p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Scientific Journal
Muhammad Pramana Khalilul Harmi
Kartika Docta Surgical Specialty Hospital, Padang ,Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Model Klinis Prediktor Lama Rawat Inap pada Pasien Fraktur Femur: Analisis Multivariat Berdasarkan Morfologi dan Metode Fiksasi Ardian Riza; Noverial; Muhammad Pramana Khalilul Harmi; Mutia Sari
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.295

Abstract

Pendahuluan: Fraktur femur merupakan cedera muskuloskeletal mayor yang sering memerlukan tatalaksana operatif dan rawat inap. Lama rawat inap (length of stay/LOS) menjadi indikator penting mutu pelayanan dan efisiensi rumah sakit. Berbagai faktor klinis seperti morfologi fraktur, metode fiksasi, usia, dan komorbid diduga memengaruhi LOS, namun data lokal mengenai model prediktor LOS pada fraktur femur masih terbatas. Tujuan Penelitian : Menyusun dan mengevaluasi model klinis prediktor lama rawat inap pada pasien fraktur femur berdasarkan morfologi fraktur, metode fiksasi, serta karakteristik pasien (usia, indeks massa tubuh/IMT, komorbid). Metode: Studi observasional analitik dengan desain retrospektif menggunakan data rekam medis fraktur femur di  RUMAH SAKIT KHUSUS BEDAH KARTIKA DOCTA periode 2024–2025. Terdapat 98 pasien fraktur femur; 97 pasien dengan data lengkap (termasuk IMT) dianalisis dalam model multivariat. Variabel dependen adalah LOS (hari). Variabel independen utama adalah morfologi fraktur (oblique, transverse, comminuted, lainnya) dan metode fiksasi (open reduction and internal fixation/ORIF, partial hip replacement/PHR, konservatif). Usia, IMT, dan jumlah komorbid dimasukkan sebagai kovariat. Analisis menggunakan regresi linear (ordinary least squares). Hasil: Rerata usia pasien 51,2 ± 24,3 tahun; 51,5% perempuan. Rerata IMT 21,6 ± 3,7 kg/m². Morfologi fraktur terbanyak adalah oblique (42,3%), diikuti transverse (36,1%) dan comminuted (17,5%). Metode fiksasi yang paling sering digunakan adalah ORIF (68,0%), diikuti PHR (19,6%) dan konservatif (12,4%). Sebagian besar pasien tidak memiliki komorbid (78,4%). Rerata LOS adalah 4,3 ± 1,5 hari (rentang 2–10). Rerata LOS berkisar antara 4,0 hari (comminuted) hingga 5,3 hari (morfologi lainnya), dan antara 4,2–4,4 hari pada berbagai metode fiksasi. Rerata LOS meningkat seiring jumlah komorbid (4,2 hari pada 0 komorbid, 4,6 pada 1, dan 5,2 pada 2 komorbid). Model regresi menghasilkan R² = 0,074 dan adjusted R² = –0,012. Tidak ada prediktor (morfologi fraktur, metode fiksasi, usia, IMT, jumlah komorbid) yang mencapai signifikansi statistik (p < 0,05). Kesimpulan: Dalam dataset ini, morfologi fraktur, metode fiksasi, usia, IMT, dan komorbid tidak membentuk model klinis prediktor LOS yang kuat pada pasien fraktur femur, dengan daya jelaskan sekitar 7% variasi LOS. Secara klinis terdapat kecenderungan LOS sedikit lebih panjang pada fraktur transverse dan pada pasien dengan komorbid lebih banyak, namun tren ini tidak signifikan secara statistik. Pengembangan model prediktif yang lebih akurat memerlukan penambahan variabel sistemik dan perioperatif serta peningkatan kualitas pencatatan data.
Analisis Jarak Tempuh dan Estimasi Waktu Transportasi Terhadap Penundaan Operasi pada Kasus Fraktur Femur Emergensi: . Ardian Riza; Noverial; Muhammad Pramana Khalilul Harmi; Mutia Sari
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.298

Abstract

Pendahuluan: Fraktur femur merupakan kegawatdaruratan ortopedi yang memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi sistemik seperti tromboemboli vena dan pneumonia. Dalam sistem rujukan di Indonesia, pasien sering datang dari wilayah terpencil, sehingga jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi dianggap sebagai faktor potensial yang menunda operasi.Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi terhadap durasi antara masuk IGD hingga pelaksanaan operasi sebagai proksi penundaan operasi pada fraktur femur emergensi. Metode: Studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang dilakukan terhadap pasien fraktur femur emergensi di sebuah rumah sakit rujukan provinsi Sumatera Barat periode Januari 2024–Juni 2025. Data dikumpulkan dari rekam medis elektronik dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman serta regresi linier ganda.. Hasil: Dari 98 pasien, hanya 31 pasien (31,6%) yang memiliki data lengkap. Rata-rata jarak tempuh adalah 117,8 ± 113,2 kilometer dan estimasi waktu tempuh 3,5 ± 2,4 jam. Median durasi IGD–operasi adalah 9,8 jam (IQR: 3,0–29,0 jam). Tidak terdapat korelasi signifikan antara jarak tempuh (r = 0,21; p = 0,16) maupun estimasi waktu tempuh (r = 0,18; p = 0,22) dengan durasi IGD–operasi. Model regresi linier ganda menunjukkan R² = 0,046 (p = 0,20), tidak bermakna secara statistik. Kesimpulan: Jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi tidak secara signifikan memengaruhi penundaan operasi fraktur femur emergensi. Faktor internal rumah sakit seperti ketersediaan ruang operasi dan sistem triase kemungkinan lebih dominan.