Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Humanitarian Crisis on The Dynamics of The Russia-Ukraine Conflict (Analysis of Humanitarian Law and Proposals for the Strengthening of the International Court) Yudi Rianto Ratu; Ernesta A. Brahmana; Tarsisius Susilo; Sarwo Supriyo; Thomas HK. Sinaga
Interdisciplinary Social Studies Vol. 4 No. 3 (2025): Regular Issue: April-June 2025
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/iss.v4i3.847

Abstract

This study examines international humanitarian law in the dynamics of the Russia-Ukraine conflict, which has had a significant impact on the humanitarian crisis in Ukraine. The background of this study focuses on the existing fact that the Russian military invasion since February 2022 has caused the largest humanitarian crisis on the European continent. The Russia-Ukraine conflict has resulted in casualties, war injuries, infrastructure damage, and the absence of basic rights such as health care and access to basic necessities. Millions of Ukrainians have fled, both to neighboring countries and within Ukraine to safer locations. The purpose of this study is to analyze the application of international humanitarian law in responding to the Russia-Ukraine conflict and to provide recommendations for the development of more relevant policies in this context. The method used in this study is a qualitative approach through the analysis of legal documents and case studies, with a focus on the humanitarian crisis caused by the dynamics of the Russia-Ukraine conflict since February 2022. This analysis reveals that the principles of international humanitarian law are not fully applied in the context of the Russia-Ukraine conflict. The research findings show that the humanitarian crisis in this conflict is quite concerning and requires UN intervention. Based on these findings, this study recommends that the UN urge Russia to implement a ceasefire with Ukraine and to ensure the realization of international humanitarian law protection in humanitarian corridors based on international agreements and supervised by the UN, in order to evacuate civilians and distribute humanitarian aid.
MODEL KEPEMIMPINAN SPIRITUIL MILITER ALI KHAMENEI TERHADAP KETAHANAN IDEOLOGIS DAN PERTAHANAN MANDIRI DALAM PERSPEKTIF STRATEGI PERTAHANAN INDONESIA Mujahidin Mujahidin; Fitriyan Rupito; Tarsisius Susilo; Gusti Bagus Oka Tapayasa; H.D. Arifin Simanjuntak
JOURNAL OF LAW AND NATION Vol. 4 No. 2 (2025): Journal of Law and Nation
Publisher : INTELIGENSIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ali Khamenei's leadership as Iran's Supreme Leader represents a model of military spiritual leadership that places ideology as the main pillar of national defence. Under his direction, Iran has developed ideological resilience through the consolidation of religious values, the strengthening of political legitimacy, and the development of military and paramilitary forces loyal to the principles of the Islamic revolution. This strategy goes hand in hand with an independent defence policy, particularly through a resistive economy programme and domestic defence industrialisation, which includes the development of ballistic missiles, drones, and other military technology, despite facing international sanctions and isolation. This article aims to analyse Khamenei's leadership model using a transformational, adaptive, and strategic military leadership theory approach, as well as utilising SWOT analysis tools to evaluate the strengths, weaknesses, opportunities, and risks of Iran's defence strategy. The results of the study show that ideological resilience provides strong legitimacy for independent defence policies, but also carries vulnerabilities in the form of technological isolation and prolonged economic pressure. For Indonesia, there are important lessons in building a defence doctrine that is distinctive, independent, and based on national ideological values, with adaptations in accordance with Pancasila and the democratic system. Thus, the model of military spiritual leadership can be a reference in formulating an adaptive and relevant Indonesian defence strategy towards Indonesia Emas 2045.
Peran Strategis Perempuan Dalam Proses Perdamaian dan Penegakan Hukum Humaniter di Era Konflik Kontemporer Farid Yudis Purwanto; Yulianto Nurcahyo; Tarsisius Susilo; Arifin Simanjuntak; Gusti Bagus Oka Tapayasa
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 4 No. 5 (2025): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v4i5.6481

