Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk penggunaan bahasa, serta fungsi simbolik pada lanskap linguistik di kawasan wisata cagar budaya Kota Medan, khususnya Istana Maimoon dan Rumah Tjong A Fie. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan lanskap linguistik. Data penelitian berupa teks dan elemen visual yang terdapat pada tanda-tanda lanskap linguistik di ruang publik kawasan wisata cagar budaya Kota Medan. Sumber data berupa papan nama, petunjuk arah, tanda informasi, tanda larangan dan imbauan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, dokumentasi foto, dan wawancara dengan pengelola kawasan wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lanskap linguistik di kawasan wisata cagar budaya Kota Medan terdiri atas lanskap linguistik khusus dan lanskap linguistik umum. Lanskap linguistik khusus memuat informasi yang berkaitan dengan identitas dan sejarah kawasan wisata, sedangkan lanskap linguistik umum berkaitan dengan petunjuk, larangan, dan imbauan bagi pengunjung. Bentuk bahasa yang digunakan meliputi monolingual, bilingual, dan multilingual. Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa nasional yang ingin ditegaskan di ruang publik. Bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa internasional untuk memberikan akses informasi bagi wisatawan mancanegara. Sementara itu, penggunaan tulisan Arab Melayu di Istana Maimoon dan bahasa Mandarin di Rumah Tjong A Fie berfungsi sebagai bahasa komunitas yang merepresentasikan keberadaan, identitas, dan latar belakang sosial budaya komunitas Melayu dan Tionghoa yang terkait dengan kawasan cagar budaya tersebut. Fungsi simbolik lanskap linguistik ditunjukkan melalui penggunaan warna hijau dan kuning di Istana Maimoon, warna putih dan hitam di kedua kawasan, serta warna merah pada tanda larangan dan peringatan, serta melalui penggunaan jenis huruf serif, sans-serif, script, dan handwriting yang merepresentasikan identitas, nilai, dan citra kawasan wisata cagar budaya Kota Medan. Berdasarkan temuan penelitian, lanskap linguistik di kawasan cagar budaya Kota Medan mencerminkan relasi antara bahasa, identitas komunitas, dan fungsi ruang publik dalam membangun makna sosial dan budaya kawasan wisata tersebut.