Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Minat Bersastra dan Aktivitas Komunitas Sastra dengan Keterampilan Menulis Puisi Siswa Kelas VIII SMP Siti Aisyah Bukulasa Rafsanjani Hi. Laha; Novi Anoegrajekti; Saifur Rohman
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 6 No. 6 (2025): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Oktober-November 2025)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v6i6.6391

Abstract

Mengajarkan sastra, dan khususnya puisi, di sekolah sangat penting. Puisi berfungsi sebagai alat bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir, kecerdasan emosional, dan kesadaran mereka akan situasi kemanusiaan, selain menyediakan jalan keluar untuk pemahaman dan kesenangan. Para peneliti berangkat untuk menjawab tiga pertanyaan: (1) bagaimana partisipasi dalam komunitas sastra memengaruhi kemampuan siswa untuk menulis puisi? (2) apa peran kegiatan komunitas dalam kemampuan siswa untuk menulis puisi? (3) apa peran minat sastra siswa dalam kemampuan mereka untuk menulis puisi? Hasilnya menunjukkan bahwa (1) skor sering untuk minat sastra adalah 3,87, skor baik untuk keterlibatan komunitas sastra adalah 3,58, dan skor 4,34 untuk keterampilan menulis puisi juga dalam kategori baik. Untuk memastikan bahwa siswa memperoleh keterampilan yang diperlukan untuk menulis puisi, nilai frekuensi menunjukkan bahwa kegiatan komunitas sastra yang bertujuan untuk menumbuhkan minat telah dilaksanakan secara efektif. (2) Berdasarkan berbagai uji statistik, (1) Tendapat 3,87 untuk minat sastra, 3,58 untuk keterlibatan komunitas sastra, dan 4,34 untuk bakat menulis puisi, yang semuanya baik. Untuk memastikan bahwa siswa belajar bagaimana membuat puisi, kegiatan komunitas sastra yang mencoba untuk menarik minat mereka telah terbukti berhasil, menurut nilai frekuensi. (2) Berbagai uji statistik telah menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara minat sastra dan keterampilan menulis puisi, sebagaimana ditunjukkan oleh (1) nilai signifikansi 0,017 < 0,05 dan t hitung = -2,552, yang berkontribusi 20,6% pada keterampilan menulis puisi, dan (2) nilai signifikansi 0,029 < 0,05 dan t hitung = 2,313, yang berkontribusi 17,8%. (3) Kemampuan siswa kelas delapan di SMP Siti Aisyah Bukulasa untuk menulis puisi sangat terkait dengan minat mereka dalam sastra dan keterlibatan mereka dalam komunitas sastra. Hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi 0,02 < 0,05 dan nilai F hitung sebesar 7,612. Selain itu, keaktifan dalam komunitas sastra dan kecintaan yang tulus terhadap sastra berkontribusi sebesar 31,3% terhadap keterampilan seorang penyair.
The Semantic Meaning of Euphemisms in Raditya Dika’s Youtube Discaourse on Mental Health Zarin Agusti Ardy; Novi Anoegrajekti; Ratna Dewanti
International Journal of Language and Culture Vol. 4 No. 1 (2026): International Journal of Language and Culture
Publisher : CV. Goresan Pena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63762/ijolac.v4i1.62

Abstract

The openness of mental health discussions in digital media has encouraged the use of more indirect and subtle language to convey sensitive psychological experiences. This study aims to describe the meanings of euphemisms in Raditya Dika’s YouTube discourse on mental health and to explain the semantic processes underlying such representations. This study employs a qualitative descriptive method with a contextual semantic approach based on Allan and Burridge’s theory of euphemism. The data consist of 25 euphemistic utterances obtained from five videos uploaded to the Raditya Dika YouTube channel in 2023–2024. The data were collected through observation and note-taking techniques and then analyzed by identifying literal and contextual meanings, determining shifts in meaning, and classifying the data based on their semantic characteristics. The results reveal six categories of euphemistic meaning: psychological metaphor, avoidance of clinical terminology, emotional generalization, intensity reduction, social normalization, and neutral substitution. Psychological metaphor is the most dominant category, accounting for eight data points. These findings indicate that euphemisms in YouTube discourse represent mental health as a personal and reflective experience rather than merely as a clinical condition. Theoretically, this study contributes to the semantic study of euphemism in digital media, particularly in Indonesian-language mental health discourse.