Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

REPRESENTASI DIRI INFLUENCER DALAM MEMBENTUK PERSONAL BRANDING (Studi Kasus Deskriptif Kualitatif Pada Akun TikTok CEO Of Sexy Javanese Accent Natasha Keniraras) Sayyidah Fatimah Azzahra; Prabayanti, Herma Retno
The Commercium Vol 10 No 1 (2026): The Commercium - Januari 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i1.75426

Abstract

Influencer merupakan individu yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi perilaku, opini, dan gaya hidup orang lain melalui media sosial. Di era digital saat ini, media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga wadah untuk membangun personal branding. TikTok menjadi salah satu platform paling populer yang memungkinkan seseorang mengekspresikan diri melalui konten video singkat. Natasha, seorang wanita asal NTB yang dikenal dengan julukan CEO of Sexy Javanese Accent, menjadi contoh nyata dari keberhasilan membangun citra diri melalui media sosial. Ia dikenal karena penggunaan aksen bahasa Jawa medok yang khas dan autentik, yang berhasil menarik perhatian masyarakat luas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan dokumentasi, serta pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Natasha berhasil membangun personal branding yang kuat dengan menerapkan sepuluh prinsip personal branding menurut Rampersad, yaitu keaslian, integritas, konsistensi, spesialisasi, keberbedaan, relevansi, visibilitas, kegigihan, kebaikan, dan kinerja. Keberhasilannya dalam mempertahankan karakter unik, konsistensi dalam membuat konten, serta kemampuannya berinteraksi dengan audiens menjadikannya representasi nyata dari influencer modern yang mampu mengelola citra diri secara efektif di dunia digital.
Potensi dan Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Studi Kasus: Desa Tarumajaya RW 07 RT 02, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung Itmam, Aditya Zhafari Nur; Kartika Sari; Aldy Permana Ramdhani; Aliftiyah Aura Rosyda; Damiyana Permatasari; Dinda Amalia Nurjanah; Mochammad Faizal Alfarizky; Nilam Wulansari; Risma Nur Arifah; Sayyidah Fatimah Azzahra; Sahnaz Ramadhani; Sinta Sukmawati
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Indonesia (JPKMI) Vol. 5 No. 3 (2025): Desember: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Indonesia (JPKMI)
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpkmi.v5i3.8353

Abstract

The Community Service Program (KKN) in Tarumajaya Village, Kertasari District, focused on the use of Family Medicinal Plants (TOGA) as an effort to improve community health independence. Limited access to formal health facilities is the background to the importance of introducing Family Medicinal Plants (TOGA) as an alternative natural treatment. The goal of this program is to increase community knowledge and skills in cultivating and utilizing Family Medicinal Plants (TOGA) for daily health needs. The methods used are education on the benefits and processing of medicinal plants, as well as direct planting practices in the community environment. This activity was attended by 25 residents and succeeded in planting 5 types of plants and 85 polybags consisting of red ginger (Zingiber officinale L.), fig tree (Ficus carica L.), moringa (Moringa oleifera L.), cat's whiskers (Orthosiphon aristatus L.), and aloe vera (Aloe vera L.). The results showed very good community participation and increased understanding, evidenced by the start of independent planting of Family Medicinal Plants (TOGA) in their respective yards. This program has succeeded in increasing public awareness that Family Medicinal Plants (TOGA) are not only useful as a "living pharmacy" for family health care, but also have the potential to improve ecology and develop the local economy in Tarumajaya Village.