Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT NANAS (Ananas comosus L. Merr) MELALUI AIR MINUM TERHADAP ORGANOLEPTIK DAGING ITIK BALI JANTAN Al Fath W. S.; N. L. P. Sriyani; I. N. T. Ariana
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meat is an animal product that is a complete source of protein, balanced and easily digested by the body. Bali ducks are local Indonesian ducks which have very high protein and fat nutritional value, and the quality of the meat produced is better than other poultry. This research aims to determine the organoleptic quality of male Bali duck meat given pineapple skin extract through drinking water. The analysis used is Non-Parametric Kruskal Wallis and if the results are significantly different then proceed with Mann-Whitney analysis. The treatments consisted of P0: male Bali ducks without extract, P1: male Bali ducks given 6% extract, P2: male Bali ducks given 8% extract, P3: male Bali ducks given 10% extract. The research results showed that the highest value of color, aroma, taste, texture and overall acceptability of meat was in the P3 treatment, which was statistically significantly different (P<0.05) compared to P0, P1, and P2. The highest overall meat acceptability value in the P3 treatment was 4.10, which was statistically significantly different (P<0.05). The conclusion of this research is that administering 10% pineapple skin extract through drinking water can improve the organoleptic quality of male Bali duck meat in terms of color, aroma, texture, taste and overall acceptability with an acceptance value of 4.10 (leading to very like). ABSTRAK Daging merupakan produk hewani sumber protein lengkap, seimbang dan mudah dicerna oleh tubuh. Itik bali sebagai itik lokal Indonesia yang memiliki nilai gizi protein dan lemak yang sangat tinggi, serta kualitas daging yang dihasilkan lebih baik dibandingkan unggas lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas organoleptik daging itik bali jantan yang diberi ekstrak kulit nanas melalui air minum. Analisis yang digunakan adalah Non-Parametrik Kruskal Wallis dan jika mendapatkan hasil berbeda nyata maka dilanjutkan dengan analisis Mann-Whitney. Perlakuan terdiri dari P0: itik bali jantan tanpa diberi ekstrak, P1: itik bali jantan diberi 6% ekstrak, P2: itik bali jantan diberi 8% ekstrak, P3: itik bali jantan diberi 10% ekstrak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai warna, aroma, citarasa, tekstur dan penerimaan keseluruhan daging tertinggi ada pada perlakuan P3 yaitu secara statistik berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan dengan P0, P1, dan P2. Nilai penerimaan keseluruhan daging tertinggi pada perlakuan P3 yaitu 4,10 secara statistik berbeda nyata (P<0,05). Simpulan dari penelitian ini adalah pemberian 10% ekstrak kulit nanas melalui air minum dapat meningkatkan kualitas organoleptik daging itik bali jantan terhadap warna, aroma, tekstur, cita rasa dan penerimaan keseluruhan dengan nilai penerimaan 4,10 (mengarah ke sangat suka).
