p-Index From 2021 - 2026
1.204
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Scientific Journal
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Giant Cell of the Bone: Laporan Kasus dan Tinjauan Pustaka: Laporan Kasus dan Tinjauan Pustaka Meta Zulyati Oktora; Pamelia Mayorita
Scientific Journal Vol. 4 No. 1 (2025): SCIENA Volume IV No 1, January 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i1.192

Abstract

Giant Cell Tumor of the Bone (GCTB) adalah neoplasma tulang yang jarang terjadi namun bersifat agresif secara lokal dan sering mengenai epifisis tulang panjang. Laporan kasus ini menggambarkan seorang pria berusia 39 tahun dengan massa yang membesar secara progresif pada lutut kanan selama dua tahun. Pasien memiliki riwayat trauma pada lutut kanan. MRI femur dengan kontras menunjukkan lesi osteolitik ekspansif pada epifisis femur distal. Pemeriksaan histopatologik mengonfirmasi diagnosis GCTB dengan adanya sel multinukleasi raksasa dalam latar belakang stroma mononuklear. Pasien menjalani kuretase intralesional dengan cangkok tulang untuk mengurangi risiko kekambuhan. Patofisiologi GCTB melibatkan interaksi RANK/RANKL yang mendorong resorpsi tulang yang dimediasi osteoklas. Meskipun jinak, GCTB memiliki tingkat kekambuhan yang tinggi dan dalam kasus yang jarang dapat mengalami transformasi ganas. Analisis perbandingan dengan kasus lain menyoroti pentingnya terapi adjuvan dan pendekatan pengobatan bertarget seperti denosumab dalam meningkatkan hasil klinis pasien.
Gaya Hidup dan Risiko Kanker Payudara pada Remaja Putri: A Systematic Review Meta Zulyati Oktora; Sandripa Banoza; Zaki Ahmad Maulana; Muhammad Haekal
Scientific Journal Vol. 4 No. 1 (2025): SCIENA Volume IV No 1, January 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i1.196

Abstract

Latar Belakang : Kanker payudara merupakan salah satu penyebab utama kematian terkait kanker pada wanita, termasuk di kalangan remaja putri. Insidensi kanker payudara di Asia, termasuk Indonesia, menunjukkan peningkatan yang signifikan berdasarkan data Global Burden of Cancer. Gaya hidup modern, seperti konsumsi makanan tinggi lemak, obesitas, merokok, dan stres, telah diidentifikasi sebagai faktor risiko utama yang memperburuk kondisi ini. Oleh karena itu, memahami hubungan antara gaya hidup dan risiko kanker payudara pada remaja putri menjadi penting untuk mendukung upaya pencegahan dini. Metode: Studi ini merupakan tinjauan sistematis yang dilakukan sesuai dengan protokol PRISMA-P. Pencarian literatur dilakukan di basis data Google Scholar dan PubMed untuk mengidentifikasi studi yang relevan. Kata kunci menggunakan pendekatan PICO-S meliputi "wanita muda", "gaya hidup", "kanker payudara", dan "risiko". Sembilan studi yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara naratif untuk mengevaluasi hubungan antara gaya hidup dan risiko kanker payudara. Hasil: Dari sembilan studi yang diulas, ditemukan bahwa stres memiliki odds ratio (OR) tertinggi sebesar 2,657, diikuti oleh konsumsi makanan tinggi lemak (OR = 2,872) dan obesitas (OR = 1,942). Merokok dan kurangnya aktivitas fisik juga berkontribusi dalam meningkatkan risiko kanker payudara pada remaja putri. Faktor gaya hidup yang paling dominan adalah stres, yang dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara secara signifikan. Kesimpulan: Gaya hidup tidak sehat, terutama stres, pola makan tinggi lemak, dan obesitas, berperan penting dalam meningkatkan risiko kanker payudara pada remaja putri. Intervensi dini yang berfokus pada pengelolaan stres, pola makan sehat, dan peningkatan aktivitas fisik sangat diperlukan. Edukasi kesehatan yang komprehensif dan berbasis bukti menjadi langkah strategis untuk mencegah kanker payudara di kalangan wanita muda.
Lesi Litik Punched-Out pada Tengkorak: Laporan Kasus Granuloma Eosinofilik dengan Temuan Radiologi dan Histopatologi Zulda Musyarifah; Meta Zulyati Oktora; Rahmi Ramadhani; Tiara Febrina
Scientific Journal Vol. 4 No. 2 (2025): SCIENA Volume IV No 2, March 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i2.199

