Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT BUAH NANAS (Ananas comosus L.) MELALUI AIR MINUM TERHADAP KOMPOSISI FISIK KARKAS ITIK BALI JANTAN Arifin M. Z.; I. N. T. Ariana; I. G. Mahardika
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The physical composition of male Bali duck carcasses can be improved by administering pineapple peel extract as a feed addive to replace antibiotics (AGP). This research aims to determine the effect of giving pineapple peel extract on the physical composition of male Bali duck carcasses. This research was carried out at Sesetan Farm, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University for 8 weeks starting from February 24 2024 to April 21 2024. The design used was a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 4 replications, so the total experiment was 16 units. Each experimental unit contained 3 male Balinese ducks aged 1 day, a total of 48 ducks used with an average weight of 48.25 ± 2.58 g. The treatment given to male Bali ducks was pineapple rind extract through drinking water, namely: (P0) drinking water without pineapple rind extract, (P1) drinking water with 6% pineapple rind extract, (P2) drinking water with 8% extract pineapple peel, (P3) drinking water with 10% pineapple peel extract. The variables observed were slaughter weight, carcass weight, carcass percentage, and physical composition of the carcass including bones, meat, and subcutaneous fat including skin. The results of this study show that the effect of giving pineapple peel extract (Ananas comosus L.) through drinking water at 6%, 8%, and 10% gives no different results on slaughter weight, carcass weight, carcass percentage, and subcutaneous fat percentage. It can be concluded that administering pineapple peel extract through drinking water at levels of 6%, 8%, and 10% gave no different results on the physical composition of male Bali duck chicken. ABSTRAK Komposisi fisik karkas itik bali jantan dapat diperbaiki dengan pemberian ekstrak kulit buah nanas sebagai feed addive untuk pengganti antibiotic (AGP). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kulit buah nanas terhadap komposisi fisik karkas itik Bali jantan. Penelitian ini dilaksanakan di Farm Sesetan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana selama 8 minggu dimulai tanggal 24 Februari 2024 sampai tanggal 21 April 2024. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan, sehingga total percobaan adalah 16 unit. Setiap unit percobaan berisi 3 ekor itik Bali jantan yang berumur 1 hari, total itik yang digunakan sebanyak 48 ekor dengan berat rata 48,25±2,58 g. Perlakuan yang diberikan pada itik Bali jantan berupa ekstrak kulit buah nanas melalui air minum yaitu : (P0) air minum tanpa ekstrak kulit buah nanas, (P1) air minum dengan 6% ekstrak kulit buah nanas, (P2) air minum dengan 8% ekstrak kulit buah nanas, (P3) air minum dengan 10% ekstrak kulit buah nanas. Variabel yang diamati adalah bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, dan komposisi fisik karkas meliputir tulang, daging, dan lemak subkutan termasuk kulit. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengaruh pemberian ektrak kulit buah nanas (Ananas comosus L.) melaluir air minum sebanyak 6%, 8%, dan 10% memberikan hasil yang tidak berberda terhadap bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, dan komposisi fisik karkas meliputi persentase tulang, persentase daging, dan persentase lemak subkutan. Dapat disimpulkan bahwa permberian ekstrak kulit buah nanas melalui air minum pada level 6%, 8%, dan 10% memberikan hasil yang sama pada komposisi fisik karkas itik Bali jantan.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT NANAS (Ananas comosus L. Merr) MELALUI AIR MINUM TERHADAP ORGANOLEPTIK DAGING ITIK BALI JANTAN Al Fath W. S.; N. L. P. Sriyani; I. N. T. Ariana
