Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efek neurofarmakologis ekstrak daun jagung (Zea mays L.) terhadap parameter sistem saraf otonom dan aktivitas sistem saraf pusat (SSP) pada mencit (Mus musculus). Ekstrak daun jagung diperoleh menggunakan metode infusa dan diuji pada tiga konsentrasi, yaitu 1%, 2%, dan 4%. Pengujian dilakukan melalui pengamatan respons mencit terhadap delapan parameter neurofarmakologi, meliputi parasimpatomimetik (PSM), parasimpatolitik (PSL), simpatomimetik (SM), simpatolitik (SL), stimulasi SSP (SSSP), depresan SSP (DSSP), analeptik (ANA), serta relaksasi otot (RO). Setiap respons diamati dan dianalisis secara deskriptif–kuantitatif untuk menilai pola kecenderungan efek berdasarkan variasi konsentrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun jagung memiliki kemampuan memodulasi aktivitas otonom dan SSP, dengan pola efek yang berbeda pada tiap parameter. Secara umum, terlihat kecenderungan aktivitas simpatolitik dan depresan SSP yang lebih dominan pada sebagian besar kelompok perlakuan. Konsentrasi 2% memberikan respons yang paling stabil, terukur, dan konsisten, khususnya pada parameter PSM, SSSP, SL, dan DSSP, sehingga mengindikasikan adanya potensi konsentrasi optimum dalam menghasilkan efek neuroaktif. Sementara itu, konsentrasi 4% memperlihatkan respons yang lebih fluktuatif dan cenderung tidak teratur, yang dapat disebabkan oleh kejenuhan reseptor atau munculnya mekanisme kompensasi fisiologis pada dosis yang lebih tinggi. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak daun jagung (Zea mays L.) memiliki potensi aktivitas neurofarmakologis yang dipengaruhi oleh variasi konsentrasi, terutama dalam menghasilkan efek simpatolitik dan depresan SSP. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengidentifikasi senyawa aktif utama, mekanisme aksi spesifik, serta potensi pengembangan sebagai kandidat bahan alam neuroaktif.