Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Implementasi Outcome Based Education terhadap Capaian Pembelajaran Lulusan Program Studi Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Daerah Ahmad Mualif; Sri Murhayati; Yuliharti
Andragogi: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026): Pendidikan dan Pembelajaran
Publisher : Universitas KH. Abdul Chalim Pacet Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/adrg.v6i1.2881

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan Outcome-Based Education (OBE) terhadap capaian pembelajaran mahasiswa pada Program Studi Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Kuantan Singingi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan 120 mahasiswa sebagai sampel, dipilih menggunakan proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui angket skala Likert 1–5, observasi dokumen RPS, dan wawancara terbatas dengan dosen serta pengelola program studi sebagai data pendukung. Instrumen angket telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan OBE berada pada kategori cukup hingga baik, dengan skor tertinggi pada keselarasan metode pembelajaran dan CPL–CPMK, namun asesmen masih perlu diperkuat. Capaian pembelajaran mahasiswa menunjukkan dominasi aspek kognitif, sedangkan aspek afektif dan psikomotor masih cukup. Analisis regresi linier sederhana memperlihatkan pengaruh positif dan signifikan OBE terhadap capaian pembelajaran (β = 0,63; p < 0,001; R² = 0,624). Temuan ini menegaskan pentingnya keselarasan CPL–CPMK, metode, dan asesmen serta penguatan evaluasi afektif dan psikomotor dalam meningkatkan mutu pembelajaran PAI. Penelitian ini memberikan bukti empiris baru dari konteks perguruan tinggi Islam daerah dan menawarkan perspektif teknis bagi pengelola program studi dan dosen untuk implementasi OBE yang lebih efektif dan holistik
The Dynamics of Implementing E-Evaluation in Islamic Boarding Schools: A Solution-Oriented Study Irwan Suanto; Sri Murhayati; Yuliharti Yuliharti
Interdisciplinary Social Studies Vol. 5 No. 2 (2026): Interdisciplinary Social Studies
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/iss.v5i2.1050

Abstract

Digital transformation in education has encouraged Islamic boarding schools (Pesantren) to adopt e-evaluation systems for learning assessment. However, implementing e-evaluation in Pesantren involves distinctive pedagogical, cultural, and ethical dynamics. This article examines the dynamics of e-evaluation implementation in Pesantren and proposes a contextual, value-based conceptual model for e-evaluation. The study employs a library research approach, reviewing academic books, national and international journal articles, and relevant documents on learning assessment, e-learning, and Pesantren education. Data were analyzed using content analysis to identify challenges, opportunities, and prevailing trends related to e-evaluation in Pesantren. The findings indicate that the main challenge lies in the mismatch between cognitively oriented digital assessment paradigms and the holistic educational goals of Pesantren. This article proposes an integrative conceptual model of Pesantren e-evaluation grounded in pedagogical, cultural, and ethical principles. The model positions e-evaluation as a supportive instrument for holistic assessment that reinforces educators’ roles and Islamic educational values. This study is expected to provide a conceptual reference for developing adaptive and sustainable e-evaluation systems in Pesantren during the digital era. It contributes theoretically to understanding digital transformation in traditional religious educational contexts and offers practical implications for Pesantren administrators seeking to implement adaptive evaluation systems. The research limitations include its conceptual nature, which requires empirical validation, and its focus on Indonesian Pesantren contexts, which may limit generalizability to other Islamic educational settings.
Relevansi Epistemologi Islam dalam Rekonstruksi Kurikulum: Menggeser Fokus dari Pengetahuan menjadi Pembentukan Karakter Ahmad Akbar; Sri Murhayati
ANTHOR: Education and Learning Journal Vol 5 No 5 (2026): Anthor 2026
Publisher : Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/anthor.v5i5.1324

