Pendahuluan. Blotong merupakan sebuah limbah yang dihasilkan dari pabrik pengolahan tebu dalam proses pembuatan gula, yang biasanya dihasilkan dalam bentuk yang mengandung kadar air yang lumayan rendah (Pramesti and Hermiyanto, 2019). Pembuatan pupuk organik blotong masih membutuhkan suatu proses fermentasi agar kandungan yang ada didalam blotong bisa sederhanakan, untuk proses fermentasi tersebut dibutuhkan sebuah cairan yang menganduk bakteri dekomposer atau perombak bahan organik seperti cairan rumen. Cairan rumen banyak sekali mengandung mikroorganisme yaitu diantaranya adalah bakteri yang paling dominan, Protozoa, sebagian kecil jamur, sehingga bisa menjadi sumber mikrioorganisme dikarenakan banyak terdapat mikroba. Metode Pengumpulan Data. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode Observasi, yang bertujuan untuk mengamati dan melihat keadaan sekitar di tempat pelaksaaan penelitian di PG Prajekan. Selanjutnya setelah menganalisis sampel di Labotarium biosan Hasil dari Lab tersebut dijelaskan dengan metode Deskriptif Kualitatif. Hasil dan Diskusi. Proses pembuatan pupuk organik blotong mengalami perubahan kandungan setelah dilakukan pengomposan atau dekomposisi. Perubahan itu menunjukan indikator bahwasannya blotong mengalami aktivitas perubahan atau pendekomposisian blotong yang dilakukan oleh mikroorganisme setelah diaplikasikan pemberian cairan rumen sapi yang digunakan sebagai dekomposer atau bahan perombak dalam pembuatan pupuk organik. Simpulan. Berdasarkan hasil penelitian tentang Pengaruh Dekomposer Rumen Sapi Terhadap Proses Dekomposisi Blotong Tebu didapatkan hasil nilai C/N rasio blotong tebu sebesar 20,79%. Pemberian dekomposer rumen sapi blotong tebu setelah 21 hari nilai C/N rasio sebesar 9,62% dan setelah 42 hari nilai C/N rasio 9.48%.