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT BUAH NANAS (Ananas comous L.Merr) TERFEMENTASI MELALUI AIR MINUM TERHADAP KOMPOSISI FISIK KARKAS AYAM KAMPUNG UNGGUL BALITBANGTAN (KUB) Faiz H. A.; N. L. P. Sriyani; I. N. S. Sutama
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 3 (2025): Vol. 13 No.3(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Improving carcass quality can be achieved through the utilization of natural feed additives, one of which is by giving fermented pineapple fruit peel extract (Ananas comosus L. Merr). This study aims to determine the effect of giving fermented pineapple fruit peel extract (Ananas Comous L. merr) on the physical composition of Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) carcasses. This research was conducted at Sesetan Farm, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University, located at Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No. 6, Denpasar, Bali for 8 weeks. The design used was a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replicates, so there were 20 experimental units. Each experimental unit contained 3 two-week-old KUB chickens. The four treatments were the level of fermented pineapple peel extract in drinking water, namely 0%, 11%, 12%, and 13% for treatments P0, P1, P2 and P3, respectively. The observed variables were carcass weight, meat percentage, bone percentage and subcutaneous fat percentage. The results showed that the physical composition of carcasses in treatments P1, P2, and P3 were not significantly different (P>0.05) compared to P0. Based on the results of the study, it can be concluded that the provision of fermented pineapple peel extract (Ananas Comous L. merr) through drinking water at the level of 11%, 12%, and 13% has no effect on the physical composition of the carcass of Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) Chicken. ABSTRAK Peningkatan kualitas karkas dapat diupayakan melalui pemanfaatan feed additive alami, salah satunya dengan pemberian ekstrak kullit buah nanas (Ananas comosus L. Merr) yang difermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kulit buah nanas (Ananas comous L. Merr) terfermentasi terhadap komposisi fisik karkas Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB). Penelitian ini dilaksanakan di Farm Sesetan, Fakultas Peternakan Universitas Udayana, yang berlokasi di Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No. 6, Denpasar, Bali selama 8 minggu. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan, sehingga terdapat 20 unit percobaan. Setiap unit percobaan berisi 3 ekor ayam KUB berumur dua minggu. Keempat perlakuan tersebut adalah level ekstrak kulit buah nanas terfermentasi dalam air minum yaitu 0%, 11%, 12%, dan 13% masing-masing untuk perlakuan P0, P1, P2 dan P3. Variabel yang diamati adalah bobot karkas, persentase daging, persentase tulang dan persentase lemak subkutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi fisik karkas pada perlakuan P1, P2, dan P3 berbeda tidak nyata (P>0,05) dibandingkan dengan P0. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak kulit nanas (Ananas Comous L. merr) terfermentasi melalui air minum pada level 11%, 12%, dan 13% tidak berpengaruh terhadap komposisi fisik karkas ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB).
PENGARUH PENGGANTIAN SEBAGIAN KONSENTRAT KOMERSIAL PROTEIN LIMBAH PETERNAKAN AYAM TERHADAP DIMENSI TUBUH BABI BALI Abi M.; I. N. T. Ariana; N. L. P. Sriyani
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 3 (2025): Vol. 13 No.3(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of partial replacement of commercial concentrates of chicken farm waste protein on the body dimensions of Balinese pigs. This research was conducted on May 22 - July 16, 2023 at the pig farm bukit jimbaran faculty of animal husbandry, Udayana University, South Kuta, Badung Regency Bali. With three treatments and five replications. The first treatment, (Ration A) using 24% CP.152 Concentrate +0% KPLA (control). The second treatment, (Ration B) using 12% CP.152 Concentrate +12% KPLA. The third treatment, (Ration C) using 0% CP.152 Concentrate + 24% KPLA. Data analysis using variance analysis, if there is a significant difference between treatments, then the difference is continued with Duncan multiple range test with the help of SPSS 26. The research variables are body weight gain (BWG), body length of pigs, height of pigs, chest circumference of pigs, hip width of pigs. The results showed that the effect of partial replacement of commercial concentrates of chicken farming waste on the body dimensions of Balinese pigs is the variable of body weight gain (BWG) in treatment B produced the highest average of 28.88 kg. body length of Balinese pigs in treatment A was 52.70 cm, body height of Balinese pigs in treatment A produced the highest average of 45.00 cm, chest circumference of Balinese pigs in treatment A produced the highest average of 69.18 cm, and hip width of Balinese pigs in treatment A reached an average of 18.64 cm. It can be concluded that the effect of partial replacement of commercial concentrate with chicken farm waste did not affect the body dimensions of the pigs in the control group. