Valentina Ramadhany
UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Akhak Dan Kejujuran Mahasiswa Perantau Valentina Ramadhany
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9936

Abstract

Mahasiswa perantau menghadapi perubahan lingkungan sosial, ekonomi,       dan psikologis yang signifikan ketika tinggal jauh dari keluarga. Salah satu aspek moral yang paling diuji dalam kondisi tersebut adalah kejujuran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk kejujuran mahasiswa perantau, faktor yang memengaruhinya, serta strategi yang digunakan untuk mempertahankan kejujuran dalam berbagai situasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap tiga informan perempuan berusia 19–21 tahun yang tinggal di kos dan berstatus sebagai mahasiswa perantau. Data dianalisis melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding untuk menghasilkan tema-tema utama yang merepresentasikan pengalaman informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejujuran mahasiswa perantau muncul dalam tindakan konkret sehari-hari, seperti membayar sesuai jumlah belanja, mengembalikan barang pinjaman, serta transparansi dalam penggunaan uang kepada orang tua. Namun, kondisi perantauan juga menghadirkan tantangan moral, seperti rasa lebih bebas untuk berbohong karena ketiadaan pengawasan, tekanan finansial, dan pengaruh teman sebaya. Dalam menghadapi tantangan tersebut, mahasiswa menerapkan strategi pengaturan diri, misalnya menjatah pengeluaran harian, berdiskusi dengan teman dekat, dan meningkatkan kesadaran terhadap konsekuensi perilaku. Kejujuran juga diperkuat oleh pengalaman emosional, seperti rasa senang setelah bersikap jujur dan rasa kapok akibat dihukum saat ketahuan berbohong. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kejujuran mahasiswa perantau merupakan hasil interaksi antara nilai moral, self-regulation, pengaruh sosial, dan pengalaman emosional. Kejujuran berfungsi sebagai kemampuan adaptif yang membantu mahasiswa mempertahankan hubungan sosial, mengelola keuangan, dan membangun kepercayaan dalam kehidupan perantauan. Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan program pendidikan karakter, literasi finansial, serta dukungan lingkungan sosial di perguruan tinggi. Temuan ini juga membuka ruang untuk penelitian lanjutan dengan cakupan informan yang lebih beragam dan pendekatan metodologis yang lebih luas 
Poligami Dalam Islam: Tinjauan Hadis Berdasarkan Teori Dasar Ilmu Hadis Yulanda Yulanda; Valentina Ramadhany
Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 2 (2025): Oktober - Desember
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Polygamy is a permissible practice in Islam, provided that justice is the primary condition, as stated in Surah An-Nisa, verse 3. However, this verse does not specify the form of justice intended, thus opening up room for diverse interpretations among Muslims. In this context, the hadith of the Prophet Muhammad (peace be upon him) serves as an authoritative reference in explaining, limiting, and implementing the law of polygamy more concretely. This study aims to examine the relationship between the basic theory of hadith science, which includes its definition, classification, status, function, and the law of denying hadith, and the understanding of polygamy in Islam. This research uses a qualitative method with a library research approach. The results of the study indicate that the hadith discussing polygamy are mostly authentic and have binding legal force. Through the theory of hadith science, it can be understood that hadith is not only a complement to the Qur'an, but also a source of law that has an explanatory, limiting, and controlling function regarding the practice of polygamy. Thus, understanding the law of polygamy cannot be separated from the methodology of authentic hadith science.