Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

“Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Desa Anjir Serapat Tengah Kabupaten Kapuas Tahun 2025 Dewi Rahmah; Diana Mirja Togubu; Muhammad Syafar
Jurnal Kesehatan Tujuh Belas (Jurkes TB) Vol. 6 No. 1 (2025): November
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tujuh Belas, Karanganyar, JAwa, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewi Rahmah 2025 “Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Desa Anjir Serapat Tengah Kabupaten Kapuas Tahun 2025” (Dibimbing oleh Diana Mirja Togubu dan Muhammad Syafar) Penyakit diare merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pencernaan yang menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Prevalensi diare di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan kasus yang tinggi. Berdasarkan data Kemenkes RI prevalensi diare pada tahun 2018 sebanyak 37,88% atau sekitar 1.516.438 kasus pada balita. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas menunjukkan bahwa pada tahun 2022, tercatat 823 kasus diare pada balita, yang kemudian meningkat menjadi 1.170 kasus pada tahun 2023, meskipun terjadi penurunan pada tahun 2024 menjadi 702 kasus, namun angka kematian akibat diare masih tercatat sebanyak 5 orang balita se Kabupaten Kapuas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor yang berhubungan dengan penyakit diare pada Balita di Desa Anjir Serapat Tengah Kabupaten Kapuas Tahun 2025. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah analitik pendekatan cross sectional study. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 96 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan menggunakan purposive sampling dengan cara semua subyek yang ada dan memenuhi kriteria sampel akan dipilih dalam penelitian sampai semua jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi. Analisis data menggunakan analisis statistik secara univariat dan bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan ?value = 0,000, penggunaan air bersih ?value = 0,000, cuci tangan pakai sabun dan air bersih ?value = 0,000 dan penggunaan jamban sehat ?value = 0,000 dengan kejadian diare pada Balita di Desa Anjir Serapat Tengah Kabupaten Kapuas Tahun 2025. Hasil penilitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, penggunaan air bersih, cuci tangan pakai sabun dan air bersih, dan penggunaan jamban sehat dengan kejadian diare pada balita di Desa Anjir Serapat Tengah Kabupaten Kapuas Tahun 2025. Bagi Masyarakat Desa Anjir Serapat Tengah, khususnya orangtua balita, diharapkan meningkatkan upaya pencegahan dengan menjaga kebersihan air, memastikan kebersihan dan kelayakan fasilitas jamban, membiasakan cuci tangan pakai sabun pada waktu-waktu penting, serta meningkatkan pengawasan dan perhatian terhadap kesehatan balita.
Promosi Kesehatan Berbasis Budaya Lokal di Wilayah Kerja Puskesmas Pattoapakang, Kabupaten Takalar: Promosi Kesehatan Berbasis Budaya Lokal di Wilayah Kerja Puskesmas Pattopakang, Kabupaten Takalar Muhammad Arsyad Acha; Muhammad Syafar
Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas Vol. 6 No. 1 (2026): JPKK Edisi April 2026
Publisher : Universitas Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/jpkk.Vol6.Iss1.2508

Abstract

This community service program aimed to improve community knowledge and participation in environmental health through culturally based health promotion. The activity was conducted on November 1, 2025, in the working area of Pattoapakang Primary Health Center, Takalar Regency, as part of the 43rd Anniversary of the Faculty of Public Health, Hasanuddin University. Participants included health cadres, housewives, community leaders, and youth, totaling 50 individuals. The methods included culturally based health education, clean and healthy living behavior (PHBS) practice simulations, health cadre training, and evaluation using a pre-test and post-test design. The cultural approach integrated local Bugis-Makassar values—sipakatau (mutual respect), sipakalebbi (mutual honor), and sipakainge (mutual reminding)—into health promotion messages. The evaluation results showed an increase in participants’ knowledge, with the average score improving from 62 in the pre-test to 85 in the post-test. Community participation in environmental hygiene practices and collective activities also improved. The culturally based approach enhanced message acceptance as it aligned with local social values. This program demonstrates that culturally based health promotion is an effective community empowerment strategy and has the potential to support sustainable health behavior change. Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kesehatan lingkungan melalui pendekatan promosi kesehatan berbasis budaya lokal. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 1 November 2025 di wilayah kerja Puskesmas Pattoapakang, Kabupaten Takalar, dalam rangka Dies Natalis ke-43 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Sasaran kegiatan meliputi kader kesehatan, ibu rumah tangga, tokoh masyarakat, dan pemuda dengan jumlah peserta sebanyak 50 orang. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan kesehatan berbasis kearifan lokal, simulasi praktik perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pelatihan kader kesehatan, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Pendekatan kultural dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai lokal masyarakat Bugis-Makassar, yaitu sipakatau (saling menghargai), sipakalebbi (saling memuliakan), dan sipakainge (saling mengingatkan) sebagai media penyampaian pesan kesehatan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan lingkungan dan PHBS, ditunjukkan oleh peningkatan rata-rata nilai peserta dari 62 pada pre-test menjadi 85 pada post-test. Selain itu, terjadi peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan kebersihan lingkungan dan praktik gotong royong. Pendekatan berbasis budaya terbukti meningkatkan penerimaan pesan kesehatan karena selaras dengan sistem nilai dan kebiasaan sosial masyarakat. Kegiatan ini menyimpulkan bahwa integrasi kearifan lokal dalam promosi kesehatan merupakan strategi efektif dalam pemberdayaan masyarakat serta berpotensi menciptakan perubahan perilaku kesehatan yang lebih berkelanjutan. Model promosi kesehatan berbasis budaya lokal dapat direplikasi pada wilayah lain dengan karakteristik sosial budaya yang serupa.