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggantian sebagian konsentrat komersial protein limbah peternakan ayam terhadap dimensi tubuh babi bali. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 22 mei -16 juli 2023 dikandang babi farm Bukit Jimbaran Fakultas Peternakan, Universitas Udayana Kuta Selatan, Kabupaten Badung Bali. Dengan tiga perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan pertama, (Ransum A) dengan menggunakan 24% Konsentrat CP.152 +0% KPLA (kontrol). Perlakuan kedua, (Ransum B) dengan menggunakan 12% Konsentrat CP.152+12% KPLA. Perlakuan ketiga, (Ransum C) dengan perlakuan 0% Konsentrat CP.152 + 24% KPLA. Analisis data menggunakan sidik ragam, jika terdapat perbedaan yang nyata diantara perlakuan, maka perbedaan dilanjutkan dengan Duncan multiple range test dengan bantuan SPSS 26. Variabel penelitian yaitu pertambahan berat badan (pbb), panjang badan babi bali, tinggi badan babi bali, lingkar dada babi bali, lebar pinggul babi bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh penggantian sebagian konsentrat komersial limbah peternakan ayam terhadap dimensi tubuh babi bali adalah variabel pertambahan berat badan (pbb) pada perlakuan B menghasilkan rataan tertinggi sebesar 28,88 kg. panjang badan babi bali pada perlakuan A sebesar 52,70 cm, tinggi badan babi bali pada perlakuan A mengasilkan rataan tertinggi sebesar 45,00 cm, lingkar dada babi bali pada perlakuan A menghasilkan rataan tertinggi sebesar 69,18 cm, dan lebar pinggul babi bali pada perlakuan A mencapai rataan sebesar 18,64 cm. Maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh penggantian sebagian konsentrat komersial limbah peternakan ayam tidak mempengaruhi dimensi tubuh babi bali pada kelompok kontrol.
PERBEDAAN KUALITAS ORGANOLEPTIK DAGING SAPI BALI PADA PASAR TRADISIONAL, SWALAYAN, DAN DISTRIBUTOR DAGING DI KOTA DENPASAR I. A. A. A. Fahreza; N. L. P. Sriyani; N. M. S. Sukmawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 4 (2025): Vol 13 No 4 (2025): Vol. 13 No.4(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The organoleptic quality of beef such as color, aroma, taste, texture, and tenderness is an imporant factor influencing consumer decisions in purchasing beef. Several factors affect the organoleptic quality of beef, including storage, handling, and distribution. The aim of this research is to determine the differences in organoleptic quality of Bali beef in traditional markets, supermarkets, and meat distributors in Denpasar City and to determine the best quality of Balinese beef sold in traditional markets, supermarkets, and meat distributors in Denpasar City. The design used is a completely randomized design (CRD) consisting of 3 treatments, namely: distributor (P1), supermarket (P2), and traditional market (P3). Each treatment was tested by 25 panelists as replicates. The observed variables include: color, aroma, taste, texture, tenderness, and overall acceptance. The research results show that the organoleptic quality of bali beef obtained from traditional markets, supermarkets, and distributors shows significant different results (P<0,05) regarding color, aroma, taste, texture, tenderness, and overall acceptance, with the highest preference score for meat originating from supermarkets (P2). From this research, it can be concluded that the place of meat sales affects the organoleptic quality, with the highest preference level found in supermarkets. ABSTRAK Kualitas organoleptik daging sapi seperti warna, aroma, rasa, tekstur, dan keempukan merupakan faktor penting yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli daging sapi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas organoleptik daging sapi, diantaranya penyimpanan, penangan, dan distributor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kualitas organoleptik daging sapi bali pada pasar tradisional, swalayan dan distributor daging di Kota Denpasar dan untuk mengetahui kualitas terbaik daging sapi bali yang dijual dari pasar tradisional, swalayan, dan distributor daging di Kota Denpasar. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan, yaitu: distributor (P1), swalayan (P2) dan pasar tradisional (P3). Setiap perlakuann diuji oleh 25 orang panelis sebagai ulangan. Variabel yang diamati meliputi: warna, aroma, rasa, tekstur, keempukan dan penerimaan keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas organoleptik daging sapi bali yang diperoleh dari pasar tradisional, swalayan dan distributor menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap warna, aroma, rasa, tekstur, keempukan dan penerimaan keseluruhan dengan skor tingkat kesukaan tertinggi pada daging yang berasal dari swalayan (P2). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tempat penjualan daging sapi berpengaruh terhadap kualitas organoleptik dengan tingkat kesukaan tertinggi pada swalayan.