Abstract

Konflik bersenjata tidak hanya menimbulkan dampak besar terhadap struktur sosial dan politik, tetapi juga secara signifikan mempengaruhi kehidupan perempuan yang sering kali menjadi korban kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia. Namun, seiring dengan berkembangnya kesadaran global terhadap pentingnya kesetaraan gender, keterlibatan perempuan dalam proses perdamaian dan penegakan hukum humaniter mulai mendapatkan perhatian lebih serius. Keterlibatan perempuan dalam berbagai tahap resolusi konflik tidak hanya memperkaya perspektif dalam negosiasi, tetapi juga memperkuat legitimasi dan keberlanjutan perdamaian yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi strategis perempuan dalam konteks konflik kontemporer, dengan fokus pada bagaimana partisipasi mereka mampu mendorong pelaksanaan prinsip-prinsip hukum humaniter secara lebih efektif. Metodologi yang digunakan mencakup kajian literatur dari sumber akademik dan hukum internasional, analisis kebijakan yang berkaitan dengan gender dan perdamaian, serta, jika memungkinkan, wawancara dengan ahli hukum humaniter dan praktisi di bidang militer dan diplomasi. Temuan utama menunjukkan bahwa kehadiran perempuan dalam proses perdamaian dan keadilan transisi memperkuat legitimasi perjanjian damai, meningkatkan akuntabilitas pelaku kejahatan perang, serta mengarahkan implementasi kebijakan yang lebih inklusif dan berkeadilan. Oleh karena itu, integrasi perspektif gender dalam setiap tahapan penyelesaian konflik menjadi sangat penting untuk membangun perdamaian yang adil, berkelanjutan, dan berbasis pada penghormatan terhadap hukum humaniter.
Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Terhadap Mobilisasi Sumber Daya Nasional dalam Rancang Bangun Doktrin Pertahanan Indonesia 2045 Sidik Wiyono; Nanang Mahfudi Syakur; Tarsisius Susilo; Muhammad Taufiq Zega; Dudik Purwanto
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 5 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i5.9205

Abstract

Kepemimpinan transformasional dipandang sebagai model kepemimpinan strategis yang relevan dalam menjawab tantangan geopolitik dan geostrategi global yang semakin kompleks dan multidomain. Dalam konteks Indonesia, model kepemimpinan ini memiliki peran penting dalam mengonsolidasikan serta memobilisasi sumber daya nasional baik sumber daya manusia (SDM) maupun sumber daya alam (SDA) guna mendukung rancang bangun doktrin pertahanan yang adaptif menuju Indonesia Emas 2045. Kajian ini berangkat dari kenyataan bahwa penelitian terdahulu lebih banyak menekankan aspek deskriptif gaya kepemimpinan global tanpa menjembatani kebutuhan operasional doktrin pertahanan nasional, sehingga memunculkan kesenjangan penelitian. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap mobilisasi sumber daya nasional dalam rangka membentuk doktrin pertahanan masa depan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur, analisis kebijakan, dan wawancara pakar bila memungkinkan. Analisis dilakukan dengan memanfaatkan teori kepemimpinan transformasional (Burns, Bass), kepemimpinan adaptif (Heifetz), serta konsep kepemimpinan strategis militer. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana karakteristik kepemimpinan transformasional visi strategis, motivasi inspirasional, stimulasi intelektual, dan pertimbangan individual dapat memperkuat konsolidasi SDM, SDA, teknologi, dan diplomasi pertahanan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional mampu mendorong sinergi lintas sektor, mempercepat pembangunan teknologi pertahanan, dan meningkatkan kapasitas mobilisasi nasional secara terpadu. Dengan demikian, kepemimpinan transformasional bukan hanya faktor pendukung, tetapi juga instrumen kunci dalam merancang doktrin pertahanan Indonesia yang adaptif, berkarakter, serta berorientasi pada tantangan global menuju 2045.