Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Hubungan Tingkat Risiko Jatuh Dan Faktor-Faktor Risiko Jatuh Pasien-Lansia Di Puskesmas Kota-Padang Erdanela Setiawati; Febianne Eldrian; Rosmaini; Muhammad Arif Ilham
Scientific Journal Vol. 4 No. 3 (2025): SCIENA Volume IV No 3, May 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i3.206

Abstract

Pendahuluan: Populasi lansia terus meningkat. Proses degeneratif pada lansia menyebabkan lansia berisiko untuk jatuh. Banyak faktor-risiko-jatuh lansia seperti faktor-intrinsik (usia, riwayat-jatuh dan-sebagainya), faktor-ekstrinsik (lingkungan seperti lantai-licin, pencahayaan-kurang dan-sebagainya). Untuk mencegah lansia jatuh, perlu diidentifikasi faktor-risiko dan tingkat-risiko-jatuh lansia. Tujuan-penelitian: mengidentifikasi faktor-faktor risiko-jatuh, mengetahui tingkat-risiko-jatuh, dan menganalisis hubungan faktor-risiko dan tingkat-risiko-jatuh pasien-lansia di Puskesmas-Lubuk-Kilangan Padang. Metode: Penelitian-analitik-kuantitatif ini menggunakan desain cross-sectional, menggunakan data-primer dan data-sekunder, dilakukan pada bulan April-Desember 2024. Sampel adalah pasien-lansia di Puskesmas-Lubuk-Kilangan Kota-Padang, dan dengan kriteria inklusi dan eksklusi, diperoleh besar sampel 90 pasien-lansia. Instrumen penelitian adalah Morse-Fall-Scale. Analisis data univariat disajikan dalam bentuk distribusi-frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan Odds-Ratio (OR). Hasil: faktor-faktor-risiko-jatuh yang dimiliki pasien-lansia, berurutan sebagai berikut: terbanyak memiliki faktor-risiko diagnosis-sekunder 68 lansia (75.6%), diikuti gaya-berjalan atau cara-berpindah yang tidak-normal 29 lansia (32.2%), menggunakan alat-bantu-jalan 9 lansia (10.0%), memiliki riwayat-jatuh 8 lansia (8.9%), ada terapi-intravena 1 lansia (1.1%), terakhir  status-mental-dengan-keterbatasan 1 lansia (1.1%). Mayoritas pasien-lansia memiliki tingkat-risiko-jatuh adalah tidak-ada-risiko 62 lansia (68,9%), risiko-rendah 22 orang (24,4%) dan risiko-tinggi 6 orang (6.7%). Hubungan faktor-risiko dengan tingkat-risiko-jatuh. Ada 2 faktor-risiko yang berhubungan dan kekuatan hubungannya sebagai berikut:  1) Riwayat-Jatuh dengan  p-value=0.000 dan OR=4.000;  2) Gaya-Berjalan/Cara-Berpindah dengan p-value=0.012 dan OR=12.500. Ada 4 faktor-risiko yang tidak berhubungan yaitu : 1) Diagnosis-Sekunder dengan p-value=0.330, 2) Alat-Bantu-Jalan dengan p-value=0.108,  3) Terapi-Intravena dengan p-value=1.000, 4) Status-Mental p-value=0.067. Kesimpulan: Kami menemukan faktor-risiko-jatuh terbanyak pasien-lansia di Puskesmas-Lubuk-Kilangan-Padang adalah diagnosis-sekunder. Tingkat-risiko terbanyak adalah tidak-ada-risiko. Analisis hubungan faktor-risiko dengan tingkat-risiko-jatuh: dua berhubungan (Riwayat-Jatuh dan Gaya-Berjalan/Cara-Berpindah), empat tidak berhubungan (Diagnosis-Sekunder, Alat-Bantu-Jalan, Terapi-Intravena, dan Status-Mental).
Penyuluhan dan Skrining Tuberkulosis pada Anak di Panti Asuhan Ashabil Rayan Laura Zeffira; Kurnia Maidarmi Handayani; Febianne Eldrian; Mutiara Amonica
Abdika Sciena Vol 3 No 1 (2025): JURABDIKES Volume 3 No 1, Juni 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/jurabdikes.v3i1.235

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan global. Penyakit ini dapat ditemukan di semua usia termasuk anak. Indonesia menduduki peringkat kedua kasus TB terbanyak di dunia dengan perkiraan  1.060.000 kasus TB, dan sebanyak 110.881 kasus anak usia < 15 th pada tahun 2022. Kegiatan skrining sangat berguna untuk mendeteksi kasus TB secara dini serta mengurangi masalah penularan infeksi TB. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk mendeteksi penularan TB anak terutama di wilayah panti asuhan Ashabil Rayan dengan sasaran seluruh anak yang bertempat tinggal di panti asuhan ashabil rayan dengan usia 5-14 tahun. Mengingat tingginya resiko penularan TB pada anak di asrama,  maka dilakukanlah penyuluhan serta skrining TB pada anak di wilayah panti asuhan Ashabil Rayan agar penyakit tuberkulosis dapat terdeteksi dan teratasi sejak dini.