KUALITAS FISIK DAGING SAPI BALI PADA PASAR TRADISIONAL, SWALAYAN DAN DISTRIBUTOR DAGING DI KOTA DENPASAR A. A. Suryono; N. L. P. Sriyani; N. M. S. Sukmawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 4 (2025): Vol 13 No 4 (2025): Vol. 13 No.4(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the difference in the physical quality of Balinese beef sold in traditional markets, supermarkets, and meat distributors in Denpasar City. The method used was a Complete Random Design (RAL) with three treatments and four replicas. Meat samples were analyzed for color (L*, a*, b*), pH, raw shrinkage, ripe shrinkage, and water binding (DIA). The main results showed that the redness level (a*) of meat differed markedly (P<0.05), with the highest value in the traditional market (40,60). pH values and water binding (DIA) also tend to be higher in traditional markets, although the pH is not statistically significant (P>0.05). Meanwhile, the highest decline in cooking was found in supermarkets (38,66%). Overall, it is concluded that the physical qualities of balinese beef are best found in meat sold in traditional markets. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kualitas fisik daging sapi bali yang dijual di pasar tradisional, swalayan, dan distributor daging di Kota Denpasar. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan empat ulangan. Sampel daging dianalisis untuk warna (L*, a*, b*), pH, susut mentah, susut masak, dan Daya Ikat Air (DIA). Hasil utama menunjukkan bahwa tingkat kemerahan (a*) daging berbeda nyata (P<0,05), dengan nilai tertinggi di pasar tradisional (40,60). Nilai pH dan Daya Ikat Air (DIA) juga cenderung lebih tinggi di pasar tradisional, meskipun pH tidak berbeda nyata secara statistik (P>0,05). Sementara itu, susut masak tertinggi ditemukan pada swalayan (38,66%). Secara keseluruhan, disimpulkan bahwa kualitas fisik daging sapi bali terbaik ditemukan pada daging yang dijual di pasar tradisional.
KUALITAS FISIK DAN ORGANOLEPTIK DAGING KAMBING PERANAKAN ETAWAH YANG DIMARINASI DENGAN MADU TRIGONA SP. M. R., Zhahir,; A. A. Oka,; N. L. P. Sriyani
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2(2026)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This investigation seeks to ascertain the physical also organoleptic quality of Etawah crossbred goat meat marinated with Trigona Sp. honey. This investigation used a fully randomized design, 4 treatments also 4 replications over the course of two months. The interventions included P0: goat meat marinated with 0% Trigona Sp. honey; P1: goat meat marinated 10% Trigona Sp. honey; P2: goat meat marinated 15% Trigona Sp. honey; P3: goat meat marinated with 20% Trigona Sp. honey. While organoleptic quality encompasses color, aroma, taste, texture, tenderness, and general acceptability, physical quality factors include water-holding capacity, pH, color, also cooking loss. The investigation's findings demonstrated that the physical quality of cooking loss, also pH were statistically significantly different, while in raw loss, water holding capacity and b* (yellowish) colors were not statistically significantly different but showed a decreasing trend in water holding capacity and b* (yellowish) colors and an increasing trend in raw loss. In organoleptic quality, the hedonic value of color was statistically significantly different with a score of 2.93-4.00 criteria of liking to liking very much, while in hedonic value of tenderness, aroma, taste, texture also general acceptability were not much different. According the investigation's results, show at the 20% level, the marinated results of PE goat meat with Trigona Sp. honey were preferred in terms of organoleptic value seen from overall acceptance. ABSTRAK Studi ini mempunyai tujuan guna mengidentifikasi kualitas fisik dan organoleptik daging kambing peranakan etawah, dimarinasi dengan madu Trigona Sp. Studi ini dijalankan 2 bulan memakai RAL dengan 4 perlakukan 4 ulangan. Perlakukan terdiri atas P0: daging kambing dimarinasi 0% madu Trigona Sp; P1: daging kambing dimarinasi 10% madu Trigona Sp; P2: daging kambing dimarinasi 15% madu Trigona Sp; P3: daging kambing yang dimarinasi 20% madu Trigona Sp. Variabel yang ditinjau kualitas fisik melingkupi pH, susut masak, daya ikat air, susut mentah, serta warna, kualitas