p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Scientific Journal
Muhammad Pramana Khalilul Harmi
Kartika Docta Surgical Specialty Hospital, Padang ,Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Efektivitas Metode Ponseti di Daerah Sumber Daya Terbatas: Tinjauan Literatur Sistematis Tentang Hasil, Hambatan, dan Adaptasi Kontekstual Ardian Riza; Noverial; Muhammad Pramana Khalilul Harmi; Mutia Sari; Mustafa Kamal; Rahmi Yetti
Scientific Journal Vol. 5 No. 2 (2026): SCIENA Volume V No 2, March 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i2.313

Abstract

Latar Belakang : Metode Ponseti kini menjadi standar emas global dalam penanganan clubfoot, namun penerapannya di daerah terpencil atau berpenghasilan rendah masih menghadapi tantangan nyata. Tinjauan ini bertujuan mengungkap bagaimana metode ini benar-benar bekerja di lapangan—bukan hanya secara teknis, tetapi juga dalam menghadapi hambatan budaya, logistik, dan sistem layanan. Metode :  Kami melakukan tinjauan literatur sistematis mengikuti pedoman PRISMA, menganalisis tiga studi observasional berkualitas tinggi dari Ethiopia, Zimbabwe, dan pedesaan Amerika Serikat yang dipublikasikan antara 2009–2018. Penilaian kualitas menggunakan checklist JBI. Hasil : Ketiga studi menegaskan satu hal: keberhasilan jangka panjang metode Ponseti bergantung hampir sepenuhnya pada kepatuhan penggunaan brace pasca-koreksi. Di Zimbabwe, 87% anak yang menggunakan brace selama ≥2 tahun mencapai hasil sukses [6]. Di Ethiopia, meski semua kaki berhasil dikoreksi, relaps terjadi pada kasus yang tidak memakai brace [2]. Di New Mexico, anak Native American di pedesaan memiliki risiko relaps 120 kali lebih tinggi akibat ketidakpatuhan brace [7]. Faktor seperti pendapatan rendah, pendidikan orang tua, jarak ke fasilitas, dan kesenjangan budaya dalam komunikasi terbukti menjadi penghambat besar. Selain itu, alat penilaian seperti skor Roye—yang dikembangkan di negara maju—ternyata melewatkan 22,7% kasus yang sebenarnya butuh rujukan ulang, sementara skor ACT hanya melewatkan 7,4% [6]. Kesimpulan : Metode Ponseti memang sederhana dan murah, tetapi tidak cukup hanya mengandalkan casting yang tepat. Ia butuh pendekatan holistik: edukasi visual yang sesuai budaya, sistem follow-up berbasis komunitas, dan alat penilaian yang kontekstual. Dengan itu, setiap anak—bahkan di nagari paling terpencil—bisa mendapatkan kaki yang lurus dan masa depan yang berjalan bebas.
Efektivitas Dekompresi Minimal Invasif Versus Dekompresi Terbuka pada Stenosis Spinal Lumbal: Tinjauan Sistematis Literatur Ardian Riza; Noverial; Muhammad Pramana Khalilul Harmi; Mutia Sari; Mustafa Kamal; Rahmi Yetti
Scientific Journal Vol. 5 No. 2 (2026): SCIENA Volume V No 2, March 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i2.314

