Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kampanye Pelestarian Melalui Media Seni Kontemporer Adlino Dananjaya; Ichicho Sembiring
VISIONER : Jurnal Komunikasi, Bisnis dan Konten Kreatif Vol. 11 No. 2 (2024): Visioner : Jurnal Komunikasi, Bisnis dan Konten Kreatif
Publisher : Institut Media Digital Emtek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65873/t1jc4238

Abstract

Seni kontemporer adalah cara bagi seniman untuk mengekspresikan ide dan kreativitas mereka dalam bentuk seni modern. Mereka menggunakan berbagai media seperti lukisan, instalasi, video, fotografi, seni pertunjukan, dan seni digital. Seniman seringkali meneliti isu-isu seperti politik, lingkungan, identitas, teknologi, dan budaya. Seiring dengan popularitas media sosial, museum sekarang menjadi tempat yang menarik dan edukatif. Beberapa seniman menciptakan karya interaktif yang menyenangkan bagi pengunjung. Contohnya, Museum Macan memamerkan karya Natasha Tontey yang berjudul "Primate Visions: Macaque Macabre". Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis deskriptif untuk memahami media baru dan konteks sejarah seni. Tujuannya adalah memberikan pemahaman mendalam melalui studi kasus yang relevan.
Suara Sebelum Bahasa : Arsip Hidup, Intonasi dan Ingatan Budaya Ichicho Sembiring; Kelvin Djunaidi; Dio Irsandi Mohamad
VISIONER : Jurnal Komunikasi, Bisnis dan Konten Kreatif Vol. 13 No. 1 (2026): Visioner : Jurnal Komunikasi, Bisnis dan Konten Kreatif
Publisher : Institut Media Digital Emtek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65873/adswgx62

Abstract

Sebelum bahasa ditata, sebelum kata-kata dibakukan, manusia telah lebih dahulu hidup dalam suara. Di sanalah intonasi, jeda, dan tekanan suara menyimpan cara suatu masyarakat saling mengenali, menghormati, dan memahami dunia. Tulisan ini berangkat dari pandangan bahwa suara adalah arsip hidup bukan catatan yang membeku, melainkan jejak yang terus bergerak, diwariskan melalui kebiasaan tutur dan tubuh yang bersuara. Dalam lintasan waktu, kebiasaan tersebut perlahan mengendap menjadi bahasa yang dianggap sah, dituliskan dalam kamus, diajarkan di ruang-ruang pendidikan, dan dilembagakan sebagai pengetahuan resmi. Namun dalam proses itu, banyak hal yang tak lagi terapkan: ritme yang menandai kedekatan, tekanan yang menyingkap hierarki, serta intonasi yang memuat etika sosial. Dengan menengok praktik lisan di Indonesia khususnya dalam tradisi tutur Jawa, tulisan ini membaca pembakuan bahasa bukan sebagai puncak peradaban suara, melainkan sebagai salah satu tahap dalam perjalanan budaya yang lebih panjang. Di balik teks yang rapi dan resmi, suara tetap bekerja sebagai ingatan yang hidup, menjaga sisa-sisa makna yang tak sepenuhnya dapat dituliskan.
Benturan Ritme Tidur dan Kejujuran Emosi Aktor dalam Proses Pemeranan Teater Ichicho Sembiring; Afrah Nabila Auralia
VISIONER : Jurnal Komunikasi, Bisnis dan Konten Kreatif Vol. 13 No. 2 (2026): Volume : Jurnal Komunikasi, Bisnis dan Konten Kreatif
Publisher : Institut Media Digital Emtek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65873/d8sdhy76

Abstract

Tidur merupakan kebutuhan biologis yang berfungsi memulihkan kondisi tubuh, namun dalam masyarakat modern juga berkembang sebagai fenomena sosial yang dibentuk oleh tuntutan produktivitas, disiplin, dan standarisasi ritme hidup. Kondisi ini menimbulkan benturan antara ritme biologis dan ritme sosial, terutama pada seniman teater yang memiliki pola aktivitas berbeda dengan pekerja kantoran. Jurnal ini bertujuan menganalisis pengaruh benturan ritme tersebut terhadap kejujuran emosi aktor dalam proses pemeranan serta mengkaji tidur sebagai konstruksi sosial. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus eksploratif terhadap empat informan, yaitu tiga aktor teater dan satu pekerja kantoran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritme tidur dipengaruhi oleh kebutuhan biologis, tuntutan profesi, dan norma sosial mengenai produktivitas. Kurang tidur dan kelelahan mempengaruhi respons emosi, fungsi kognitif, dan kualitas performatif tubuh secara berbeda pada setiap individu. Pada sebagian aktor, kelelahan memunculkan emosi yang lebih spontan dan jujur, sedangkan pada aktor lain justru menurunkan fokus, daya ingat, dan intensitas karakter. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tubuh lelah dalam seni pertunjukan merupakan paradoks yang sekaligus menjadi tantangan biologis dan potensi artistik dalam membangun kejujuran emosi. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa standar tidur modern merupakan konstruksi sosial yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh kebutuhan biologis, melainkan juga oleh sejarah, tuntutan profesi, dan budaya produktivitas.