajo, berupa dokumen historis, peta lokasi, maupun wujud fisik bangunan rumah masyarakat Suku Bajo dan objek lainnya yang ada di lapangan. Adapun pendekatan fenomenologi digunakan untuk melihat makna dalam masyarakat yang menjelaskan pengalaman orisinal dari situasi spesifik dan bertujuan menganalisis spasial messo yang terbentuk dan aspek-aspek yang melandasi terwujudnya spasial messo permukiman Suku Bajo pada kawasan kampung petilasan Wuring. Hasil penelitian memberikan gambaran tentang spasial messo permukiman masyarakat Suku Bajo di pesisir kampung petilasan Wuring Kota Maumere ini memiliki suatu pola spasial yang unik yaitu membentuk pola linier memanjang, karena rumah-rumah tinggal masyarakat selalu berorientasi ke jalan lingkungan dan ruang laut di belakangnya. Pola perkembangan kampung Wuring ini dimulai dari leko yaitu koral atau gugusan karang dalam laut dan dangkal. Di atas taka ini kemudian masyarakat Suku Bajo melakukan aktivitas menangkap ikan dengan memarkir sampan atau rumah perahu yang lama kelamaan masyarakat menanam tiang-tiang lalu membangun rumahnya dan perlahan-lahan menimbun taka tersebut menjadi daratan. Kecenderungan ini dapat menjelaskan keadaan kampung Wuring saat ini yaitu Wuring Tengah dan Wuring Laut yang sudah menjadi daratan itu awalnya adalah perairan dengan taka yang ditimbun oleh Suku Bajo karena sifat uniknya bermukim di atas laut. Pola spasial kawasan ini menunjukan adanya pengaruh ruang luar yaitu jalan dan lautan yang keduanya bemanfaat sebagai jalur aksesibilitas kawasan. Selain itu adanya suatu relasi yang cukup kuat antara hunian masyarakat dengan berbagai fasilitas penunjang aktivitas sosial ekonomi masyarakat.