Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses adaptasi sosial siswa kelas VII di SMP Negeri 16 Kupang, meliputi bentuk-bentuk adaptasi, faktor-faktor yang memengaruhi, serta hambatan yang muncul selama masa transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama. Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari 10 siswa kelas VII yang dipilih melalui teknik purposive sampling, serta guru BK dan wali kelas sebagai informan pendukung. Data dikumpulkan menggunakan wawancara mendalam, observasi non-partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses adaptasi sosial siswa berlangsung secara bertahap. Pada awal semester, sebagian besar siswa masih pasif dan cenderung mengamati lingkungan baru. Memasuki bulan kedua, siswa mulai menunjukkan perkembangan, seperti berani berkomunikasi, aktif dalam kegiatan kelompok, dan membentuk pertemanan baru. Faktor pendukung utama dalam adaptasi adalah dukungan guru, lingkungan sekolah yang kondusif, serta teman sebaya yang inklusif. Namun demikian, hambatan juga ditemukan, berupa rasa tidak percaya diri, perbedaan latar belakang sosial, serta keberadaan kelompok pertemanan eksklusif yang menghambat interaksi siswa tertentu. Kesimpulannya, adaptasi sosial siswa kelas VII bersifat dinamis dan menunjukkan perkembangan positif seiring meningkatnya interaksi, dukungan guru, serta partisipasi dalam kegiatan sekolah. Upaya sekolah dalam menciptakan lingkungan inklusif terbukti berperan penting dalam memperlancar proses adaptasi.