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meat is an animal product that is a complete source of protein, balanced and easily digested by the body. Bali ducks are local Indonesian ducks which have very high protein and fat nutritional value, and the quality of the meat produced is better than other poultry. This research aims to determine the organoleptic quality of male Bali duck meat given pineapple skin extract through drinking water. The analysis used is Non-Parametric Kruskal Wallis and if the results are significantly different then proceed with Mann-Whitney analysis. The treatments consisted of P0: male Bali ducks without extract, P1: male Bali ducks given 6% extract, P2: male Bali ducks given 8% extract, P3: male Bali ducks given 10% extract. The research results showed that the highest value of color, aroma, taste, texture and overall acceptability of meat was in the P3 treatment, which was statistically significantly different (P<0.05) compared to P0, P1, and P2. The highest overall meat acceptability value in the P3 treatment was 4.10, which was statistically significantly different (P<0.05). The conclusion of this research is that administering 10% pineapple skin extract through drinking water can improve the organoleptic quality of male Bali duck meat in terms of color, aroma, texture, taste and overall acceptability with an acceptance value of 4.10 (leading to very like). ABSTRAK Daging merupakan produk hewani sumber protein lengkap, seimbang dan mudah dicerna oleh tubuh. Itik bali sebagai itik lokal Indonesia yang memiliki nilai gizi protein dan lemak yang sangat tinggi, serta kualitas daging yang dihasilkan lebih baik dibandingkan unggas lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas organoleptik daging itik bali jantan yang diberi ekstrak kulit nanas melalui air minum. Analisis yang digunakan adalah Non-Parametrik Kruskal Wallis dan jika mendapatkan hasil berbeda nyata maka dilanjutkan dengan analisis Mann-Whitney. Perlakuan terdiri dari P0: itik bali jantan tanpa diberi ekstrak, P1: itik bali jantan diberi 6% ekstrak, P2: itik bali jantan diberi 8% ekstrak, P3: itik bali jantan diberi 10% ekstrak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai warna, aroma, citarasa, tekstur dan penerimaan keseluruhan daging tertinggi ada pada perlakuan P3 yaitu secara statistik berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan dengan P0, P1, dan P2. Nilai penerimaan keseluruhan daging tertinggi pada perlakuan P3 yaitu 4,10 secara statistik berbeda nyata (P<0,05). Simpulan dari penelitian ini adalah pemberian 10% ekstrak kulit nanas melalui air minum dapat meningkatkan kualitas organoleptik daging itik bali jantan terhadap warna, aroma, tekstur, cita rasa dan penerimaan keseluruhan dengan nilai penerimaan 4,10 (mengarah ke sangat suka).
MASA SIMPAN DAGING BROILER PACSA PEMELIHARAAN PADA CLOSED HOUSE DITINJAU DARI INDIKATOR SENSORIS Malau R. N. P. S.; I. N. S. Miwada; I. N. T. Ariana
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research investigates the sensory evaluation of broiler meat in a closed house system with different durations of meat storage to determine the sensory quality of broiler meat raised in the closed house system. The study employs a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments, denoted as M1 (chicken breast) stored at room temperature for 1 hour, M2 for 3 hours, M3 for 5 hours, and M4 for 7 hours. Four replications were conducted, and samples were randomly collected at four points for each treatment. These samples were then utilized in organoleptic tests, which involved inviting a panel of 20 assessors to evaluate the sensory quality of broiler meat. Results indicate that treatments M1, M2, M3, and M4 did not exhibit significant differences (P>0.05) with mean values ranging from 3.85 to 4.05 in terms of preference for broiler meat taste. Panelist preference for broiler meat color did not significantly differ (P>0.05) among treatments M1, M2, M3, and M4, with mean values ranging from 3.8 to 4.45, indicating a tendency toward liking. Similarly, panelist preference for broiler meat aroma did not show significant differences (P>0.05) across treatments M1, M2, M3, and M4, with mean values ranging from 3.8 to 4.05, reflecting a tendency toward liking. The level of preference for broiler meat texture in treatments M1, M2, M3, and M4 did not differ significantly (P>0.05) with mean values ranging from 3.75 to 4.1, indicating a tendency toward liking. In conclusion, the overall acceptance of broiler meat in the closed house system with varying storage durations (M1, M2, M3, and M4) did not exhibit significant differences (P>0.05) with a mean value of 4.2, suggesting