M. Syahnan
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENELANTARAN NAFKAH DAN PENINGGALAN BEBAN HUTANG KELUARGA KEPADA ISTRI : PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF Syaripudin Latif; Muhammad Iqbal Irham; M. Syahnan
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01 Maret 2026 Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.41924

Abstract

Kewajiban memberikan nafkah keluarga merupakan tanggung jawab utama suami dalam membina rumah tangga, sebagaimana diatur dalam hukum Islam maupun hukum positif. Dalam praktiknya kewajiban ini kadang terabaikan sehingga sering terjadi penelantaran nafkah dan peninggalan beban hutang keluarga kepada istri yang berdampak pada kerugian ekonomi, sosial, dan psikologis istri dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penelantaran nafkah dan tanggung jawab atas hutang keluarga dari perspektif hukum Islam, serta menganalisis perlindungan hukum bagi istri berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan normatif-yuridis dengan teknik studi pustaka, yang menelaah sumber-sumber primer peraturanperundang-undangan, serta sumber sekunder berupa literatur fikih dan jurnal akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penelantaran nafkah merupakan pelanggaran terhadap prinsip qawwamah dalam Islamdan termasuk tindak pidana kekerasan ekonomi sebagaimana diatur dalam UU PKDRT. Adapun hutang keluarga yang ditinggalkan suami menjadi bagian dari harta peninggalan (tirkah) yang wajib diselesaikan sebelum pembagian warisan, bukan otomatis tanggung jawab istri. Dengan demikian, hukum Islam dan hukum nasional sama-sama memberikan perlindungan kepada istri dari bentuk ketidakadilan ekonomi dalam rumah tangga.
THE DILEMMA OF SINGLE WOMEN: THE CONCEPT OF KAFÄ€'AH IN ISLAMIC JURISPRUDENCE AND THE COMPILATION OF ISLAMIC LAW Ulfa Safira Soliha; M. Syahnan; Muhammad Iqbal Irham
Journal Analytica Islamica Vol 15, No 1 (2026): ANALYTICA ISLAMICA
Publisher : Program Pascasarjana UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jai.v14i3.27711

Abstract

The modern world, which provides women with the freedom to pursue the highest possible education, can also have negative impacts on them. Modern women with higher education often face challenges in finding partners due to the concept of equality (kafaah). This study aims to analyze the concept of kafaah in Islamic jurisprudence (Fiqh) and the Compilation of Islamic Law and its relevance to the phenomenon of highly educated women remaining single for extended periods. This study employed a qualitative method with a library research approach, analyzing various literature such as fiqh books, scientific journals, and laws and regulations. The results show that in Islamic law, kafaah is not a requirement for a valid marriage, but rather a social consideration to maintain household harmony, with the primary benchmarks being religious and moral aspects. Differences in social, economic, or educational status cannot be used as a reason to hinder marriage. However, in social reality, the understanding of kafaah often shifts in meaning due to patriarchal culture and materialistic perceptions, so that highly educated women are often considered difficult to find a "comparable" partner. Meanwhile, Indonesian positive law, through the 1945 Constitution, Law No. 1 of 1974 concerning Marriage, and the Compilation of Islamic Law, guarantees protection for women's right to choose their life partner without discrimination. Thus, both Islamic law and positive law emphasize that equality in marriage should be based on moral and spiritual values, not social status or educational level.