Rika Kartika
Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Islam Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Linguistik Forensik sebagai Alat Bukti dalam Kasus Cyberbullying oleh Generasi Z: Perspektif Literasi Hukum Joharsah Joharsah; Rika Kartika; Diah Kusyani
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia SPECIAL EDITION: LALONGET VI
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ghancaran.vi.21727

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis kontribusi linguistik forensik sebagai instrumen analitik dalam pembuktian hukum kasus cyberbullying yang dilakukan oleh Generasi Z, serta menelaah keterkaitan antara tingkat literasi hukum digital dan kecenderungan keterlibatan mereka dalam ujaran kebencian berbasis media daring. Dengan menggunakan metode kualitatif berparadigma deskriptif-analitis, data diperoleh melalui teknik observasi partisipatif terhadap teks digital di media sosial (TikTok, Instagram, dan Facebook), wawancara mendalam dengan pakar linguistik dan praktisi hukum, serta penyebaran survei terhadap 75 responden Generasi Z. Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa tindak perundungan siber banyak diwujudkan dalam bentuk sarkasme, body shaming, imperative bernada ancaman, dan labeling yang diskriminatif. Temuan linguistik forensik menunjukkan kemampuan dalam merekonstruksi intensi komunikatif pelaku dan mengaitkannya dengan norma hukum, khususnya dalam konteks Undang-Undang ITE. Survei mengungkap bahwa mayoritas responden belum memiliki pemahaman hukum digital yang memadai, yang berdampak pada rendahnya kesadaran preventif terhadap ujaran bermasalah. Penelitian ini merekomendasikan integrasi model literasi hukum digital berbasis tiga pilar sebagai pendekatan edukatif preventif, serta menekankan pentingnya kolaborasi multidisipliner antara linguistik dan hukum dalam membangun sistem pembuktian yang adaptif terhadap dinamika kejahatan bahasa di era digital
Analisis Linguistik Forensik sebagai Alat Bukti dalam Kasus Cyberbullying oleh Generasi Z: Perspektif Literasi Hukum Joharsah Joharsah; Rika Kartika; Diah Kusyani
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia SPECIAL EDITION: LALONGET VI
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ghancaran.vi.21727

Abstract

This study aims to explore the strategic role of forensic linguistics as a scientific tool for evidentiary analysis in cyberbullying cases involving Generation Z, while also examining the correlation between digital legal literacy and their engagement in online hate speech. Employing a qualitative methodology with a descriptive-analytic approach, this research integrates multimodal data sources: digital text analysis from social media platforms (TikTok, Instagram, and Facebook), in-depth interviews with legal and linguistic experts, and a structured survey involving 75 Generation Z respondents. The results demonstrate that cyberbullying discourse is predominantly manifested through forms such as sarcasm, body shaming, covert threats, and discriminatory labeling—often disguised within colloquial digital expressions. Forensic linguistic analysis proves instrumental in identifying latent illocutionary acts and semantic-pragmatic structures that constitute violations under the Indonesian Electronic Information and Transactions Law (UU ITE). The findings further reveal that a significant proportion of Generation Z lacks foundational knowledge of digital legal norms, thereby increasing their vulnerability to either perpetrating or tolerating cyberbullying. This study proposes a three-pillar model of digital legal literacy—comprising the identification of unlawful expressions, comprehension of digital legal frameworks, and practical reporting competence—as a preventative educational framework. The research highlights the necessity for interdisciplinary collaboration between linguists, legal practitioners, and educators to address language-based cybercrimes in an increasingly digitized society.