p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Scientific Journal
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gambaran Pasien Tuberkulosis Multidrug Resistance (TB-MDR) yang Menjalani Pengobatan di RSUD M.Natsir Selama Periode Tahun 2021-2024 Sari Nikmawati
Scientific Journal Vol. 3 No. 5 (2024): SCIENA Volume III No 5, September 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i5.163

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis Multidrug-Resistant (TB MDR) merupakan salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian TB secara global. Indonesia termasuk dalam negara dengan beban TB MDR tinggi, di mana resistensi terhadap rifampisin dan isoniazid mengakibatkan pengobatan yang lebih kompleks, berdurasi panjang, serta berisiko efek samping. Tujuan: Mengetahui gambaran pasien TB MDR yang menjalani pengobatan di RSUD M. Natsir selama periode 2021–2024. Metode: Studi deskriptif dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien TB MDR yang menjalani pengobatan di RSUD M. Natsir Solok pada tahun 2021– 2024. Sampel penelitian berjumlah 62 pasien yang dipilih dengan metode total sampling. Hasil: Mayoritas pasien TB MDR adalah laki-laki sebanyak 32 orang (51,6%) dan paling banyak terjadi pada kelompok usia 46–55 tahun (42%). Berdasarkan jenis pekerjaan, kasus TB MDR terbanyak terjadi pada Ibu Rumah Tangga (IRT) sebanyak 25 orang (40,3%). Komorbid yang paling sering ditemukan adalah diabetes melitus tipe 2 (54,5%). Efek samping pengobatan yang paling banyak dikeluhkan adalah mual sebanyak 37 kasus (59,6%). Indeks Massa Tubuh (IMT) yang paling banyak ditemui adalah underweight (56,4%) dengan jenis resistensi yang paling sering ditemukan adalah resistensi sekunder (59,6%). Kesimpulan: Kasus TB MDR di RSUD M. Natsir selama periode tahun 2021-2024 lebih banyak lebih banyak terjadi pada laki-laki dengan kelompok usia terbanyak pada kategori 46-55 tahun. Mayoritas pasien bekerja sebagai IRT dan DM tipe 2 merupakan penyakit komorbid yang paling sering ditemukan . Efek samping pengobatan yang paling banyak dikeluhkan adalah mual. Berdasarkan status gizi terbanyak ditemui adalah underweight dengan jenis resistensi yang paling sering ditemukan adalah resistensi sekunder.
Gambaran Gejala Non Motorik Penderita Penyakit Parkinson di Poliklinik Neurologi RSUD M. Natsir Solok Asrizal Asril; Sari Nikmawati
Scientific Journal Vol. 4 No. 5 (2025): SCIENA Volume IV No 5, September 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i5.265

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Parkinson adalah penyakit degenerasi otak yang terbanyak kedua, setelah penyakit Dementia Alzheimers. Penyakit Parkinson ini juga merupakan penyakit yang tingkat insidensinya bertambah banyak setiap tahun. Penyakit Parkinson sendiri memiliki dimensi gejala yang sangat bervariasi antara satu pasien dengan pasien lainnya. Gejalanya pun cukup beragam, yang meliputi gejala motorik maupun gejala non-motorik. Gejala tersebut seiring waktu akan mengalami progresifitas atau perburukan, yang mana hal tersebut dapat mengganggu kualitas hidup pasien. Data gambaran gejala non motorik Penyakit Parkinson di RSUD M. Natsir belum ada. Tujuan: Mengetahui gambaran gejala non motorik Penyakit Parkinson Di Poliklinik Neurologi RSUD M Natsir Solok. Metode : Studi deskriptif  kuantitatif melalui desain cross sectional dengan menggunakan data rekam medik penderita Parkinson di Poliklinik Neurologi RSUD M. Natsir dari bulan Januari 2025 sampai Juni 2025.  Data penderita kemudian diolah dan ditampilkan dalam bentuk narasi dan tabel. Hasil : Pada penelitian ini didapatkan 30 subjek penelitian penderita parkinson dengan  gejala non motorik 22 orang (73 %) dan tanpa gejala non motorik 8 orang (27%). Mayoritas penderita parkinson adalah jenis kelamin perempuan sebanyak 17 orang (57 %), usia terbanyak 60-69 tahun sebanyak 12 orang (40 %), pekerjaan terbanyak pensiunan PNS sebanyak 11 orang (36 %) dan tingkat pendidikan terbanyak SMA sebanyak 11 orang (37 %). Gejala non motorik didapatkan  nyeri  (37 %), gangguan tidur (14 %), hipersalivasi  (14 %), demensia  (9 %), gangguan gastrointestinal (9 %), dan gangguan berkemih (9 %), depresi (4 %), dan disfagia (4 %). Kesimpulan : Pada penelitian ini didapatkan hasil gejala non motorik Penyakit Parkinson adalah  nyeri (37 %), gangguan tidur (14 %), hipersalivasi (14 %), demensia (9 %), gangguan gastrointestinal (9 %), dan gangguan berkemih  (9 %), depresi  (4 %), dan disfagia (4 %).