a general preference among consumers. ABSTRAK Penelitian mengenai evaluasi sensoris daging broiler pada pemeliharaan sistem closed house dengan lama masa penyimpan daging ayam yang berbeda telah dilakukan untuk mengetahui kualitas sensoris daging broiler yang di pelihara pada sistem closed house. Hal tersebut dilakukan dengan metode rancangan Acak Lengkap (RAL) pola sederhana yakni dengan 4 perlakuan, di mana M1 daging ayam (dada) yang disimpan dalam suhu kamar selama 1 jam, M2 selama 3 jam, M3 selama 5 jam, dan M 4 selama 7 jam kemudian 4 ulangan yaitu pada tiap perlakuan dilakukan pengambilan sampel pada 4 titik yang dipilih secara acak lalu pada tiap titik akan diambil sampel broiler yang akan digunakan pada uji organoleptik, pada uji organoleptik dilakukan dengan mengundang panelis berjumlah 20 orang untuk menilai kualitas sensoris daging broiler. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan M1, M2, M3 dan M4 tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan nilai rataan 3,85-4,05. Kesukaan panelis terhadap warna daging broiler menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) antara perlakuan M1, M2, M3 dan M4 dengan nilai perlakuan 3,8-4,45 (cenderung suka). Kesukaan panelis, terhadap aroma daging broiler perlakuan M1, M2, M3 dan M4 tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan nilai rataan 3,8-4,05 (cenderung suka). Tingkat kesukaan terhadap tekstur daging broiler M1, M2, M3 dan M4 tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan nilai rataan 3,75-4,1 (cenderung suka). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penerimaan keseluruhan terhadap daging broiler pada pemeliharaan sistem Closed House dengan lama masa penyimpanan yang berbeda menunjukkan perlakuan M1, M2, M3 dan M4 tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan nilai rataan 4,2 (cenderung suka).
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT BUAH NAGA DAN CIPLUKAN PADA AIR MINUM TERHADAP RECAHAN KOMERSIAL KARKAS ITIK BALI Purba E. G. H.; I. N. T. Ariana; G. A. M. K. Dewi
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 3 (2025): Vol. 13 No.3(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bali duck is a local poultry that has cultural and economic value, especially in Bali. Dragon fruit peel contains various vitamins, alkaloids, terpenoids, and flavonoids. Ciplukan contains flavonoids, saponins, and tannins. This study aims to determine the effect of dragon fruit peel extract (Hylocereus polyrhizus) and ciplukan (Physalis angulata) in drinking water on commercial fractions of Bali duck carcasses (Anas sp). The study used a completely randomized design (CRD) with 5 treatments, 4 replications and each replication consisted of 5 ducks. The treatments given were drinking water without dragon fruit peel extract and ciplukan (P0), drinking water with 5% dragon fruit peel extract (P1), drinking water with 5% ciplukan extract (P2), drinking water with 2.5% dragon fruit peel extract and 2.5% ciplukan (P3), drinking water with 5% dragon fruit peel extract and 5% ciplukan (P4). The observed variables included slaughter weight, carcass weight, carcass percentage, and commercial carcass cuts. The results showed that the administration of dragon fruit peel extract (Hylocereus polyrhizus) and ciplukan (Physalis angulata) in drinking water to Bali ducks did not affect slaughter weight, carcass weight, carcass percentage, and commercial carcass cuts. The results of this study can be concluded that the administration of dragon fruit peel extract (Hylocereus polyrhizus) and ciplukan (Physalis angulata) in drinking water at the level of 5% dragon fruit peel, 5% ciplukan, 2.5% dragon fruit peel extract and 2.5% ciplukan, 5% dragon fruit peel extract and 5% ciplukan has not been able to increase the commercial carcass cuts of 5 week old Bali ducks. ABSTRAK Itik Bali merupakan unggas lokal yang memiliki nilai budaya dan ekonomi, terutama di Bali. Kulit buah naga mengandung berbagai vitamin, alkaloid, terpenoid, dan flavonoid. Ciplukan mengandung flavonoid, saponin, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kulit buah naga (Hylocereus polyrhizus) dan ciplukan (Physalis angulata) pada air minum terhadap recahan komersial karkas itik bali (Anas sp). