This Author published in this journals
All Journal Hexagon
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

APLIKASI SOFTWARE LEAP PADA PERKIRAAN KEBUTUHAN BEBAN LISTRIK DI WILAYAH LOMBOK TIMUR: APLIKASI SOFTWARE LEAP PADA PERKIRAAN KEBUTUHAN BEBAN LISTRIK DI WILAYAH LOMBOK TIMUR Muhammad Hidayatullah; Yogi Wardana; Ahmad Jaya; Indra Darmawan
Hexagon Vol 7 No 1 (2026): EDISI 11
Publisher : Fakultas Teknologi Lingkungan dan Mineral - Universitas Teknologi Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36761/hexagon.v7i1.4184

Abstract

Penyediaan energi listrik yang memadai dan tepat sasaran menjadi faktor penting dalam mendukung perkembangan pembangunan daerah, baik sektor industri, pelayanan publik, bisnis, maupun peningkatan kualitas hidup masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memproyeksikan kebutuhan beban energi listrik di Kabupaten Lombok Timur menggunakan perangkat lunak LEAP (Long-range Energy Alternatives Planning System) dengan pendekatan permodelan end-use. Metode yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dan pemodelan pada aplikasi LEAP dengan mempertimbangkan dua skenario, yaitu skenario baseline dan skenario 1. Skenario baseline merupakan kondisi masa depan berdasarkan kecenderungan yang sudah terjadi, sedangkan skenario 1 merupakan skenario alternatif dengan menon-aktifkan PLTD Paokmotong. Hasil proyeksi menunjukkan bahwa permintaan energi listrik Kabupaten Lombok Timur pada tahun 2035 untuk skenario baseline sebesar 98.109.736.388 MWh dan skenario 1 sebesar 93.609.274.785 MWh. Sektor rumah tangga menjadi sektor permintaan energi listrik yang dominan di setiap skenario. Pada skenario baseline, PLTD Paokmotong memiliki total pengeluaran bahan bakar tertinggi selama 13 tahun sebesar 212.868 MWh, sedangkan pada skenario 1, setelah menon-aktifkan PLTD Paokmotong, pengeluaran bahan bakar pembangkit terbanyak dihasilkan dari PLTS. Penelitian ini memberikan gambaran tentang proyeksi kebutuhan energi listrik di Kabupaten Lombok Timur dan membandingkan dampak dari skenario baseline dengan skenario alternatif yang menon-aktifkan PLTD Paokmotong terhadap permintaan energi listrik dan pengeluaran bahan bakar pembangkit