organoleptik melingkupi aroma, warna, rasa, tekstur, keempukan serta penerimaan keseluruhan. Temuan studi menunjukan kualitas fisik pada nilai pH, dan susut masak secara statistika berbeda nyata sedangkan pada susut mentah, daya ikat air dan b* (kekuningan) secara statistika tidak berbeda nyata tetapi menunjukan tren penurunan pada daya ikat air dan b* (kekuningan) dan tren peningkatan pada susut mentah. Pada kualitas organoleptik pada nilai hedonik warna secara statsitik berbeda nyata dengan skor 2,93-4,00 kriteria suka sampai sangat suka sedangkan pada nilai hedonik tekstur, aroma, rasa, keempukan serta penerimaan keseluruhan tidak berbeda nyata. Temuan studi bisa ditarik simpulan pada level 20% hasil marinasi daging kambing PE dengan madu Trigona Sp. disukai secara nilai organoleptik dilihat dari penerimaan keseluruhan.
KUALITAS ORGANOLEPTIK DAGING ITIK BALI JANTAN YANG DIBERI EKSTRAK AIR DAUN Asystasia gangetica (L) subsp. Micrantha MELALUI AIR MINUM G. B. B. S. Adinata; N. L. P. Sriyani; E. Puspani
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2(2026)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meat from Bali ducks has potential as a source of animal protein, but its organoleptic quality is often less favorable, particularly due to darker meat color, pronounced off-odor, and less acceptable flavor. Asystasia gangetica leaves contain bioactive and antioxidant compounds that may improve meat quality when administered as a water extract in drinking water. The study aims to examine the effect of various scales of Asystasia gangetica leaf water on the organoleptic quality of male Balinese duck meat. A trial of up to 8 weeks in Tabanan Regency duck farm Through Completely Randomized Series (RUPS) of some actions: P0 (0% extract), P1 (2% extract), P2 (4% extract), and P3 (6% extract) which were repeated 5 times on 3 ducks (a total of 60 ducks). Variables of taste, color, odor, tenderness, texture and overall acceptance of breast meat will be tested, through a 5-point level by 25 semi-trained panelists. The report was analyzed with Kruskal–Wallis followed by Mann–Whitney U test. The resulting Asystasia gangetica leaf water extraction contributed (P<0.05) to odor, color and overall acceptance, taste, texture and tenderness of Balinese duck meat. Treatment P2 (4% extract) obtained the best results for dominant organoleptic properties. It is assumed that supplementation of 4% Asystasia gangetica leaf water extract can support the organoleptic quality of Balinese duck meat based on panelist reviews. ABSTRAK Daging itik Bali jantan berpotensi sebagai sumber protein hewani, namun masih memiliki kelemahan pada kualitas organoleptik, terutama warna yang cenderung gelap, aroma amis, dan citarasa yang kurang disukai. Daun Asystasia gangetica (ara sungsang) mengandung senyawa bioaktif dan antioksidan yang berpeluang dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas daging melalui pemberian ekstrak air dalam air minum. Tujuan riset ini untuk memahami pengaruh diberikanya ekstrak air daun Asystasia gangetica dengan perbedaan level dalam air minum pada kualitas organoleptik daging itik Bali jantan. Riset ini diselenggarakan dengan berdurasi 8 minggu di kandang milik peternak di Kabupaten Tabanan dengan mengandalkan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas empat perlakuan, seperti P0 (0% ekstrak), P1 (2% ekstrak), P2 (4% ekstrak), dan P3 (6% ekstrak) dalam air minum, masing-masing dengan lima ulangan dan tiga ekor itik per ulangan (total 60 ekor). Sebagian variabel yang diuji yaitu citarasa, keempukan, warna, aroma, tekstur serta penerimaan keseluruhan daging dada melalui uji hedonik skala 1–5 menggunakan 25 panelis semi-terlatih. Datanya dianalisa melalui pengujian Kruskal–Wallis dan dilanjutkan uji Mann–Whitney. Hasil riset membuktikan jika pemberian ekstrak air daun Asystasia gangetica melalui air minum berkontribusi nyata (P<0,05) pada warna, aroma, dan penerimaan keseluruhan, citarasa, tekstur dan keempukan daging itik Bali jantan. Perlakuan P2 (4% ekstrak) menghasilkan skor tertinggi pada sebagian besar variabel organoleptik. Disimpulkan jika pemberian ekstrak air daun Asystasia gangetica dalam air minum hingga level sekitar 4% bisa menambah kualitas organoleptik daging itik Bali jantan berdasarkan penilaian panelis.
