Artikel ini akan menguraikan tentang bagaimana memahami dan “menjadi” Korea lewat film. Pertanyaan dasar yang muncul yang menjadi landasan penelitian ini adalah apakah untuk menjadi benar-benar Korea, seseorang harus dapat berbicara bahasa Korea dan mewujudkan nilai- nilai, adat istiadat, serta pola pikir masyarakat Korea? Pertanyaan itu didasari oleh pandangan tentang kecintaan orang Korea pada identitas inilah yang memengaruhi cara pandang mereka terhadap orang yang berbeda ras, suku, agama, dan budaya. Pada penelitian kali ini penulis ingin melihat bagaimana persoalan identitas masyarakat Korea ditampilkan dalam film The Beauty Inside yang dirilis pada 2015 dan serial TV dengan judul yang sama yang ditayangkan pada 2018. Penelitian terhadap film ini sebelumnya pernah dilakukan oleh Ariesva Retno Putri (2018), namun ia hanya melihat respons tokoh lain terhadap perubahan yang dialami tokoh utama. Pada penelitian ini penulis ingin melihat bagaimana persoalan identitas ditampilkan pada tokoh utama dalam film dan serial TV The Beauty Inside, serta bagaimana perubahan tokoh utama dari laki- laki ke perempuan mempengaruhi pemaknaan ideologi teks dalam cerita. Karena berasal dari dua jenis media yang berbeda, yaitu film dan serial TV, penulis akan menggunakan “pisau bedah” yang sesuai dengan masing-masing karya untuk melihat perubahan yang ada di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan identitas tokoh utama dalam film dan serial TV The Beauty Inside digambarkan berbeda pada kedua media. Pada versi film tokoh utama adalah seorang laki-laki yang berubah fisik setiap hari (kehilangan identitas asli), sedangkan pada versi serial TV tokoh utama digambarkan sebagai perempuan yang berubah fisiknya secara rutin setiap bulan (masih memiliki identitas asli). Perubahan jenis kelamin dan perbedaan penggambaran pada tokoh utama memunculkan adanya ideologi teks yang berbeda. Film The Beauty Inside membawa nilai-nilai multikulturalisme, sedangkan serial TV The Beauty Inside membawa ideologi gender. FilmThe Beauty Inside seolah ingin menolak pandangan masyarakat Korea yang masih mendefinisikan identitas sebagai hasil keturunan dan budaya, sedangkan serial TV The Beauty Inside ingin menyuarakan kesetaraan gender bagi para perempuan dengan menolak dominasi patriarki. This article will explore how to understand and “become” Korean through film. The fundamental question that emerges, which forms the basis of this research, is whether to truly be Korean, one must be able to speak Korean and embody Korean values, customs, and mindsets. This question is based on the view that Koreans' love of identity influences their perspectives on people of different races, ethnicities, religions, and cultures. In this study, the author wants to examine how the issue of Korean identity is portrayed in the film The Beauty Inside, released in 2015, and the TV series of the same name, broadcast in 2018. Previous research on this film was conducted by Ariesva Retno Putri (2018), but she only examined the responses of other characters to the changes experienced by the main character. In this study, the author wants to examine how the issue of identity is portrayed by the main character in the film and TV series The Beauty Inside, and how the main character's transformation—from male to female—influences the interpretation of the text's ideology in the story. Because they originate from two different media, namely film and TV series, the author will use a "scalpel" appropriate to each work to examine the changes within them. The results of the study indicate that the identity changes of the main characters in the film and TV series "The Beauty Inside" are depicted differently in both media. In the film version, the main character is a man who physically changes every day (losing his original identity), while in the TV series version, the main character is depicted as a woman who physically changes regularly every month (retaining her original identity). The gender changes and differences in the depictions of the main characters give rise to different textual ideologies. The film "The Beauty Inside" promotes multiculturalism, while the TV series "The Beauty Inside" promotes gender ideology. The film "The Beauty Inside" appears to reject the view of Korean society that still defines identity as a result of heredity and culture, while the TV series "The Beauty Inside" advocates gender equality for women by rejecting patriarchal domination.