Siklus Siklon Senyar yang terjadi pada bulan November 2025 memicu curah hujan ekstrem di wilayah Sumatera Barat dan menyebabkan banjir serta longsor di berbagai kabupaten dan kota. Bencana hidrometeorologi ini tidak hanya menimbulkan dampak fisik dan sosial, tetapi juga mengganggu stabilitas ekonomi daerah melalui terjadinya distorsi pasar. Kerusakan infrastruktur dan terputusnya jalur distribusi menghambat penyaluran bahan bakar minyak (BBM) dan pangan, yang berdampak pada meningkatnya biaya logistik serta lonjakan harga kebutuhan pokok. Kondisi tersebut mencerminkan terjadinya kegagalan pasar akibat ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan serta keterbatasan mekanisme pasar dalam merespons guncangan eksternal akibat bencana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk distorsi pasar pascabencana Siklon Senyar di Sumatera Barat, khususnya pada distribusi BBM dan stabilitas harga pangan, serta mengkaji peran pemerintah dalam mengatasi kegagalan pasar tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi literatur dengan menganalisis data sekunder dari jurnal ilmiah, buku, dan laporan resmi lembaga terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bencana akibat Siklon Senyar menyebabkan kelangkaan BBM dan pangan, meningkatnya biaya distribusi, serta lonjakan harga yang tidak mencerminkan mekanisme pasar yang efisien. Distorsi pasar semakin diperparah oleh perilaku panic buying, praktik penimbunan, dan lemahnya pengawasan pasar dalam situasi darurat. Oleh karena itu, intervensi pemerintah melalui pengendalian harga, operasi pasar, penjaminan distribusi, dan penguatan cadangan pangan daerah menjadi langkah strategis untuk memulihkan stabilitas pasar dan melindungi kesejahteraan masyarakat terdampak.