Masa transisi menuju dewasa awal (emerging adulthood) merupakan fase perkembangan yang penuh dinamika danketidakpastian. Pada tahap ini, individu berhadapan dengan berbagai tuntutan hidup seperti pencarian identitas diri, kemandirian finansial, serta kebutuhan untuk mencapai kestabilan emosional. Situasi tersebut sering kali memunculkan fenomena Quarter-Life Crisis (QLC), yaitu periode ketika seseorang mengalami kebingungan,kecemasan, hingga krisis makna hidup. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana dukungan sosial berperan dalammembentuk resiliensi pada individu yang pernah mengalami QLC, khususnya melalui makna subjektif serta strategi adaptasi yang mereka bangun selama menghadapi tekanan psikologis. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi interpretatif (Interpretative Phenomenological Analysis/IPA) dan paradigma konstruktivisme. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan lima partisipan dewasa awal yang memiliki pengalaman QLC, kemudian dianalisis secara tematik untuk mengungkap dinamika pengalaman pribadi setiap informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial merupakan faktor penting dalam proses pemulihan.Dukungan keluarga memberi rasa aman dan penerimaan emosional, sementara teman dan pasangan menyediakan ruang untuk bercerita, validasi, serta motivasi. Bagi individu yang kehilangan figur orang tua, hadirnya dukunganpengganti keluarga menjadi sumber kekuatan emosional yang signifikan. Dukungan sosial tidak hanya berfungsi sebagai bantuan eksternal, tetapi juga menjadi sarana refleksi bagi individu untuk mengubah pengalaman sulit menjadi pembelajaran bermakna. Penelitian ini menegaskan bahwa resiliensi bukanlah sifat bawaan, melainkan proses dinamishasil interaksi antara faktor internal dan lingkungan sosial. Temuan ini memberikan implikasi bagi pengembanganprogram pendampingan psikososial yang lebih sensitif terhadap kebutuhan generasi muda dalam menghadapi transisi menuju dewasa awal.