Mahasiswa perantau menghadapi perubahan lingkungan sosial, ekonomi, dan psikologis yang signifikan ketika tinggal jauh dari keluarga. Salah satu aspek moral yang paling diuji dalam kondisi tersebut adalah kejujuran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk kejujuran mahasiswa perantau, faktor yang memengaruhinya, serta strategi yang digunakan untuk mempertahankan kejujuran dalam berbagai situasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap tiga informan perempuan berusia 19–21 tahun yang tinggal di kos dan berstatus sebagai mahasiswa perantau. Data dianalisis melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding untuk menghasilkan tema-tema utama yang merepresentasikan pengalaman informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejujuran mahasiswa perantau muncul dalam tindakan konkret sehari-hari, seperti membayar sesuai jumlah belanja, mengembalikan barang pinjaman, serta transparansi dalam penggunaan uang kepada orang tua. Namun, kondisi perantauan juga menghadirkan tantangan moral, seperti rasa lebih bebas untuk berbohong karena ketiadaan pengawasan, tekanan finansial, dan pengaruh teman sebaya. Dalam menghadapi tantangan tersebut, mahasiswa menerapkan strategi pengaturan diri, misalnya menjatah pengeluaran harian, berdiskusi dengan teman dekat, dan meningkatkan kesadaran terhadap konsekuensi perilaku. Kejujuran juga diperkuat oleh pengalaman emosional, seperti rasa senang setelah bersikap jujur dan rasa kapok akibat dihukum saat ketahuan berbohong. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kejujuran mahasiswa perantau merupakan hasil interaksi antara nilai moral, self-regulation, pengaruh sosial, dan pengalaman emosional. Kejujuran berfungsi sebagai kemampuan adaptif yang membantu mahasiswa mempertahankan hubungan sosial, mengelola keuangan, dan membangun kepercayaan dalam kehidupan perantauan. Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan program pendidikan karakter, literasi finansial, serta dukungan lingkungan sosial di perguruan tinggi. Temuan ini juga membuka ruang untuk penelitian lanjutan dengan cakupan informan yang lebih beragam dan pendekatan metodologis yang lebih luas