Christian Franky Tarandung
Universitas Teknologi Sulawesi Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA BERBASIS KEARIFAN LOKAL: STUDI HARMONI SOSIAL ANTARA KOMUNITAS ADAT DAN PENDATANG DI KOTA MANADO Christian Franky Tarandung; Avent Patiro
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025 Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.36451

Abstract

The city of Manado is an area of rich ethnicity and culture but has difficulties in maintaining good relations between local people and migrants. Local wisdom, such as the philosophy of “Torang Samua Basudara” has a great ability to enhance good intercultural communication but has not been much researched in depth as a way to communicate. This research aims to study the ways of intercultural communication between indigenous people and migrants, discover the contribution of local values in strengthening social unity, and design ways of communication based on local culture. The method used was descriptive qualitative through four steps: initial studies and group discussions, data collection through detailed interviews and observations, data analysis with specific themes, and report writing. Preliminary findings show that barriers in communication, such as prejudice and stereotypes can be overcome by internalizing local cultural values in daily interactions. In conclusion, local wisdom not only serves as a cultural binder but can also be used as an effective intercultural communication strategy to create an open and harmonious society.
KOMUNIKASI ANTAR GENERASI DALAM PELESTARIAN BAHASA TONSEA SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA LOKAL DI KOTA MANADO Avent Christy Patiro; Christian Franky Tarandung
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025 Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.36498

Abstract

Penggunaan Bahasa Tonsea di kalangan generasi muda semakin berkurang, sehingga menempatkan bahasa ini pada posisi yang mengkhawatirkan sebagai bagian dari identitas budaya dan kearifan lokal masyarakat Minahasa di Kota Manado. Penurunan penggunaan ini menunjukkan adanya tantangan dalam proses pewarisan bahasa antar generasi yang semakin kompleks, terutama di tengah perubahan sosial dan dominasi bahasa lain dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola komunikasi antar generasi dalam mewariskan Bahasa Tonsea, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi keberhasilan upaya pelestariannya di lingkungan keluarga maupun komunitas. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik etnografi komunikasi, yang memungkinkan peneliti memahami praktik komunikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam, serta pencatatan interaksi dalam keluarga, komunitas, dan lingkungan digital yang kini semakin berperan dalam proses komunikasi generasi muda. Analisis data dilakukan secara tematik untuk menggambarkan pola, tujuan, norma, bentuk, serta saluran komunikasi antara generasi tua dan generasi muda secara lebih menyeluruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang memanfaatkan nilai-nilai budaya Minahasa, bersifat inklusif, serta dilakukan melalui interaksi rutin di keluarga dan komunitas, mampu meningkatkan kesadaran dan ketertarikan generasi muda terhadap Bahasa Tonsea. Selain itu, pemanfaatan media digital—seperti video edukatif, konten kreatif, dan komunitas daring—terbukti memiliki potensi besar dalam mendukung pelestarian bahasa, terutama bagi generasi yang lebih akrab dengan teknologi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelestarian Bahasa Tonsea memerlukan penguatan komunikasi antar generasi yang adaptif terhadap dinamika sosial dan perubahan teknologi. Upaya ini membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara keluarga, komunitas budaya, dan media digital agar Bahasa Tonsea tetap hidup, digunakan, dan dihargai oleh generasi masa kini dan mendatang.