Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Lanskap Linguistik di Kawasan Wisata Cagar Budaya Kota Medan Fathul Jannah Harahap; Mulyadi; Tasnim Lubis
ESTETIK : Jurnal Bahasa Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Mei
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/estetik.v9i1.16108

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk penggunaan bahasa, serta fungsi simbolik pada lanskap linguistik di kawasan wisata cagar budaya Kota Medan, khususnya Istana Maimoon dan Rumah Tjong A Fie. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan lanskap linguistik. Data penelitian berupa teks dan elemen visual yang terdapat pada tanda-tanda lanskap linguistik di ruang publik kawasan wisata cagar budaya Kota Medan. Sumber data berupa papan nama, petunjuk arah, tanda informasi, tanda larangan dan imbauan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, dokumentasi foto, dan wawancara dengan pengelola kawasan wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lanskap linguistik di kawasan wisata cagar budaya Kota Medan terdiri atas lanskap linguistik khusus dan lanskap linguistik umum. Lanskap linguistik khusus memuat informasi yang berkaitan dengan identitas dan sejarah kawasan wisata, sedangkan lanskap linguistik umum berkaitan dengan petunjuk, larangan, dan imbauan bagi pengunjung. Bentuk bahasa yang digunakan meliputi monolingual, bilingual, dan multilingual. Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa nasional yang ingin ditegaskan di ruang publik. Bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa internasional untuk memberikan akses informasi bagi wisatawan mancanegara. Sementara itu, penggunaan tulisan Arab Melayu di Istana Maimoon dan bahasa Mandarin di Rumah Tjong A Fie berfungsi sebagai bahasa komunitas yang merepresentasikan keberadaan, identitas, dan latar belakang sosial budaya komunitas Melayu dan Tionghoa yang terkait dengan kawasan cagar budaya tersebut. Fungsi simbolik lanskap linguistik ditunjukkan melalui penggunaan warna hijau dan kuning di Istana Maimoon, warna putih dan hitam di kedua kawasan, serta warna merah pada tanda larangan dan peringatan, serta melalui penggunaan jenis huruf serif, sans-serif, script, dan handwriting yang merepresentasikan identitas, nilai, dan citra kawasan wisata cagar budaya Kota Medan. Berdasarkan temuan penelitian, lanskap linguistik di kawasan cagar budaya Kota Medan mencerminkan relasi antara bahasa, identitas komunitas, dan fungsi ruang publik dalam membangun makna sosial dan budaya kawasan wisata tersebut.
Lexicon of Medicinal Plant in Gayo Ethnic Fathul Jannah Harahap; Namira Az-Zahra; Tasnim Lubis
Tradition and Modernity of Humanity Vol. 5 No. 1 (2025): January
Publisher : TALENTA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/tmh.v5i1.21662

Abstract

The purpose of this study is to identify and describe the ethnobotanical lexicon of traditional medicine of the Gayo community and to understand its lexical meaning based on the ecological and cultural experiences inherent in the speech of the community. This study uses a qualitative approach to explore and understand the meaning of individuals or groups derived from social problems, with a focus on the natural context and descriptive data such as words or pictures. Based on the results of the research that has been conducted, it can be concluded that the Gayo community in Blangkejeren has a wealth of lexicon in local languages ​​that are closely related to traditional medicine practices. These lexicons reflect not only linguistic knowledge, but also local knowledge that is passed down from generation to generation.
THE LINGUISTIC LANDSCAPE OF TOURIST AREAS IN MEDAN Fathul Jannah Harahap; Mulyadi; Tasnim Lubis
Leksema: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/ljbs.v10i2.12761

Abstract

This study examines the linguistic landscape of tourist areas in Medan, focusing on how languages operate and function within public spaces. Tourism areas were chosen as the research context because they attract visitors from various backgrounds and often display multilingual practices. This study aims to describe the forms and functions of linguistic landscapes while also exploring the symbolic meanings conveyed through visual elements such as typography, colors, and logos. A qualitative descriptive method was applied, with data collected through observation, interview, and photographic documentation of signs in several tourist destinations, including Istana Maimoon, Masjid Raya Al-Mashun, Tjong A Fie Mansion, Museum Perkebunan I, Shri Mariamman Temple, and the Rahmat International Wildlife Museum. The findings reveal the presence of monolingual, bilingual, and multilingual signs that highlight Medan’s multicultural identity and its role as a domestic and international tourist destination. Indonesian dominates as the national language, reinforcing unity, accessibility, and loyalty to the national language, while foreign languages such as English, Tamil, and Mandarin expand communicative reach. Latin, used in the Rahmat International Wildlife Museum, serves as a scientific language for naming species, emphasizing its educational and academic role. Symbolic functions are conveyed through colors, typography, and logos that embody religious, cultural, and ecological values. Informational functions are realized in name signs, directional signs, informational signs and prohibition signs that guide and regulate visitor behavior. The linguistic landscape of Medan’s tourist areas serves not only as a means of public communication but also as a reflection of cultural heritage, social values, and urban identity.