Gudang obat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat merupakan pusat pengeluaran obat yang memiliki beragam data terkait pengeluaran obat pada tahun 2023. Analisis data menunjukkan bahwa obat dalam bentuk tablet menjadi satuan yang paling dominan dalam proses pengeluaran, dengan jumlah pengeluaran mencapai 3.648 kali ke seluruh fasilitas kesehatan atau Dinkes Kota/Kabupaten di seluruh Jawa Barat. Mengingat signifikansi penggunaan obat tablet, penelitian ini mengusulkan penerapan analisis forecasting demand sebagai strategi untuk meningkatkan efisiensi manajemen persediaan obat. Dengan memprediksi permintaan obat tablet, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dapat lebih efektif menyiapkan stok obat, mengurangi risiko kekurangan atau kelebihan stok, dan menjawab permintaan pasar yang tinggi. Berdasarkan hasil olah data yang dilakukan dengan menggunakan analisis Forecasting Regresi Linear Sederhana program obat Antiretroviral (ARV) diperoleh MAPE sebesar 69%, lebih kecil dibandingkan dengan MAPE dari analisis Forecasting Single Exponential Smoothing yaitu sebesar 83,780%. Sedangkan, untuk program obat Buffer analisis Forecasting Single Exponential Smoothing lebih akurat dibandingkan analisis Forecasting Regresi Linear Sederhana dikarenakan hasil perhitungan MAPE dari analisis exponential smoothing sebesar 79,088% lebih kecil dibandingkan perhitungan MAPE Regresi Linear Sederhana 85%. Diharapkan model analisis peramalan permintaan dapat menjadi alat strategis bagi gudang obat Departemen Kesehatan dalam mengatasi tantangan manajemen inventaris obat, sekaligus mengurangi biaya pengadaan obat secara keseluruhan.