Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EFEKTIVITAS DAUN JAMBU BIJI SEBAGAI TERAPI KOMPLEMENTER DALAM MENURUNKAN FREKUENSI DIARE PADA ANAK DAN BALITA : LITERATUR REVIEW Zainal Azis Mustaqim; Miftahul Falah
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 12 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Desember
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/7f17de22

Abstract

Diare pada anak adalah keadaan meningkatnya frekuensi buang air besar dengan konsistensi cair lebih dari tiga kali per hari, yang berpotensi menyebabkan dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit, serta berbagai komplikasi lain sehingga memerlukan penatalaksanaan yang tepat. Selain terapi standar seperti oralit dan zinc, diperlukan terapi tambahan yang aman dan mudah diakses, salah satunya daun jambu biji (Psidium guajava L.) yang mengandung tanin, flavonoid, minyak atsiri, dan alkaloid dengan efek antibakteri serta mampu menurunkan motilitas usus. Penelitian ini merupakan tinjauan literatur yang bertujuan mengevaluasi efektivitas daun jambu biji dalam menurunkan frekuensi diare pada anak, berdasarkan penelusuran artikel melalui Google Scholar periode 2022–2025. Dari 3.020 artikel yang teridentifikasi, 47 masuk tahap kelayakan dan 5 memenuhi kriteria inklusi berupa desain pre-eksperimental, quasi-eksperimen, retrospektif, dan uji klinis pada anak usia 1–12 tahun dengan intervensi ekstrak, sari, atau rebusan daun jambu biji. Hasil seluruh studi menunjukkan penurunan signifikan frekuensi diare dalam 1–3 hari, seperti penurunan dari 10,50 menjadi 6,97 di Sibolangit dan dari 10,40 menjadi 6,87 di Aceh Besar, serta perbaikan kategori diare di Bekasi dan hasil signifikan pada RCT Padang (p<0,05). Meskipun demikian, derajat dehidrasi tidak berubah secara signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa daun jambu biji berpotensi sebagai terapi komplementer, namun penelitian dengan desain terkontrol dan sampel lebih besar masih diperlukan untuk menentukan dosis optimal dan efektivitas jangka panjang.
EFEKTIVITAS MANAJEMEN CAIRAN PADA PASIEN ACUTE KIDNEY INJURY BERDASARKAN EVIDENCE-BASED PRACTICE: LITERATUR REVIEW Zainal Azis Mustaqim; Alfia Khoirunnisa; Sopi Cahyani; Ida Rosidawati; Hana Ariyani
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 4 No. 1 (2026): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Januari
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/h7jf6k20

Abstract

Gagal ginjal akut (acute kidney injury/AKI) merupakan kondisi klinis serius dengan angka kejadian lebih dari 50% pada pasien kritis yang ditandai oleh penurunan fungsi ginjal secara mendadak akibat berbagai penyebab patofisiologis. Manajemen cairan yang tepat menjadi krusial dalam penatalaksanaan AKI, namun strategi pemberian cairan masih menimbulkan perdebatan mengingat pemberian cairan yang tidak tepat dapat memperburuk kondisi pasien. Studi ini merupakan literatur review yang bertujuan mengevaluasi efektivitas strategi manajemen cairan berbasis bukti untuk meminimalkan risiko kejadian dan perburukan AKI melalui analisis lima jurnal ilmiah terkini. Melalui metode PRISMA dengan kerangka PICO, penelusuran dilakukan pada database Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect menggunakan kata kunci terkait manajemen cairan dan AKI pada populasi pascaoperasi jantung, hemodialisis, syok septik, dan perawatan intensif periode 2016-2022. Hasil sintesis menunjukkan bahwa pendekatan manajemen cairan individual berdasarkan penilaian fluid responsiveness dan fluid tolerance lebih efektif dibandingkan strategi pemberian cairan konvensional. Penggunaan larutan kristaloid seimbang seperti Ringer Laktat mengurangi risiko AKI dibandingkan normal saline, sementara strategi restriktif setelah fase resusitasi awal mengurangi kebutuhan terapi pengganti ginjal (13% vs 30%) dan efek samping. Intervensi berbasis evidence-based practice pada pasien hemodialisis efektif menurunkan interdialytic weight gain (IDWG) >3,5% dari 20% menjadi 6%. Meskipun strategi resusitasi terstruktur tidak mencegah terjadinya AKI pada syok septik, pendekatan "less is more" dalam manajemen cairan pasca-resusitasi menunjukkan manfaat signifikan dalam mempercepat pemulihan fungsi ginjal. Temuan ini menegaskan perlunya pergeseran paradigma dari manajemen cairan pasif berbasis kebiasaan menjadi pendekatan aktif, individualized, dan berbasis bukti dengan keterlibatan multidisiplin untuk mengoptimalkan outcome ginjal pada pasien kritis dengan AKI.