Abstract

Latar Belakang: Teknik dekompresi minimal invasif (MIS) kini menjadi pilihan populer dalam penanganan stenosis spinal lumbal (LSS). Namun, banyak literatur kontemporer secara tidak tepat menyebut prosedur MIS—seperti laminotomi mikroskopik dengan tubular retractor—sebagai “laminectomy terbuka”, sehingga menciptakan ilusi perbandingan yang menyesatkan. Tujuan Penelitian: Menilai efektivitas klinis MIS dibandingkan laminectomy terbuka konvensional, yang secara operasional didefinisikan sebagai prosedur dengan insisi midline ≥4 cm, diseksi periosteal otot paraspinal, dan tanpa bantuan alat tubular atau endoskopi. Metode: Tinjauan sistematis ini mengikuti panduan PRISMA 2020. Pencarian dilakukan di PubMed, Scopus, dan Embase hingga Desember 2025. Hanya studi yang benar-benar membandingkan MIS dengan laminectomy terbuka sesuai definisi ketat yang dimasukkan. Risiko bias dinilai menggunakan ROBINS-I. Hasil: Dari 3.695 catatan, hanya satu studi (Nerland et al., 2015; n=885) yang memenuhi kriteria inklusi [1]. Studi ini menunjukkan bahwa MIS setara secara fungsional dengan laminectomy terbuka (selisih rata-rata ODI: 1,3 poin; batas ekivalensi = 8 poin; p<0,001 untuk ekivalensi) dan memberikan lama rawat inap yang lebih singkat (1,5–2,0 hari lebih pendek; p<0,001). Namun, tidak ada perbedaan signifikan dalam komplikasi setelah propensity matching. Yang lebih penting, tidak ditemukan studi kontemporer lain yang benar-benar membandingkan MIS dengan laminectomy terbuka konvensional, mengungkap kesenjangan bukti besar dalam literatur. Kesimpulan: Meskipun secara fungsional setara dan menawarkan keunggulan perioperatif, bukti komparatif yang valid hampir tidak ada. Klaim superioritas MIS atas “open” sering kali didasarkan pada perbandingan antar teknik minimal invasif, bukan terhadap prosedur terbuka sesungguhnya. Temuan ini sangat relevan untuk pengambilan keputusan klinis, terutama di negara berpenghasilan menengah seperti Indonesia.
A Augmentasi Biologis dalam Penyembuhan Fraktur Tibia: Tinjauan Literatur Sistematis Tentang Efektivitas Plasma Kaya Trombosit, Konsentrat Aspirat Sumsum Tulang, dan Adjuvan Biologis Lainnya terhadap Pemulihan Radiologis dan Fungsional Ardian Riza; Noverial; Muhammad Pramana Khalilul Harmi; Mutia Sari; Mustafa Kamal
Scientific Journal Vol. 5 No. 2 (2026): SCIENA Volume V No 2, March 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i2.315

Abstract

Latar Belakang: Fraktur tibia memiliki angka nonunion hingga 30%, terutama pada kasus terbuka atau distal. Augmentasi biologis seperti plasma kaya trombosit (PRP), konsentrat aspirat sumsum tulang (BMAC), dan protein morfogenetik tulang rekombinan (rhBMP) semakin digunakan, namun bukti klinisnya masih terfragmentasi [1,2]. Tujuan: Mensintesis bukti klinis terkini mengenai efikasi, keamanan, dan indikasi optimal adjuvan biologis dalam penyembuhan fraktur tibia. Metode: Tinjauan literatur sistematis dilakukan mengikuti panduan PRISMA 2020. Pencarian di PubMed menghasilkan 27 catatan; setelah penyaringan, 16 studi klinis (10 uji acak terkontrol, 6 observasional) yang melibatkan >1.800 pasien dimasukkan [3]. Hasil: rhBMP-2 (12 mg) mengurangi intervensi sekunder sebesar 44% pada fraktur tibia terbuka, tetapi tidak bermanfaat pada fraktur tertutup [4,5]. rhBMP-7 non-inferior dibanding autograft pada nonunion tibia dan mempercepat penyembuhan fraktur distal [6–8]. PRP dan BMAC mencapai angka penyatuan 90–93% dalam studi kecil dengan prosedur minim invasif [9,10]. Hormon pertumbuhan meningkatkan marker biokimia tanpa manfaat klinis [11]. Tidak ditemukan efek samping mayor.Kesimpulan: Efektivitas augmentasi biologis bergantung pada konteks klinis: rhBMP-2 untuk fraktur terbuka, rhBMP-7 untuk nonunion/distal, dan PRP/BMAC sebagai alternatif berbiaya rendah. Standardisasi protokol diperlukan sebelum adopsi luas terapi seluler.