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi epistemologi Islam dalam rekonstruksi kurikulum, khususnya dalam upaya menggeser fokus pendidikan dari sekadar transfer pengetahuan menjadi pembentukan karakter muslim yang holistik dan kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan yang menganalisis literatur klasik dan kontemporer mengenai epistemologi dan desain kurikulum pendidikan Islam. Teknik analisis isi dengan pendekatan hermeneutik diterapkan untuk menginterpretasikan makna-makna fundamental dalam teks-teks epistemologi Islam terkait struktur kurikulum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi kurikulum harus didasarkan pada karakteristik khas epistemologi Islam yang mengintegrasikan wahyu sebagai sumber pengetahuan utama dan akal sebagai instrumen interpretasi dalam kerangka paradigma tauhid. Integrasi ini diwujudkan melalui harmonisasi metodologi bayani (eksplanatoris), burhani (demonstratif), dan irfani (intuitif) ke dalam muatan kurikulum, sehingga menghasilkan sistem pendidikan yang komprehensif. Pergeseran fokus dari pengetahuan ke pembentukan karakter ini diimplementasikan melalui pencetakan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi intelektual, tetapi juga integritas moral dan spiritualitas yang seimbang. Hal ini menunjukkan relevansi yang signifikan dalam menghadapi tantangan globalisasi dan era digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa epistemologi Islam menawarkan landasan filosofis yang kuat bagi rekonstruksi kurikulum, menyediakan paradigma pendidikan alternatif yang mampu mengakomodasi kemajuan ilmu pengetahuan tanpa mengorbankan nilai-nilai spiritual dan etika dalam pembentukan karakter peserta didik.
Relevansi Epistemologi Islam dalam Rekonstruksi Kurikulum: Menggeser Fokus dari Pengetahuan menjadi Pembentukan Karakter Ahmad Akbar; Sri Murhayati
ANTHOR: Education and Learning Journal Vol 5 No 5 (2026): Anthor 2026
Publisher : Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/anthor.v5i5.1324

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi epistemologi Islam dalam rekonstruksi kurikulum, khususnya dalam upaya menggeser fokus pendidikan dari sekadar transfer pengetahuan menjadi pembentukan karakter muslim yang holistik dan kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan yang menganalisis literatur klasik dan kontemporer mengenai epistemologi dan desain kurikulum pendidikan Islam. Teknik analisis isi dengan pendekatan hermeneutik diterapkan untuk menginterpretasikan makna-makna fundamental dalam teks-teks epistemologi Islam terkait struktur kurikulum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi kurikulum harus didasarkan pada karakteristik khas epistemologi Islam yang mengintegrasikan wahyu sebagai sumber pengetahuan utama dan akal sebagai instrumen interpretasi dalam kerangka paradigma tauhid. Integrasi ini diwujudkan melalui harmonisasi metodologi bayani (eksplanatoris), burhani (demonstratif), dan irfani (intuitif) ke dalam muatan kurikulum, sehingga menghasilkan sistem pendidikan yang komprehensif. Pergeseran fokus dari pengetahuan ke pembentukan karakter ini diimplementasikan melalui pencetakan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi intelektual, tetapi juga integritas moral dan spiritualitas yang seimbang. Hal ini menunjukkan relevansi yang signifikan dalam menghadapi tantangan globalisasi dan era digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa epistemologi Islam menawarkan landasan filosofis yang kuat bagi rekonstruksi kurikulum, menyediakan paradigma pendidikan alternatif yang mampu mengakomodasi kemajuan ilmu pengetahuan tanpa mengorbankan nilai-nilai spiritual dan etika dalam pembentukan karakter peserta didik.
Reconstructing Love-Based Curriculum in Islamic Education Rifdah Sabrina; Sri Murhayati
Mau'izhah: Jurnal Kajian Keislaman Vol. 24 No. 1 (2026): Regular Issue
Publisher : Mau'izhah: Jurnal Kajian Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55936/mauizhah.v24i1.288

Abstract

This article is written to analyze the construction of love values in the Guidelines for Love-Based Curriculum in Madrasah, published by the Directorate General of Islamic Education, Ministry of Religious Affairs of Indonesia in 2025. The purpose of this article is to examine the operationalization of critical curriculum principles and pedagogy of love, and to formulate a reconstructed model of the Love-Based Curriculum in Islamic education. This article is written using a qualitative method with content analysis design based on library research and interpretative-critical approach. The primary data source is the Love-Based Curriculum document, with units of analysis including objectives, curriculum principles, Panca Cinta, learning strategies, activities, reflections, assessments, and evaluations. The analysis applies deductive coding derived from Paulo Freire’s critical curriculum theory and the pedagogy of love inspired by Ibn Arabi, Rumi, and Syed Muhammad Naquib al-Attas, enriched with inductive coding to capture the distinctive features of the document. Analytical findings indicate that the Love-Based Curriculum constructs love as theological, intellectual, personal, social, ecological, and national orientation through Panca Cinta. The document incorporates social awareness, dialogue, reflection, compassionate communication, social projects, and authentic assessment, yet student agency and evaluative rubrics for empathy, critical reflection, and rahmah praxis remain underdeveloped. The reconstructed model emphasizes revelation and adab, dialogical reflection, student agency, compassionate praxis, and authentic assessment. Its implication lies in developing teaching materials and assessments that are more dialogical, participatory, and socially engaged.