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan, 4 ulangan dan masing-masing ulangan terdiri dari 5 ekor itik. Perlakuan yang diberikan adalah air minum tanpa ekstrak kulit buah naga dan ciplukan (P0), air minum dengan 5% ekstrak kulit buah naga (P1), air minum dengan 5% esktrak ciplukan (P2), air minum dengan 2,5% ekstrak kulit buah naga dan 2,5% ciplukan (P3), air minum dengan 5% ekstrak kulit buah naga dan 5% ciplukan (P4). Variabel yang diamati meliputi berat potong, berat karkas, persentase karkas, dan potongan komersial karkas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kulit buah naga (Hylocereus polyrhizus) dan ciplukan (Physalis angulata) pada air minum terhadap itik bali tidak berpengaruh terhadap berat potong, berat karkas, persentase karkas, dan potongan komersial karkas. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak kulit buah naga (Hylocereus polyrhizus) dan ciplukan (Physalis angulata) pada air minum taraf 5% kulit buah naga, 5% ciplukan, ekstrak 2,5% kulit buah naga dan 2,5% ciplukan, ekstrak 5% kulit buah naga dan 5% ciplukan belum mampu meningkatkan recahan komersial karkas itik bali umur 5 minggu.
PENGARUH PENGGANTIAN KONSENTRAT KOMERSIAL DENGAN KONSENTRAT PROTEIN LIMBAH PETERNAKAN AYAM (KPLA) TERHADAP PERFORMA ITIK BALI (Anas sp.) Anisa W. D.; I. N. T. Ariana; M. Wirapartha
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 3 (2025): Vol. 13 No.3(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ducks are one of the most productive poultry commodities in producing eggs and meat. This research aims to determine the effect of replacing commercial concentrate with chicken farm waste protein concentrate (KPLA) in the ration on performance of bali duck.This research used 90 male Balinese ducks. The research design used was a Completely Randomized Design (CRD) consisting of three treatments and six replications with each replication consisting of five male Balinese ducks. The treatments given were male Bali ducks given commercial concentrate feed and rations without the addition of KPLA as a control (P0), male Bali ducks given a mixture of rations, 12.5% ​​concentrate and 12.5% ​​KPLA (P1), and male Bali ducks given rations and 25% KPLA (P2). The variables observed included initial body weight, final weight, body weight gain, feed consumption, and feed conversion ratio. The results of this study indicate that the replacement of commercial concentrate with 25% Chicken Farm Waste Protein Concentrate (P2) had a significant effect (P<0.05) on the final weight, body weight gain and ration consumption. Meanwhile, the use of KPLA in treatments P1 and P2 did not have a significant effect (P>0.05) on the FCR value. The results of this study can be concluded that replacing commercial concentrate with 25% KPLA (P2) can improve the performance of Bali ducks. ABSTRAK Itik menjadi salah satu komoditas ternak unggas yang produktif dalam menghasilkan telur dan daging. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggantian konsentrat komersial dengan konsentrat protein limbah peternakan ayam (KPLA) dalam ransum terhadap penampilan itik bali jantan. Penelitian ini menggunakan 90 ekor itik bali jantan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan dan enam ulangan dengan masing-masing ulangan terdiri dari lima ekor itik bali jantan. Perlakuan yang diberikan, yaitu itik bali jantan yang diberikan pakan dengan campuran 25% konsentrat dan ransum tanpa penambahan KPLA sebagai kontrol (P0), itik bali jantan yang diberikan campuran ransum 12,5% konsentrat dan 12,5% KPLA (P1), dan itik bali jantan yang diberikan ransum tanpa konsentrat dan 25% KPLA (P2). Variabel yang diamati meliputi bobot badan awal, bobot akhir, pertambahan bobot badan, konsumsi ransum, dan feed conversion ratio. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggantian konsentrat komersial dengan 25% Konsentrat Protein Limbah Peternakan Ayam (P2) berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot akhir, pertambahan bobot badan dan konsumsi ransum. Sementara itu penggunaan KPLA pada perlakuan P1 dan P2 tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap nilai FCR. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggantian konsentrat komersial dengan 25 % KPLA (P2) dapat meningkatkan performa itik bali.
