I Wayan Batan
Laboratorium Diagnosis Klinik, Patologi Klinik, dan Radiologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. Sudirman, Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia, 80234

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kajian Pustaka: Cacar Monyet yang Terjadi pada Beberapa Hewan Kadek Ayu Wiadnyani; Made Shanty Meidiana; Kezia Joana Limarta; Rhenaldi Aulia Putra Wijaya; Luh Gede Winda Maheswari; I Wayan Batan
Indonesia Medicus Veterinus Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Suara Satwa & Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/imv.2025.v14.i01.p07

Abstract

PENDAHULUAN: Monkeypox atau cacar monyet adalah penyakit zoonosis yang muncul dengan prevalensi yang terus meningkat sehingga menimbulkan ancaman terhadap kesehatan manusia diseluruh dunia.TUJUAN: Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memberikan informasi mengenai cacar monyet pada hewan yang terkait dengan sejarah, penyebab, penularan, tanda klinis, diagnosis, angka kesakitan (morbiditas), dan angka kematian (mortalitas).  Meskipun penelitian mengenai cacar monyet sudah pernah dilakukan, tapi hanya sedikit yang dapat diketahui mengenai virus ini.METODE: Metode yang digunakan pada penulisan artikel ini adalah kajian literatur, dengan sumber yang dapat berasal dari buku, jurnal, dan artikel yang terkait dengan topik yang dibahas dari beberapa sumber pangkalan data.HASIL: Hewan pengerat dari Afrika mungkin dianggap sebagai reservoir, walaupun banyak spesies mamalia yang secara alami telah terinfeksi virus cacar monyet (MPXV).  Cacar monyet biasanya ditularkan dari hewan ke manusia melalui kontak langsung dengan perantara droplet, cairan tubuh yang menular, atau melalui media lainnya.  Di Afrika, infeksi cacar monyet telah ditemukan pada banyak spesies hewan, di antaranya monyet, tikus gambia, dan tupai.  Laporan terbaru menunjukkan bahwa virus ini telah meluas hingga menginfeksi seekor anjing di Paris.  Tanda klinis pada cacar monyet di hewan diawali dengan demam, limfadenopati, dan timbul lesi pada kulit berupa vesikula.  Diagnosis cacar monyet pada umumnya didasarkan pada tanda klinis dan pengamatan epidemiologi.  Selain itu, peneguhan diagnosis dilakukan melalui isolasi atau pengujian materi genetik untuk mengidentifikasi virus.  Angka kesakitan (morbiditas) penyakit cacar monyet umumnya tinggi sedangkan angka kematiannya (mortalitas) terbilang rendah.  Tidak ada obat spesifik untuk cacar monyet sehingga pengobatan hanya bersifat simptomatik.  Manusia dan hewan yang kemungkinan besar tertular cacar monyet dapat diimunisasi menggunakan vaksin dari virus vaccinia.SIMPULAN: Cacar monyet atau monkeypox adalah penyakit virus yang disebabkan oleh virus Monkeyfox dan bersifat zoonosis.  Selain pada monyet dan manusia, monkeyfox dapat menyerang hewan lain, seperti tupai, anjing, dan tikus.
Kajian Pustaka: Demam Keong atau Schistosomiasis pada Hewan dan Manusia I Made Beratha Mukti; Rima Nurmayani; Martin Pedro Krisenda Resman; Laras Ayu Nadira; Vinesia Ghona Gani; I Wayan Batan
Indonesia Medicus Veterinus Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Suara Satwa & Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/imv.2025.v14.i01.p08

Abstract

PENDAHULUAN: Schistosomiasis adalah penyakit parasit zoonosis dengan siklus penularan yang sangat kompleks.  Cacing daun Schistosoma tersebar di beberapa negara dengan spesies yang berbeda-beda, yakni, Schistosoma (S.) haematobium di 53 negara di Timur Tengah dan Afrika termasuk Mauritus dan Kepulauan Madagaskar; S. mansoni ditemukan pada 54 negara termasuk Afrika, Timur Tengah, Karibia dan Amerika Selatan; S. mekoni ditemukan di daerah Kamboja dan Laos; S. intercalatum ditemukan di daerah hutan lindung dan Afrika Tengah, serta; S. japonicum endemik di Cina, Filipina, dan Indonesia.  Schistosomiasis di Indonesia endemik di tiga daerah dataran tinggi yang relatif kecil dan terisolasi di sekitar Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah.  Daerah tersebut meliputi rawa-rawa di sekitar Danau Lindu, khususnya di Desa Anca, Langko, Tomado, dan Puro'o.TUJUAN: Penulisan kajian pustaka ini bertujuan untuk memberi penjelasan mengenai penyakit schistosomiasis.METODE: Metode yang dilakukan pada penulisan artikel ini adalah penelusuran literatur menggunakan buku, jurnal, dan artikel yang bersumber dari beberapa pangkalan data.HASIL: Gejala yang muncul akibat dari schistosomiasis adalah perut membesar, nafsu makan berkurang, selaput lendir mata pucat, anemia, lesu, sesak napas, mencret, bahkan biasanya terjadi kejang-kejang dan bila akut dapat menyebabkan kematian.  Metode diagnosis yang tersedia untuk mendiagnosis schistosomiasis, di antaranya pemeriksaan coproparasitological (CopE), diagnostik molekuler, dan imunologis.  Pencegahan penularan penyakit schistosomiasis yang paling utama adalah dengan pemberantasan terhadap keong Oncomelania huspensis karena keong tersebut merupakan inang atau perantara penyakit schistosomiasis dari satu manusia ke manusia lainnya.SIMPULAN: Penyakit schistosomiasis merupakan penyakit parasit zoonosis yang terdapat di beberapa negara, termasuk Indonesia.  Cacing S. japonicum merupakan spesies yang ditemukan di Dataran Tinggi Napu dan Bada, Kabupaten Poso, serta Dataran Tinggi Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Penyakit ini dapat menyebabkan beberapa gejala klinis hingga kematian.