Abstract

Latar Belakang: Granuloma eosinofilik (EG) adalah bentuk terlokalisasi dari Langerhans Cell Histiocytosis (LCH), suatu kelainan langka yang ditandai oleh proliferasi klonal sel Langerhans. Tengkorak merupakan salah satu tulang yang paling sering terkena, di mana EG muncul sebagai lesi litik berbatas jelas ("punched-out") yang dapat menyerupai kondisi patologis lainnya. Diagnosis yang akurat memerlukan korelasi antara temuan klinis, radiologis, dan histopatologis. Laporan Kasus : seorang anak perempuan berusia 8 tahun yang datang dengan massa tidak nyeri di tengkorak. Pasien menjalani pemeriksaan radiologi, termasuk CT-scan dengan kontras, yang dilanjutkan dengan biopsi bedah dan pemeriksaan histopatologi. Pemeriksaan imunohistokimia (IHC) dilakukan untuk mengonfirmasi diagnosis, dengan penekanan pada ekspresi Cyclin D1 sebagai penanda alternatif dalam kondisi dengan keterbatasan sumber daya. Pemeriksaan CT-scan dengan kontras menunjukkan lesi litik punched-out dengan komponen jaringan lunak di tulang frontal kiri, yang meluas hingga ke atap orbita. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan infiltrasi padat sel Langerhans, dengan ukuran 12–15 mikron, sitoplasma eosinofilik pucat yang melimpah, inti tidak teratur dan memanjang dengan lekukan dan lipatan nukleus yang menonjol, kromatin halus, serta nukleolus yang tidak mencolok. Latar belakang inflamasi mengandung banyak eosinofil, sel raksasa multinukleasi, dan pembentukan tulang reaktif. Pemeriksaan IHC menunjukkan ekspresi positif Cyclin D1, yang mendukung diagnosis granuloma eosinofilik. Kesimpulan : Kasus ini menyoroti pentingnya integrasi antara temuan radiologis dan histopatologi untuk memastikan diagnosis yang akurat pada lesi tengkorak pediatrik akibat granuloma eosinofilik. Korelasi antara gejala klinis, pemeriksaan radiologi, dan histopatologi sangat diperlukan. Mengenali morfologi sel Langerhans merupakan aspek krusial dalam diagnosis histopatologi. Pemeriksaan IHC diperlukan untuk mengonfirmasi asal sel tumor, dan Cyclin D1 dapat digunakan sebagai penanda alternatif yang berguna. Penilaian terpadu ini memungkinkan klasifikasi yang lebih akurat, sehingga dapat membimbing penatalaksanaan klinis yang tepat.
Karakteristik Pasien HIV/AIDS dengan Infeksi Oportunistik di RSUP Dr.M.Djamil Padang, Tahun 2021 Yuri Haiga; Debie Anggraini; Meta Zulyati Oktora; Puja Wanandri
Scientific Journal Vol. 4 No. 2 (2025): SCIENA Volume IV No 2, March 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i2.222

Abstract

Latar Belakang : Human Immunodefeciency Virus (HIV), merupakan virus penyebab Acquired Immune Defeciency Syndrome (AIDS) dengan sistem kerja menyerang darah putih sel CD 4 tergantung dari infeksi opertunistik yang menyertainya. Tujuan: Mengetahui gambaran karakteristik pasien HIV AIDS dengan infeksi opertunistik di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kategorik. Penelitian menggunakan rancangan total sampling menggunakan data sekunder dengan jumlah sampel sebanyak 31. Hasil : Dari 31 sampel pasien HIV AIDS dengan Infeksi Oportunistik, paling banyak berjenis kelamin laki-laki sebanyak 21 orang (93.5%), usia terbanyak pada dewasa yaitu 21 orang (67.7%), pekerjaan terbanyak adalah wiraswasta yaitu 11 orang (35.5%), pendidikan terbanyak adalah SMA yaitu 19 orang (61.3%) status pernikahan terbanyak adalah menikah yaitu 13 orang (41.9%) dan pasien terbanyak memiliki infeksi oportunistik adalah Infeksi Mycobacterium tuberculosis sebanyak 12 orang (38.7%). Kesimpulan: Pasien HIV AIDS banyak yang berjenis kelamin laki-laki ,usia 26-45 tahun, pekerjaan wiraswasta,Pendidikan SMA ,pasien sudah menikah dan dengan infeksi oportunisistik terbanyak yaitu infeksi Mycobacterium tuberculosis
Karakteristik Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Komplikasi Nefropati Diabetik di RSUP Dr. M. Djamil Padang Cindy Munawaroh Pratama Putri; Gangga Mahatma; Meta Zulyati Oktora; Debie Anggraini
Scientific Journal Vol. 4 No. 3 (2025): SCIENA Volume IV No 3, May 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i3.231

