Edwin Tue P. Lejap, Gracianus
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STUDI KASUS TENTANG TINGKAT KEDISIPLINAN SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Lia Bupu, Agnes; Edwin Tue P. Lejap, Gracianus
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 10, No 12 (2025): RISTEKDIK: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING - DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ristekdik.2025.v10i12.1288-1294

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk perilaku disiplin dan ketidakdisiplinan siswa kelas IX, mengidentifikasi faktor yang memengaruhinya, serta mengkaji upaya dan kendala sekolah dalam menegakkan aturan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen terhadap 10 informan yang dipilih secara purposive, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles Huberman yang mencakup reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Temuan menunjukkan bahwa perilaku disiplin tampak melalui kehadiran tepat waktu, kepatuhan seragam, dan ketertiban pengumpulan tugas, sementara pelanggaran masih terjadi berupa keterlambatan, ketidaksesuaian seragam, ketidaktertiban di kelas, dan masalah kebersihan. Faktor internal berupa rendahnya motivasi belajar, kontrol diri yang lemah, serta kebiasaan pribadi, dan faktor eksternal berupa minimnya pengawasan keluarga, pengaruh teman sebaya, serta inkonsistensi penerapan aturan turut membentuk perilaku siswa. Sekolah telah menerapkan langkah preventif, kuratif, dan kerja sama dengan berbagai pihak, namun masih menghadapi hambatan seperti kurangnya dukungan orang tua, ketidaktegasan guru dalam pemberian sanksi, serta keterbatasan pengawasan akibat jumlah siswa yang besar. Secara keseluruhan, disiplin siswa belum terbentuk secara optimal dan membutuhkan komitmen bersama antara sekolah, keluarga, dan siswa melalui penerapan aturan yang konsisten serta pembiasaan positif yang berkelanjutan.
FENOMENA ADAPTASI SOSIAL SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Ina Ose Mudamakin, Yuli; Edwin Tue P. Lejap, Gracianus
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 10, No 12 (2025): RISTEKDIK: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING - DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ristekdik.2025.v10i12.1339-1346

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses adaptasi sosial siswa kelas VII di SMP Negeri 16 Kupang, meliputi bentuk-bentuk adaptasi, faktor-faktor yang memengaruhi, serta hambatan yang muncul selama masa transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama. Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari 10 siswa kelas VII yang dipilih melalui teknik purposive sampling, serta guru BK dan wali kelas sebagai informan pendukung. Data dikumpulkan menggunakan wawancara mendalam, observasi non-partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses adaptasi sosial siswa berlangsung secara bertahap. Pada awal semester, sebagian besar siswa masih pasif dan cenderung mengamati lingkungan baru. Memasuki bulan kedua, siswa mulai menunjukkan perkembangan, seperti berani berkomunikasi, aktif dalam kegiatan kelompok, dan membentuk pertemanan baru. Faktor pendukung utama dalam adaptasi adalah dukungan guru, lingkungan sekolah yang kondusif, serta teman sebaya yang inklusif. Namun demikian, hambatan juga ditemukan, berupa rasa tidak percaya diri, perbedaan latar belakang sosial, serta keberadaan kelompok pertemanan eksklusif yang menghambat interaksi siswa tertentu. Kesimpulannya, adaptasi sosial siswa kelas VII bersifat dinamis dan menunjukkan perkembangan positif seiring meningkatnya interaksi, dukungan guru, serta partisipasi dalam kegiatan sekolah. Upaya sekolah dalam menciptakan lingkungan inklusif terbukti berperan penting dalam memperlancar proses adaptasi.