PENGARUH PENGGANTIAN SEBAGIAN KONSENTRAT KOMERSIAL PROTEIN LIMBAH PETERNAKAN AYAM TERHADAP DIMENSI TUBUH BABI BALI Abi M.; I. N. T. Ariana; N. L. P. Sriyani
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 3 (2025): Vol. 13 No.3(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of partial replacement of commercial concentrates of chicken farm waste protein on the body dimensions of Balinese pigs. This research was conducted on May 22 - July 16, 2023 at the pig farm bukit jimbaran faculty of animal husbandry, Udayana University, South Kuta, Badung Regency Bali. With three treatments and five replications. The first treatment, (Ration A) using 24% CP.152 Concentrate +0% KPLA (control). The second treatment, (Ration B) using 12% CP.152 Concentrate +12% KPLA. The third treatment, (Ration C) using 0% CP.152 Concentrate + 24% KPLA. Data analysis using variance analysis, if there is a significant difference between treatments, then the difference is continued with Duncan multiple range test with the help of SPSS 26. The research variables are body weight gain (BWG), body length of pigs, height of pigs, chest circumference of pigs, hip width of pigs. The results showed that the effect of partial replacement of commercial concentrates of chicken farming waste on the body dimensions of Balinese pigs is the variable of body weight gain (BWG) in treatment B produced the highest average of 28.88 kg. body length of Balinese pigs in treatment A was 52.70 cm, body height of Balinese pigs in treatment A produced the highest average of 45.00 cm, chest circumference of Balinese pigs in treatment A produced the highest average of 69.18 cm, and hip width of Balinese pigs in treatment A reached an average of 18.64 cm. It can be concluded that the effect of partial replacement of commercial concentrate with chicken farm waste did not affect the body dimensions of the pigs in the control group. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggantian sebagian konsentrat komersial protein limbah peternakan ayam terhadap dimensi tubuh babi bali. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 22 mei -16 juli 2023 dikandang babi farm Bukit Jimbaran Fakultas Peternakan, Universitas Udayana Kuta Selatan, Kabupaten Badung Bali. Dengan tiga perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan pertama, (Ransum A) dengan menggunakan 24% Konsentrat CP.152 +0% KPLA (kontrol). Perlakuan kedua, (Ransum B) dengan menggunakan 12% Konsentrat CP.152+12% KPLA. Perlakuan ketiga, (Ransum C) dengan perlakuan 0% Konsentrat CP.152 + 24% KPLA. Analisis data menggunakan sidik ragam, jika terdapat perbedaan yang nyata diantara perlakuan, maka perbedaan dilanjutkan dengan Duncan multiple range test dengan bantuan SPSS 26. Variabel penelitian yaitu pertambahan berat badan (pbb), panjang badan babi bali, tinggi badan babi bali, lingkar dada babi bali, lebar pinggul babi bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh penggantian sebagian konsentrat komersial limbah peternakan ayam terhadap dimensi tubuh babi bali adalah variabel pertambahan berat badan (pbb) pada perlakuan B menghasilkan rataan tertinggi sebesar 28,88 kg. panjang badan babi bali pada perlakuan A sebesar 52,70 cm, tinggi badan babi bali pada perlakuan A mengasilkan rataan tertinggi sebesar 45,00 cm, lingkar dada babi bali pada perlakuan A menghasilkan rataan tertinggi sebesar 69,18 cm, dan lebar pinggul babi bali pada perlakuan A mencapai rataan sebesar 18,64 cm. Maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh penggantian sebagian konsentrat komersial limbah peternakan ayam tidak mempengaruhi dimensi tubuh babi bali pada kelompok kontrol.