Abstract

Pendahuluan: Diabetes Melitus merupakan kondisi kronis yang terjadi akibat peningkatan kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia), yang dapat menyebabkan komplikasi kronis baik makrovaskular maupun mikrovaskular. Salah satu komplikasi mikrovaskular yang dapat terjadi yaitu Nefropati Diabetik. Komplikasi ini sering dijumpai pada 20-40% penderita diabetes serta menjadi penyebab paling utama End Stage Renal Disease (ESRD) atau gagal ginjal stadium akhir. Prevalensi DM tipe 2 yang tinggi menyebabkan banyak penderita DM tipe 2 yang berakhir dengan gagal ginjal stadium akhir akibat nefropati diabetik. Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik penderita diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi nefropati diabetik di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2019-2020. Metode: Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder. Populasi terjangkau penelitian ini adalah pasien DM tipe 2 dengan komplikasi nefropati diabetik di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2019-2020, dengan 50 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi menggunakan teknik total sampling. Hasil: Jenis kelamin terbanyak yaitu perempuan 31 orang (62,0%), penderita DM tipe 2 yang mengalami nefropati banyak pada kelompok usia 46-55 tahun (50,0%), dengan lama menderita DM terbanyak selama > 5-10 tahun (42,0%), stadium nefropati diabetik terbanyak yaitu stadium V (92,0%), kadar GDP dalam rentang normal(< 126 mg/dL) yaitu 29 orang (58,0%), nilai tengah kadar ureum yaitu 141,5 mg/dL dan nilai tengah kadar kreatinin yaitu 7,65 mg/dL, serta profil lipid yaitu 29 orang (58,0%) dengan kadar trigliserida tinggi (≥ 150 mg/dL) dan 41 orang (82,0%) dengan kadar HDL rendah( < 40 mg/dL). Kesimpulan: Karakteristik penderita DM tipe 2 dengan komplikasi nefropati diabetik pada penelitian ini didapatkan hasil yaitu paling banyak pada perempuan dengan kelompok usia 46-55 tahun dan telah mengalami ESRD serta adanya peningkatan kadar ureum dan kreatinin dan dislipidemia..
Penggunaan Sitologi Imprint Intraoperatif Pada Lesi Ganas Payudara: Suatu Mucinous Carcinoma yang Dikonfirmasi dengan Pemeriksaan Histopatologi Dwi Yanti Fioni Putri; Aswiyanti Asri; Rony Rustam; Meta Zulyati Oktora
Scientific Journal Vol. 4 No. 4 (2025): SCIENA Volume IV No 4, July 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i4.247

Abstract

Pendahuluan: Mucinous carcinoma (MC) merupakan jenis karsinoma payudara yang langka dan khusus, ditandai oleh kelompokan sel tumor epitel yang berada dalam kumpulan musin ekstraseluler. Diagnosis MC dapat diperoleh pada sampel sitologi imprint yang memberikan gambaran berupa kelompok epitel tiga dimensi dan sel tunggal berukuran kecil hingga sedang, atipia inti ringan hingga sedang, dan vakuola intrasitoplasma, yang tersuspensi dalam musin ekstraseluler yang melimpah. Penting untuk menentukan fitur sitologi dari karsinoma ini karena keberadaan musin ekstraseluler saja tidak patognomonik untuk MC. Laporan kasus: Seorang pasien perempuan usia 62 tahun datang ke poliklinik Bedah RS UNAND dengan keluhan utama benjolan pada payudara kanan sejak 2 tahun yang lalu. Pasien dilakukan tindakan MRM berdasarkan hasil pemeriksaan potong beku berupa lesi ganas. Pemeriksaan sitologi imprint intraoperatif dilakukan bersamaan dengan potong beku dan didapatkan gambaran berupa kelompokan sel-sel dengan peningkatan N/C ratio dan inti hiperkromatik dengan latar belakang musin ekstraseluler. Kesimpulan gambaran sitologi adalah mencurigakan untuk keganasan. Diagnosis histopatologi dari sediaan blok paraffin mengkonfirmasi suatu Mucinous Carcinoma Tipe A. Kesimpulan: Penggunaan sitologi imprint intraoperatif dapat menjadi pilihan dalam diagnostik sitologi dengan spesifisitas dan sensitivitas tinggi dalam mendiagnosis lesi jinak dan ganas. Sitologi imprint memiliki tingkat akurasi yang sama dengan FNA dengan pemeliharaan detail sel yang sangat baik, sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu diagnosis introperatif pada lesi payudara di negara-negara berkembang.
Fine Needle Aspiration Biopsy as A Useful Diagnostic Adjunct in The Management of Ameloblastoma: A Cytology Case Report Rum Affida Rasfa; Shinta Ayu Intan; Noza Hilbertina; Meta Zulyati Oktora
Scientific Journal Vol. 4 No. 4 (2025): SCIENA Volume IV No 4, July 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i4.249

