Jonar Situmorang
Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Keteladanan Paulus dalam Penderitaan menurut 2 Korintus 11:23–28 dan Implikasinya bagi Pelayanan Penggembalaan Petrus Ohee; Roberth Ruland Marini; Jonar Situmorang
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 9 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/6f8gsk97

Abstract

Pastoral shepherding plays a vital role in nurturing, sustaining, and developing the spiritual maturity of the congregation. Amid rapid technological change and increasingly complex social challenges, pastoral ministry requires adaptive leadership grounded in sound theological principles. The Apostle Paul’s experiences of suffering in 2 Corinthians 11:23–28 provide a model of authentic ministry characterized by perseverance, sacrifice, and faithfulness to Christ. His imprisonment, persecution, and various hardships demonstrate that suffering can serve as a means of spiritual formation, resilience, and deeper dependence on God. Paul’s ministry also reflects profound pastoral concern for the spiritual well-being of believers, revealing that effective leadership involves both theological commitment and relational care. The findings of this study suggest that contemporary pastoral ministry should be marked by integrity, dedication, spiritual endurance, empathy, and exemplary conduct. Consequently, Paul’s ministry offers a theological and practical framework for developing contextual, transformative, and effective pastoral shepherding in today’s church.   Pelayanan penggembalaan merupakan aspek penting dalam kehidupan gereja yang berfokus pada pembinaan dan pertumbuhan rohani jemaat. Di tengah tantangan sosial dan perkembangan teknologi yang pesat, pelayanan pastoral memerlukan kepemimpinan yang adaptif dan berlandaskan teologi yang kuat. Rasul Paulus, melalui penderitaan yang dicatat dalam 2 Korintus 11:23–28, memberikan teladan pelayanan yang autentik dan kontekstual. Berbagai penderitaan yang dialaminya menjadi sarana pembentukan iman, ketahanan spiritual, dan pengharapan, sekaligus menunjukkan komitmennya kepada Kristus dan jemaat. Ketekunan Paulus menegaskan bahwa kesetiaan dalam pelayanan tidak bergantung pada kenyamanan, melainkan pada hubungan yang erat dengan Allah. Pelayanannya juga memperlihatkan kepedulian pastoral yang mendalam terhadap kondisi rohani jemaat. Studi ini menunjukkan bahwa pelayanan penggembalaan masa kini perlu dibangun di atas pengorbanan, dedikasi, integritas, ketahanan iman, kepedulian pastoral, dan keteladanan hidup. Dengan demikian, model pelayanan Paulus menjadi landasan teologis dan praktis bagi pengembangan pelayanan penggembalaan yang kontekstual, transformatif, dan efektif.
Etika Kristen Dalam Roma 12:1–21: Landasan Pastoral Untuk Mengatasi Budaya Ostentasi Eko Raharjo Raharjo; Jefit Sumampouw; Jonar Situmorang
Jurnal Apokalupsis Vol 16 No 2 (2025): Jurnal Apokalupsis
Publisher : STT Internasional Harvest Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid development of digital technology, particularly social media, has fostered a culture of ostentation that encourages individuals to construct and display self-image in pursuit of social recognition. This phenomenon not only affects psychological and social dimensions but also raises significant ethical and spiritual concerns within Christian life. This study aims to examine the culture of ostentation from the perspective of Christian ethics based on Romans 12:1–21 and to formulate it as a pastoral framework for addressing the challenges of the digital age. The research employs a qualitative method using a literature review and exegetical analysis of the biblical text, supported by relevant studies in biblical theology and contemporary Christian ethics. The findings reveal that Paul’s ethical teaching in Romans 12:1–21 is holistic and transformative, beginning with the renewal of the mind as the foundation for reorienting the believer’s life. Humility is emphasized as the primary antithesis to ostentatious behavior, while sincere love serves to correct performative expressions commonly found in social media practices. Furthermore, the principles of living in peace and overcoming evil with good present a countercultural ethical alternative to the competitive and image-driven nature of digital culture. The pastoral implications underscore the church’s strategic role in cultivating authentic digital spirituality through spiritual formation, contextual teaching, and the nurturing of faith communities. Thus, this study contributes to the development of Christian digital ethics by positioning Romans 12:1–21 as a relevant and practical theological foundation for shaping Christian character in the digital era.
SPIRITUALITAS ELISABET: INTEGRASI ANTARA IMAN, KETAATAN, DAN PELAYANAN DALAM LUKAS 1:5-45 Semelina Sertowati; Jonar Situmorang; Doni Heryanto
Sesawi Vol 7, No 1 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sabda Agung, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53687/sjtpk.v7i1.367

Abstract

Penelitian ini berangkat dari realitas bahwa figur perempuan dalam Alkitab, khususnya Elisabet dalam Lukas 1:5-45, sering kali kurang mendapat perhatian teologis yang mendalam dibanding tokoh lain seperti Maria, padahal narasi Lukas menampilkan Elisabet sebagai sosok yang beriman, taat, dan melayani dengan penuh kesetiaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap spiritualitas Elisabet sebagai integrasi antara iman, ketaatan, dan pelayanan serta relevansinya bagi pembentukan spiritualitas Kristen masa kini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teologis-biblis terhadap teks Lukas 1:5-45, dengan menelusuri makna teologis dari tindakan dan respons Elisabet terhadap karya Allah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Elisabet merepresentasikan spiritualitas yang utuh dan integratif, di mana iman diwujudkan dalam ketaatan yang konsisten dan pelayanan yang berbuah dalam relasi dengan Allah dan sesama. Pembahasan ini menegaskan bahwa spiritualitas sejati tidak bersifat pasif atau individualistik, melainkan aktif, relasional, dan partisipatif dalam karya keselamatan Allah. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan teologi spiritualitas dan refleksi peran perempuan dalam kehidupan gereja kontemporer.