I Nengah Nuarta
Fakultas Hukum Universitas Udayana

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

REKONSTRUKSI NORMA KEWENANGAN KOREKTIF MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DALAM PENJATUHAN SANKSI ADMINISTRATIF Ketut Krisna Hari Bagaskara P.; I Nengah Nuarta
Kertha Semaya: Journal Ilmu Hukum Vol. 13 No. 12 (2025)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/KS.2025.v13.i12.p11

Abstract

Tujuan studi ini adalah untuk mengkaji kriteria yuridis pelanggaran yang serius dan mekanisme pembuktian unsur secara sengaja dalam Pasal 81 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 (UU PPLH) terkait kewenangan korektif Menteri. Studi ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat kekaburan norma pada Pasal 81 yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum dan sengketa kewenangan pusat-daerah. Studi ini menemukan bahwa kriteria pelanggaran serius harus dibatasi secara limitatif pada dampak lintas batas dan kerusakan ireversibel. Selain itu, unsur kesengajaan Pemerintah Daerah tidak dapat dibuktikan dengan pendekatan pidana, melainkan harus melalui pendekatan administratif berupa pengabaian terhadap surat peringatan bertingkat. Rekonstruksi norma ini penting untuk harmonisasi penegakan hukum lingkungan di Indonesia. ABSTRACT The purpose of this study is to examine the juridical criteria of "serious violations" and the mechanism for proving the "intentional" element in Article 81 of Law Number 32 of 2009 (UU PPLH) regarding the Minister's corrective authority. This study uses a normative legal method with a statute approach and conceptual approach. The study shows that there is a vague norm in Article 81 which has the potential to cause legal uncertainty and disputes over central-regional authority. This study found that the criteria for "serious violations" must be limited to transboundary impacts and irreversible damage. In addition, the element of "intention" of the Regional Government cannot be proven by a criminal approach, but must be through an administrative approach in the form of ignoring multi-level warning letters. This reconstruction of norms is important for the harmonization of environmental law enforcement in Indonesia.
REFORMULASI KEBIJAKAN KELUARGA BERENCANA KRAMA BALI: INTEGRASI ASPEK KEPENDUDUKAN, PENATAAN RUANG, DAN LINGKUNGAN HIDUP I Nengah Nuarta; Ketut Krisna Hari Bagaskara P.
Kertha Semaya: Journal Ilmu Hukum Vol. 14 No. 7 (2026)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/KS.2026.v14.i07.p05

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi yuridis Instruksi Gubernur Bali Nomor 1545 Tahun 2019 tentang Sosialisasi Program Keluarga Berencana (KB) Krama Bali dalam kaitannya dengan aspek kependudukan, penataan ruang, dan perlindungan lingkungan hidup, serta merumuskan formulasi kebijakan yang selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan analitis. Bahan hukum terdiri atas bahan hukum primer dan sekunder yang dianalisis secara kualitatif melalui metode deskriptif-preskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan KB Krama Bali sebagai instrumen pelestarian identitas budaya memiliki keterkaitan dengan dinamika kependudukan yang pada gilirannya dapat memengaruhi kebutuhan ruang, penyediaan infrastruktur, dan pemanfaatan sumber daya lingkungan. Oleh karena itu, implementasi kebijakan tersebut perlu ditempatkan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek kependudukan, penataan ruang, dan lingkungan hidup. Penelitian ini menawarkan formulasi kebijakan berbasis Hukum Kebijakan Publik melalui pendekatan yang mempertimbangkan kapasitas wilayah, integrasi dengan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), serta harmonisasi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Selain itu, penguatan dasar hukum melalui peraturan daerah dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan kepastian hukum dan efektivitas implementasi kebijakan. ABSTRACT This study aims to analyze the juridical implications of the Governor of Bali Instruction Number 1545 of 2019 concerning the Socialization of the Krama Bali Family Planning (KB) Program in relation to demographic aspects, spatial planning, and environmental protection, as well as to formulate policy designs aligned with the principles of sustainable development. This study is normative legal research employing a statutory approach, a conceptual approach, and an analytical approach. The legal materials consist of primary and secondary legal sources, which are qualitatively analyzed using a descriptive-prescriptive method. The results indicate that the Krama Bali Family Planning policy, as an instrument for preserving cultural identity, is intertwined with demographic dynamics, which in turn may affect spatial demands, infrastructure provision, and the utilization of environmental resources. Therefore, the implementation of this policy needs to be contextualized within a sustainable development framework that integrates demographic, spatial planning, and environmental aspects. This study offers a public policy law-based formulation through an approach that considers regional carrying capacity, integration with the Strategic Environmental Assessment (KLHS), and harmonization with the Regional Spatial Plan (RTRW). Furthermore, strengthening the legal basis through regional regulations could be considered to enhance legal certainty and the effectiveness of policy implementation.