Abstract

Background: Ameloblastoma is one of the most common benign odontogenic tumors, known for its slow growth but locally invasive behavior, often leading to extensive bone destruction if not diagnosed and treated early. Preoperative diagnosis of ameloblastoma can be made by Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) which is used as a guide for surgical planning. Diagnosis of ameloblastoma from cytology is challenging due to many pitfalls and differential diagnosis with other odontogenic lesions, but proper sampling and accurate diagnosis are very useful inpatient management Understanding its cytomorphological features can greatly assist in early differentiation from other maxillofacial neoplasms. This case report aims to describe the appearance of ameloblastoma on FNAB and reveal the contribution of the FNAB examination in the preoperative diagnosis of ameloblastoma so that adequate surgery can be carried out and the results are more optimal. Case report: We report a case of a tumor in the mandible of a 16-year-old man with a diagnosis of right mandibular tumor. The patient was sent for FNAB to the anatomical pathology laboratory. Preoperative cytology examination showed benign odontogenic lesions indicating ameloblastoma from FNAB. Furthermore, tumor resection was performed on the patient and histopathology tissue examination was performed with results consistent with ameloblastoma. Discussion: The FNAB procedure can be performed to establish for a pre-operative diagnosis of ameloblastoma. Cytological characteristics of ameloblastoma include basaloid cells or epithelial cells resembling ameloblasts with nuclei arranged palisade at the periphery and in the middle consisting of cells resembling stellate reticulum cells. False-negative results in the FNAB procedure can occur due to inadequate specimens or inaccurate sampling, mostly related to cystic tumors. To avoid this, FNAB tissue sampling can be performed at multiple sites and the deeper aspects of the tumor can assist in establishing an accurate preoperative diagnosis. Conclusion: The FNAB cytology is a reliable procedure for the pre-operative diagnosis of ameloblastoma. Pre-operative diagnosis of ameloblastoma can be used for planning therapy and early diagnosis of recurrence cases that can improve patient survival. The correlation between t
Sarkoma Ewing Sinonasal dengan Klinis dan Pencitraan Jinak: Pentingnya Pemeriksaan IHK Berlapis dalam Menentukan Diagnosis Akurat Pamelia Mayorita; Meta Zulyati Oktora
Scientific Journal Vol. 4 No. 5 (2025): SCIENA Volume IV No 5, September 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i5.256

Abstract

Sarkoma Ewing merupakan tumor ganas dari kelompok tumor sel kecil bulat yang umumnya ditemukan pada tulang panjang anak dan remaja. Keterlibatan regio sinonasal sangat jarang dan dapat menyerupai lesi jinak, baik secara klinis maupun radiologis, sehingga berpotensi menyebabkan keterlambatan diagnosis. Kami melaporkan kasus sarkoma Ewing primer di regio sinonasal dengan manifestasi yang menyerupai polip jinak, serta menekankan pentingnya pendekatan diagnostik histopatologi dan imunohistokimia berlapis dalam kasus dengan presentasi tidak khas. Seorang laki-laki usia 18 tahun datang dengan keluhan hidung tersumbat, epistaksis, dan penurunan penciuman. Pemeriksaan CT menunjukkan massa hipervaskuler sinonasal dengan kesan awal angiomatous polyp. Pasien menjalani embolisasi dan endoscopic sinus surgery (ESS). Histopatologi awal menunjukkan proliferasi sel bulat kecil dengan pleomorfisme dan mitosis atipik, dengan dugaan awal Sinonasal Undifferentiated Carcinoma. Pemeriksaan imunohistokimia CK dan CD45 menunjukkan hasil negatif. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan CD99 positif kuat dan difus pada membran sel, Ki-67 positif >30%, dan desmin negatif. Hasil ini mendukung diagnosis sarkoma Ewing. Pasien dirujuk untuk tatalaksana radioterapi. Sarkoma Ewing sinonasal sering kali tidak dikenali karena lokasinya yang tidak umum dan presentasinya yang menyerupai lesi jinak seperti polip atau angiofibroma. Pemeriksaan imunohistokimia, khususnya ekspresi CD99, merupakan penanda penting dalam membedakan sarkoma Ewing dari entitas lain dalam spektrum tumor sel kecil bulat. Diagnosis yang akurat sangat penting untuk menentukan terapi multimodal yang tepat, termasuk kemoterapi dan radioterapi. Sarkoma Ewing di regio sinonasal merupakan kasus langka dengan manifestasi klinis dan radiologis tidak khas. Pemeriksaan histopatologi dan imunohistokimia berperan penting dalam menegakkan diagnosis, terutama pada lokasi yang tidak lazim.