KUALITAS FISIK DAGING AYAM KAMPUNG UNGGUL BALITBANGTAN (KUB) YANG DIBERI PAKAN KONSENTRAT PROTEIN LIMBAH PETERNAKAN AYAM (KPLA) DALAM RANSUM N.K.K.A. Pariartisa; I N.T. Ariana; N. L. P. Sriyani
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 14 No. 3 (2026): Vol. 14 No. 3 (2026): Vol. 14 No. 3(2026)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) chickens are a selected local breed with high potential as meat-producing poultry. The physical quality of meat is strongly influenced by feed management, particularly protein adequacy. The utilization of poultry waste protein concentrate (KPLA) as an alternative feed ingredient is expected to reduce production costs without compromising meat quality. This study aimed to evaluate the effect of KPLA inclusion in the diet on the physical quality of KUB chicken meat. A Completely Randomized Design (CRD) was used with four treatments: P0 (0% KPLA), P1 (10% KPLA), P2 (20% KPLA), and P3 (30% KPLA), each with five replications. A total of 80 day-old KUB chickens were reared for 8 weeks. The observed parameters included pH, water holding capacity (WHC), raw loss, cooking loss, and meat color. The results showed that the inclusion of KPLA up to 30% in the diet had no significant effect (P>0.05) on all physical quality parameters of KUB chicken meat, including pH (6.15–6.20), water holding capacity (44.9–45.5%), raw loss (7.61–7.81%), cooking loss (31.0–33.8%), and meat color (L*, a*, b*). In conclusion, KPLA can be used as a partial substitute for commercial concentrate up to 30% in the diet without reducing the physical quality of KUB chicken meat. Therefore, it has potential as an efficient and sustainable alternative feed ingredient. ABSTRAK Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) merupakan ayam lokal hasil seleksi yang memiliki potensi tinggi sebagai penghasil daging. Kualitas fisik daging sangat dipengaruhi oleh manajemen pakan, terutama kecukupan protein. Pemanfaatan konsentrat protein limbah peternakan ayam (KPLA) sebagai bahan pakan alternatif diharapkan dapat menekan biaya produksi tanpa menurunkan kualitas daging. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian KPLA dalam ransum terhadap kualitas fisik daging ayam KUB. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu P0 (0% KPLA), P1 (10% KPLA), P2 (20% KPLA), dan P3 (30% KPLA), masing-masing lima ulangan. Ternak yang digunakan sebanyak 80 ekor ayam KUB yang dipelihara selama 8 minggu. Parameter yang diamati meliputi derajat keasaman (pH), daya ikat air (WHC), susut mentah, susut masak, dan warna daging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian KPLA dalam ransum hingga level 30% tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap seluruh parameter kualitas fisik daging ayam KUB, yaitu pH (6,15–6,20), daya ikat air (44,9–45,5%), susut mentah (7,61–7,81%), susut masak (31,0–33,8%), serta warna daging (L*, a*, b*). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan KPLA sebagai pengganti sebagian konsentrat komersial hingga level 30% dalam ransum tidak menurunkan kualitas fisik daging ayam KUB, sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan pakan alternatif yang efisien dan berkelanjutan.