PENGARUH EKSTRAK AIR KULIT BUAH PEPAYA (Carica papaya L.) DALAM AIR MINUM TERHADAP KOMPOSISI FISIK KARKAS BROILER I. K. P. A. Ariadi; G. A. M. K. Dewi; I. N. T. Ariana
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No.5(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The ban on the use of Antibiotic Growth Promoters (AGP) due to antibiotic resistance in livestock encourages the search for safe and natural feed additive solutions to maintain broiler productivity, one of which is using papaya peel. Papaya peel water extract is used as a natural feed additive given to broiler drinking water for 35 days of maintenance. This study aims to determine the effect of papaya peel water extract (Carica papaya L.) in drinking water on the physical composition of broiler carcasses. The study was conducted at Sesetan Farm, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University, Denpasar, Bali in February 2025. The study used a Completely Randomized Design (CRD) method with 4 treatments and 5 replications using 80 broilers. The treatments given were drinking water without papaya peel water extract (P0) as a control, drinking water with 4% papaya peel water extract (P1), drinking water with 6% papaya peel water extract (P2), and drinking water with 8% papaya peel water extract (P3). The variables observed included slaughter weight, carcass weight, carcass percentage, meat percentage, bone percentage, and skin and subcutaneous fat percentage. The results showed that the administration of papaya peel water extract at dosage levels of 4%, 6%, and 8% in drinking water on slaughter weight, carcass weight, carcass percentage, meat percentage, bone percentage, and skin and subcutaneous fat percentage of broilers were not significantly different (P>0.05) compared to the control treatment (P0). Based on the results of the study, it was concluded that the administration of papaya peel water extract at dosage levels of 4%, 6%, and 8% in drinking water was not able to significantly improve the physical composition of broiler carcasses. ABSTRAK Pelarangan penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) akibat resistensi antibiotik pada tubuh ternak mendorong untuk mencari solusi feed additive yang aman dan alami untuk tetap menjaga produktivitas broiler, salah satunya menggunakan kulit buah pepaya. Ekstrak air kulit buah pepaya dimanfaatkan sebagai feed additive alami yang diberikan ke dalam air minum broiler selama 35 hari pemeliharaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak air kulit buah pepaya (Carica papaya L.) dalam air minum terhadap komposisi fisik karkas broiler. Penelitian dilaksanakan di Farm Sesetan, Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Denpasar, Bali pada bulan Februari 2025. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan dengan menggunakan 80 ekor broiler. Perlakuan yang diberikan yaitu air minum tanpa ekstrak air kulit buah pepaya (P0) sebagai kontrol, air minum dengan 4% ekstrak air kulit buah pepaya (P1), air minum dengan 6% ekstrak air kulit buah pepaya (P2), dan air minum dengan 8% ekstrak air kulit buah pepaya (P3). Variabel yang diamati meliputi bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, persentase daging, persentase tulang, serta persentase kulit dan lemak subkutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak air kulit buah pepaya pada level dosis 4%, 6%, dan 8% dalam air minum terhadap bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, persentase daging, persentase tulang, serta persentase kulit dan lemak subkutan broiler tidak berbeda nyata (P>0,05) dibandingkan dengan perlakuan kontrol (P0). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian ekstrak air kulit buah pepaya pada level dosis 4%, 6%, dan 8% dalam air minum belum mampu meningkatkan komposisi fisik karkas broiler secara signifikan.