Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kampanye Pelestarian Melalui Media Seni Kontemporer Adlino Dananjaya; Ichicho Sembiring
VISIONER : Jurnal Komunikasi, Bisnis dan Konten Kreatif Vol. 11 No. 2 (2024): Visioner : Jurnal Komunikasi, Bisnis dan Konten Kreatif
Publisher : Institut Media Digital Emtek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65873/t1jc4238

Abstract

Seni kontemporer adalah cara bagi seniman untuk mengekspresikan ide dan kreativitas mereka dalam bentuk seni modern. Mereka menggunakan berbagai media seperti lukisan, instalasi, video, fotografi, seni pertunjukan, dan seni digital. Seniman seringkali meneliti isu-isu seperti politik, lingkungan, identitas, teknologi, dan budaya. Seiring dengan popularitas media sosial, museum sekarang menjadi tempat yang menarik dan edukatif. Beberapa seniman menciptakan karya interaktif yang menyenangkan bagi pengunjung. Contohnya, Museum Macan memamerkan karya Natasha Tontey yang berjudul "Primate Visions: Macaque Macabre". Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis deskriptif untuk memahami media baru dan konteks sejarah seni. Tujuannya adalah memberikan pemahaman mendalam melalui studi kasus yang relevan.
Mekanika Teater Komedi Kontemporer: Seni Mengatur Jeda Waktu, Akustika, dan Fokus Penonton di Era Digital Irfan Afandi; Adlino Dananjaya
VISIONER : Jurnal Komunikasi, Bisnis dan Konten Kreatif Vol. 13 No. 2 (2026): Volume : Jurnal Komunikasi, Bisnis dan Konten Kreatif
Publisher : Institut Media Digital Emtek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65873/2gg7x939

Abstract

Teater sebagai seni pertunjukan langsung menempatkan aktor dalam hubungan timbal balik dengan audiens sehingga keberhasilan komedi tidak hanya ditentukan oleh kualitas naskah, tetapi juga oleh kemampuan aktor mengelola ritme permainan, membaca respons penonton, dan memanfaatkan karakter ruang pertunjukan. Perubahan karakteristik audiens modern yang dipengaruhi oleh perkembangan media digital menghadirkan tantangan baru terhadap pengelolaan perhatian serta efektivitas penyampaian humor di atas panggung. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan The Comic Pause dan Rule of Three sebagai teknik komedi dalam pertunjukan teater, serta mengkaji pengaruh respons audiens dan kondisi akustika ruang terhadap efektivitas kedua teknik tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan Practice-Based Research dengan menjadikan praktik artistik sebagai sumber utama pengumpulan data. Peneliti berperan sebagai aktor sekaligus sutradara dalam proses eksplorasi, eksperimen, implementasi pertunjukan, dan refleksi artistik. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara, dokumentasi, dan catatan refleksi selama proses latihan serta pementasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas The Comic Pause dan Rule of Three dipengaruhi oleh ketepatan comic timing, kemampuan improvisasi aktor, karakteristik respons audiens, serta kualitas akustika ruang pertunjukan. Interaksi antara unsur-unsur tersebut membentuk kelucuan yang bersifat organik dan adaptif dalam pertunjukan teater. Penelitian ini juga merumuskan sebuah kerangka latihan keaktoran yang mengintegrasikan teknik komedi, improvisasi, sensitivitas terhadap audiens, dan kepekaan terhadap ruang pertunjukan sebagai pendekatan dalam pengembangan kemampuan aktor komedi. Temuan penelitian diharapkan dapat memperkaya kajian keaktoran, humor, dan seni pertunjukan, serta menjadi referensi bagi praktisi dan pendidik teater dalam mengembangkan metode pelatihan aktor komedi.
Dari Panggung Menuju Layar: Transformasi Temporal Koreografi Tari Adlino Dananjaya; Ciptono Setyobudi; Suyadi Suyadi
SOSMANIORA: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 3 (2026): September 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sosmaniora.v5i3.8603

Abstract

This article examines how choreographic time changes when dance is transferred from the stage to film. The discussion is grounded in the talk and workshop From Stage to Screen: Examining the Cinematic Body, held during the 28th anniversary of Institut Media Digital Emtek, and focuses on the choreographic process of Japati Kembang Kota in Shutter. Using a qualitative case-study approach, the research draws on textual readings of workshop discourse, rehearsal accounts, shooting practices, editing procedures, and limited visual observation of two choreographic sequences. The analytical framework combines film time, screendance, the cinematic body, and editing rhythm. The findings indicate that bringing dance to the screen does not merely record movement; it reorganizes duration, expressive intensity, spatial relations, and narrative function. Real time remains as embodied memory produced through rehearsal, while film time reshapes movement through shot fragmentation, repeated takes, compressed duration, and editing rhythm. The cinematic body is therefore understood as a negotiated formation between bodily continuity and audiovisual construction.