p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Scientific Journal
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Kadar HBA1C dengan Konversi BTA Sputum pada Penderita Tuberkulosis Paru dengan Komorbid Diabetes Melitus Tipe II Yulson Rasyid; Reno Sari Caniago; Nazwa Aliefia Adzani; Erdanela Setiawati; Fredia Heppy
Scientific Journal Vol. 3 No. 4 (2024): SCIENA Volume III No 4, July 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i4.152

Abstract

Tuberkulosis paru atau disebut dengan TB paru merupakan infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Pada tahun 2022, TB menjadi penyebab kematian nomor 2 di dunia dan hingga saat ini, TB masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Tingginya kasus TB paru dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya kesadaran masyarakat dalam mengatasi atau mencegah terkenanya infeksi tuberculosis, status gizi, pola hidup, kontak erat dengan penderita TB paru dan penyakit penyerta seperti HIV, Diabetes Melitus (DM), dan Asma. Diabetes Melitus (DM) tipe II merupakan penyakit yang sampai saat ini masih dominan sebagai penyerta TB paru. Salah satu indikator kontrol glikemik pada DM adalah kadar hemoglobin A1c (HbA1c). Seseorang dikatakan DM tipe II apabila pada pengukuran kadar HbA1c ≥ 6,5%. Kondisi hiperglikemia pada DM tipe II juga dapat meningkatkan resiko seseorang terinfeksi TB paru dikarenakan hiperglikemia dapat menekan produksi sitokin, timbulnya defek pada fagositosis dan terjadinya disfungsi sel imun sehingga akan memengaruhi respon imun terhadap infeksi TB. DM tipe II sebagai penyakit penyerta pada TB paru diketahui dapat menyebabkan perpanjangan waktu konversi BTA sputum sehingga perubahan BTA positif menjadi negatif membutuhkan waktu yang lebih lama sehingga akan berdampak terhadap lama terapi, meningkatnya resiko penularan serta meningkatnya resiko timbulnya multi-drug resistant tuberculosis (MDR-TB).
Analisis Hubungan Tingkat Risiko Jatuh Dan Faktor-Faktor Risiko Jatuh Pasien-Lansia Di Puskesmas Kota-Padang Erdanela Setiawati; Febianne Eldrian; Rosmaini; Muhammad Arif Ilham
Scientific Journal Vol. 4 No. 3 (2025): SCIENA Volume IV No 3, May 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i3.206

Abstract

Pendahuluan: Populasi lansia terus meningkat. Proses degeneratif pada lansia menyebabkan lansia berisiko untuk jatuh. Banyak faktor-risiko-jatuh lansia seperti faktor-intrinsik (usia, riwayat-jatuh dan-sebagainya), faktor-ekstrinsik (lingkungan seperti lantai-licin, pencahayaan-kurang dan-sebagainya). Untuk mencegah lansia jatuh, perlu diidentifikasi faktor-risiko dan tingkat-risiko-jatuh lansia. Tujuan-penelitian: mengidentifikasi faktor-faktor risiko-jatuh, mengetahui tingkat-risiko-jatuh, dan menganalisis hubungan faktor-risiko dan tingkat-risiko-jatuh pasien-lansia di Puskesmas-Lubuk-Kilangan Padang. Metode: Penelitian-analitik-kuantitatif ini menggunakan desain cross-sectional, menggunakan data-primer dan data-sekunder, dilakukan pada bulan April-Desember 2024. Sampel adalah pasien-lansia di Puskesmas-Lubuk-Kilangan Kota-Padang, dan dengan kriteria inklusi dan eksklusi, diperoleh besar sampel 90 pasien-lansia. Instrumen penelitian adalah Morse-Fall-Scale. Analisis data univariat disajikan dalam bentuk distribusi-frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan Odds-Ratio (OR). Hasil: faktor-faktor-risiko-jatuh yang dimiliki pasien-lansia, berurutan sebagai berikut: terbanyak memiliki faktor-risiko diagnosis-sekunder 68 lansia (75.6%), diikuti gaya-berjalan atau cara-berpindah yang tidak-normal 29 lansia (32.2%), menggunakan alat-bantu-jalan 9 lansia (10.0%), memiliki riwayat-jatuh 8 lansia (8.9%), ada terapi-intravena 1 lansia (1.1%), terakhir  status-mental-dengan-keterbatasan 1 lansia (1.1%). Mayoritas pasien-lansia memiliki tingkat-risiko-jatuh adalah tidak-ada-risiko 62 lansia (68,9%), risiko-rendah 22 orang (24,4%) dan risiko-tinggi 6 orang (6.7%). Hubungan faktor-risiko dengan tingkat-risiko-jatuh. Ada 2 faktor-risiko yang berhubungan dan kekuatan hubungannya sebagai berikut:  1) Riwayat-Jatuh dengan  p-value=0.000 dan OR=4.000;  2) Gaya-Berjalan/Cara-Berpindah dengan p-value=0.012 dan OR=12.500. Ada 4 faktor-risiko yang tidak berhubungan yaitu : 1) Diagnosis-Sekunder dengan p-value=0.330, 2) Alat-Bantu-Jalan dengan p-value=0.108,  3) Terapi-Intravena dengan p-value=1.000, 4) Status-Mental p-value=0.067. Kesimpulan: Kami menemukan faktor-risiko-jatuh terbanyak pasien-lansia di Puskesmas-Lubuk-Kilangan-Padang adalah diagnosis-sekunder. Tingkat-risiko terbanyak adalah tidak-ada-risiko. Analisis hubungan faktor-risiko dengan tingkat-risiko-jatuh: dua berhubungan (Riwayat-Jatuh dan Gaya-Berjalan/Cara-Berpindah), empat tidak berhubungan (Diagnosis-Sekunder, Alat-Bantu-Jalan, Terapi-Intravena, dan Status-Mental).