Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan statistika deskriptif dalam menganalisis dan membandingkan pola pemakaian listrik pada beberapa kelompok pelanggan berdasarkan daya terpasang dan jenis layanan. Data yang digunakan merupakan data sekunder berupa catatan pemakaian atau pembelian listrik bulanan dari tiga kelompok pelanggan, yaitu rumah tangga prabayar dengan daya 900 VA, rumah tangga pascabayar dengan daya 450 VA, serta pelanggan bisnis pascabayar dengan daya 1,30 KVA. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif komparatif. Analisis data dilakukan menggunakan ukuran pemusatan data, meliputi rata-rata (mean) dan median, serta ukuran penyebaran data, yaitu rentang (range) dan simpangan baku (standard deviation). Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan pola pemakaian listrik yang cukup signifikan antar kelompok pelanggan. Rumah tangga dengan daya 900 VA memiliki rata-rata pemakaian listrik sebesar 99,64 kWh, sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan rumah tangga dengan daya 450 VA yang memiliki rata-rata pemakaian sebesar 31,5 kWh. Selain itu, kelompok 900 VA juga menunjukkan tingkat variasi pemakaian yang lebih tinggi, yang ditunjukkan oleh nilai simpangan baku sebesar 37,99 kWh, dibandingkan kelompok 450 VA sebesar 21,90 kWh. Sementara itu, pelanggan bisnis dengan daya 1,30 KVA mencatat pemakaian listrik tertinggi, yaitu sebesar 173 kWh. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa statistika deskriptif efektif digunakan untuk menggambarkan perbedaan tingkat konsumsi dan variabilitas pemakaian listrik antar kelompok pelanggan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar awal dalam perumusan kebijakan efisiensi energi dan pengelolaan pemakaian listrik yang lebih tepat sasaran. Pentingnya pemahaman pola pemakaian listrik berdasarkan segmentasi pelanggan menjadi semakin relevan di era transisi energi dan meningkatnya kebutuhan akan efisiensi. Dengan mengetahui karakteristik konsumsi masing-masing kelompok pelanggan, penyedia layanan kelistrikan dapat lebih tepat dalam menyusun strategi distribusi, menetapkan kebijakan tarif progresif, serta mengembangkan program edukasi energi yang sesuai dengan kebutuhan dan perilaku pengguna. Selain itu, hasil dari analisis deskriptif ini juga membuka peluang untuk pengembangan model prediksi konsumsi listrik di masa mendatang, khususnya dalam konteks smart grid dan digitalisasi sektor energi. Di samping itu, perbedaan jenis layanan, yaitu prabayar dan pascabayar, juga menjadi faktor penting yang patut diperhatikan dalam analisis pola konsumsi listrik. Sistem prabayar sering kali diasosiasikan dengan kontrol penggunaan yang lebih fleksibel, namun pada kenyataannya justru dapat mendorong penggunaan yang lebih tinggi karena pengguna cenderung tidak memantau konsumsi secara rutin setelah pengisian token. Sebaliknya, sistem pascabayar yang menagih berdasarkan jumlah konsumsi akhir bulan dapat membuat pelanggan lebih berhati-hati dalam menggunakan energi karena mereka menyadari bahwa pemakaian yang tinggi akan berdampak langsung pada biaya. Hal ini menunjukkan bahwa desain sistem pembayaran memiliki pengaruh terhadap perilaku pengguna dan berpotensi menjadi alat manajemen permintaan energi jika dikelola dengan tepat. Dari perspektif teknis, perbedaan variasi dalam simpangan baku dan rentang antar kelompok pelanggan juga mencerminkan tingkat kestabilan konsumsi energi yang berbeda. Variasi yang tinggi menunjukkan adanya fluktuasi pemakaian yang signifikan, yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti musim, perubahan jumlah penghuni, atau penggunaan alat elektronik tertentu. Informasi ini berguna bagi penyedia energi untuk memperkirakan beban puncak dan merancang kapasitas suplai secara lebih efisien. Di sisi lain, kelompok dengan variasi rendah cenderung lebih stabil dan dapat diprediksi, sehingga lebih mudah untuk disesuaikan dengan sistem distribusi energi yang terjadwal. Akhirnya, penelitian ini menegaskan pentingnya pemanfaatan data historis konsumsi sebagai sumber informasi strategis. Dengan analisis yang tepat, data pemakaian listrik tidak hanya menjadi catatan administratif, tetapi juga aset penting untuk perencanaan energi nasional. Dalam jangka panjang, pendekatan berbasis data seperti ini mendukung transformasi sistem kelistrikan menuju model yang lebih adaptif, responsif, dan berkelanjutan. Penelitian ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mendorong pemanfaatan analisis statistik dalam sektor energi, serta menjadi inspirasi bagi penelitian lanjutan dengan cakupan data dan metode yang lebih luas.